FF My Mind [ Chapter 10 ]



Di chapter terakhir ini, adakah yang masih berniat mengunjungi dan membacanya?Menyelipkan komen, kritik, dan sarannya? Huhuhuh… waktu berlalu dengan cepat, akhirnya chapter X sudah menyapa kita semua guys… Bagaimanakah endingnya nanti? Check it out !!!J

Title           :  My Mind
          Author        : Muthmainnah
          Cast            : Kim Jong In (EXO), Kim Soo Jin (OC), Lee Hye Ri (OC), Soo Yoo Ra (OC), Kang Minhyuk (CNBlue)
          Genre                    : School life, family life, romance, friendship, sad (?)
          Length        :  Chaptered.

My Mind


Chapter X ~Last Chapter~
Cukup melelahkan.Tiap mata kini mengintai langkah gontainya meninggalkan lokasi acara. Tentu saja! Kata-katanya tadi cukup menyita perhatian setiap makhluk yang ada di dalam acara kompetisi itu.Ia hanya mampu menyembunyikan pandangannya dari setiap tatapan orang-orang yang melihatnya. Entah meledek, tersentuh, penasaran, atau hal apa yang membuat mereka begitu jeli melihat Kai dalam langkah gontai mereka.
“Chukkhae!”
Seseorang dengan kuat menepuk pundaknya hingga Ia berbalik mengumbar senyum.
“Gomawo.”
“___”
“Aaaaa, Yoo Ra-ah, aku akan traktir kamu. Kaja!” Seru Kai.
“Kyaaa yaaayayayayayaa…..”
Kai dan Yoo Ra seketika berbalik.Teguran seseorang menghentikan langkah keduanya.
“Kamu akan pergi tanpa mengajak kami?” Ujar Kang Minhyuk yang di sampingnya sudah berdiri dengan manis sosok Lee Hye Ri.
“Nado.”Kim Soo Jin pun nampak dari balik punggung Kang Minhyuk yang baru saja keluar dari arena panggung.
Kang Minhyuk dan Hye Ri pun berbalik kea rah suara.
“Eoh, eonni!” Tegur Hye Ri, namun hanya mendapat senyum acuh dari Soo Jin.
“Geurae, geurae. Arasseo, kaja, kaja…” Kai menengahi suasana yang mungkin agak tidak baik antara Hye Ri dan Kim Soo Jin. Sejurus kemudian Kai merangkul Kang Minhyuk untuk berjalan bersamanya menuju restaurant, sementara itu Yoo Ra, Hye Ri dan Soo Jin berjalan sendirian di jajaran yang sama.
Di sisi lain, dari balik pintu masuk Nyonya Kim tersenyum sedu melihat keceriaan Kai bersama dengan Soo Jin dan kawan-kawannya. Andai saja, Ia bisa berada di tengah-tengah kebahagiaan Kai hari ini, tapi apa daya, hanya tumpukan sesal yang saat ini menghujani hatinya.
“Chukkhae, uri Jong In.”Gumamnya.
____!!!!_____
Kai, Soo Jin, Hye Ri, Yoo Ra dan Kang Minhyuk sudah berada di sebuah restaurtant. Ada inci kebahagiaan yang tergores diwajah mereka.Canda tawa pun tak lepas dari semua makhluk ini, satu per satu cerita lama akhirnya kembali terkuak.
Kisah antara Kai dan Hye Ri. Ada tingkah kikuk pada Hye Ri dan Kai, meskipun sebenarnya Kai tidak mengingat apa-apa tentang mereka berdua. Tapi lihatlah, bagaimana wajah tan itu memerah, terlebih lagi dengan Hye Ri yang cukup antusias menutupi wajah canggungnya. Sementara itu, Yoo Ra hanya mampu menelan salivanya.Cemburu? Yaaa, itu yang dirasainya sejak Hye Ri dan Kai mulai dekat. Gemuruh-gemuruh tak suka kian mengetuk hatinya.Tapi, masih ada segelintir kekuatan untuknya bertahan. Cukup menguatkan dirinya, ketika senyum itu bergulir di wajah sang sahabat. Biar saja sakit itu tertahan, perlahan pun kan memudar seiring berjalannya waktu. Ia cukup kuat untuk itu, berlindung di antara dua hati, senyum yang mungkin cukup untuk menutupi luka hatinya.
Begitu pun Kang Minhyuk. Sahabat yang sudah tiga tahun menemani Hye Ri dalam suka dan duka, kini hanya mampu menggenggam erat kepalan tangannya. Kisah kasih yang begitu mampu membuat koyak perasaannya.Sama halnya seperti Yoo Ra, Ia pun mencoba untuk ‘cukup’ kuat dalam hal ini. Perjalanan yang cukup panjang Ia jalani bersama Hye Ri, menjadi tempat sandaran penguat bagi Hye Ri dalam kelengahan. Masih ada sisa senyum yang terbias di wajah kedua sahabat yang hanya mampu menelan ketegaran mereka, ikhlas ataupun tidak.
Kisah lainnya, berukir tema tentang kehidupan Kai dan Soo Jin sepeninggal mereka ke China.Bagaimana awal kejadian mereka menjadi orang asing di negeri tirai bambu itu.Menjalani aktivitas tanpa kehadiran ayah dan ibu mereka.Menyeberangi tiap goresan baru dalam dunia yang ingin mereka tempuh.Sampai saat kecelakaan yang akhirnya merenggut ingatan Kai. Melewati masa-masa tak sanggup dalam pembaringan yang hanya dihiasi oleh infuse dan bau obat-obatan rumah sakit. Tanpa tahu apa yang terjadi, dalam ingatan sosok Kai hanya terlintas dirinya dan Kim Soo jin, Noonanya.
Keputusan untuk tidak menceritakan kejadian ini kepada Ayah dan Ibunya memang sudah dipikirkan matang-matang oleh Soo Jin. Kehidupan, yang ingin Ia mulai bersama adiknya, tanpa secuil pun kenangan dan memori yang Soo Jin ceritakan kepada Kai. Semua hanya menjadi rekaman tersembunyi dalam hatinya, bahkan ketika rindu itu berkecamuk untuk bertatap muka dengan dua orang yang amat sangat dicintainya.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukan mereka dengan keluarga Tn. Soo.Semua memang bermula dari kecelakaan mobil yang menimpa Kai. Di salah satu rumah sakit di Beijing, Kai dihadapi oleh seorang dokter professional, Ny. Soo. Yang pada akhirnya, membawa kedekatan antara Kai dan Yoo Ra, anak dari Ny. Soo yang setiap saat ikut pula mengunjungi pasien-pasien Ibunya, termasuk Kai.
Keluarga kecil yang akhirnya terbentuk beberapa bulan itu. Hidup di atap yang sama ketika Ny. Soo dan Tn. Soo memutuskan untuk memberi tumpangan di rumahnya pada Kai dan Soo Jin.Tidak cukup lama bagi mereka untuk bersama, hanya beberapa bulan, hingga akhirnya Kai dan Soo Jin memutuskan untuk kembali ke Korea.Tapi, hubungan mereka tidak sekejap mata berlalu seperti angin belaka. Masih sama seperti sebelumnya, karena Yoo Ra dan Ny.Soo memang sejak awal sudah sering bolak–balik Korea-China untuk penugasan Ny. Soo.Hingga ketika di Korea, Yoo Ra lebih banyak menghabiskan waktu dengan Kai dan Soo Jin, dari pada menemani eommanya bertugas di RS.
Menjadi tempat curhat Kai, tempat Kai bersandar dalam sakitnya, tempat Kai mengoceh ini itu. Yoo ra tidak akan merasa terbebani akan hal itu. Karena baginya, menjadi yang bisa Kai percaya, adalah sesuatu yang cukup berarti buatnya.Tiga tahun menjadi keluarga kecil dan menjalin persahabatan yang kuat tidak cukup bagi Yoo Ra untuk sekedar menyapu hatinya dengan kepedulian sebagai seorang sahabat.Lambat laun, hati yang terus kosong itu, berdiri di tengah lautan yang setiap hari menyirami benih-benih pertemanan itu hingga akhirnya berbuah ‘suka’.
Lihat saja, bagaimana sekarang wajahnya merah merona ketika ledekan-ledekan itu terlontar dari bibir Kim Soo Jin.Rasa bahagia pun menceruat, saat mereka bernostalgia dengan lukisan-lukisan lama mereka. Entah Soo Jin, Kai, Yoo Ra, Hye Ri atau Minhyuk, semua berbaur dalam rasa bahagia. Mungkin saja terselip duka, terlebih ketika Kai mendengar cerita tentang ayah dan ibunya.Ataupun Yoo Ra dan Minhyuk, yang sempat mengobarkan bendera cemburu di tengah perbincangan mereka.Kendati demikian, secuil rasa-rasa tak enak itu tentu terbayarkan oleh kehebohan mereka sendiri.Cerita demi cerita terukir dari lisan mereka. Hingga rekaman keabadian berupa sejarah di hari ini menjadi momen yang bukan sekedar ‘story’, tetapi menjadi sebuah ‘history’.
____!!!!!____
Kai Nampak sibuk di dalam kamarnya.Ada sebuah koper merah mungil yang tergeletak bebas di lantai kamarnya.Satu persatu pakaian rapihnya tertata di dalam koper itu.Ia pun sudah rapih dengan baju kaos putih dengan gambar mickey mouse menghiasi bagian depan bajunya, dipadu celana santai selutut, dengan tatanan rambut blonde berjambul.
Usai packing, Ia pun berhambur ke luar kamar menuju lantai bawah. Di sana, sudah ada dua buah bola mata yang dengan jeli memandangi langkahnya.
“Kyaaa, kita mau kemana Kai?”Sungut Soo Jin ketika Kai sudah tepat berada di sampingnya.
“Jalan-jalan noona. This is time to holiday. Let’s have fun. Kaja!”Seru Jong In yang hanya menerima gumaman bingung Soo Jin.
Keduanya pun menaiki taksi yang sudah menunggu di depan rumah mereka. Suasana alam Seoul semakin terasa dalam hamparan manik hitamnya. Dari balik jendela mobil, yang membawa mereka meninggalkan kepenatan di kota Seoul.
Tak berapa mereka pun tiba di tempat tujuan.Angin lembut seketika menyapu wajah lusuh mereka yang sedikit kusut melewati perjalanan yang cukup jauh.Deburan-deburan ombak menghiasi pendengaran mereka, pasir putih dengan halus menyatu dengan kulit keduanya. Suasana di depan sana sangat mencuri perhatian mereka. Surai yang berniaga itu pun bergoyang mengikuti irama angin yang amat membuat suasana hati mereka damai dan tenang.
Penuh ketenangan.Soo Jin dan Kai Nampak tengah menelentangkan tangan mereka, menutup kedua mata dan membiarkan hamparan angin memeluk tubuh yang lunglai berikut perasaan yang lelah itu.
“Gomawo Jong In-ah.” Teriak Soo Jin.
Kai hanya tersenyum simpul dan tetap menikmati angin berat menusuk tubuh kurusnya –Jong In kurus? Masa!—, hingga surainya turut mengudara dengan kencangnya.
“Oppaaaaaaaaa!!!!!!”
Jeritan seorang yeoja mengagetkan keduanya.Soo Yoo Ra kini menghiasi pandangannya.
“Wasseo?” Teriak Kai.
“Eoh.”
“Kyaaa, kamu mengajak adik kecil kamu itu? Aisssh…” Ledek Soo jin tersenyum.
Pandangan keduanya kembali beralih ke sisi lain. Di depan sana, ada Hye Ri, Kang Minhyuk, dan wanita tua yang turut pula mengumbar senyum simpul pada Kai dan Soo Jin. Kai pun menyambut hangat senyum wanita yang selama ini Ia tunggu-tunggu dalam hidupnya.
Kai langsung melangkah pasti mendekati langkah Ny. Kim, dan sesegera pula Ia berhambur dalam pelukan Ibunya.
Soo Jin hanya mengalihkan pandangannya ke layar laut. Hubungan antara Soo Jin dan Ny. Kim memang belum sepenuhnya membaik. Soo Jin masih terus dibayang-bayangi kekecewaan terhadap eomma dan appanya, meskipun ada buih kerinduan yang menyapa hati kecilnya..
“Kai POV”
Geurae. Aku ingin berada lebih lama dalam pelukanmu, eomma! Lebih erat dan lebih lama dari yang aku bisa.Tak peduli seberapa keras hidup yang aku jalani ketika bersamamu dan appa beberapa tahun yang lalu saat ingatanku masih penuh dengan kehidupan kita.Aku bisa merasakan kerinduan itu eomma, dalam pelukanmu, aku bisa merasakannya.Rasa rindu yang selama ini hanya menggantung dalam anganku semata, tanpa tahu bagaimana aku bisa merindukan sosok yang tidak aku ketahui.Hanya keinginan untuk merindukanmu, dan sekarang, aku sudah jatuh dalam kerinduan yang nyata.
Bagaimana aku bisa menahan rintihan air mata ini, sementara hatiku benar-benar dalam keadaan yang begitu gemetar melihatmu. Tiga tahun menjelajah dalam pandangan kosong tentang keluargaku, dan sekarang Anda benar-benar sudah hadir di depan mataku. Beningan murni yang terjatuh ini, adalah cintaku, tersiram lembut hingga tak peduli pada semua yang pernah terjadi.Aku memaafkanmu, dan kuharap eomma pun memaafkanku. Sekarang eomma adalah ibu dari Kai yang akan memulai dunia danceryang sesungguhnya mulai sekarang, dan ibu dari Soo Jin si penulis. Bukan lagi ibu dari Kim Jong In si calon pebisnis, dan Soo Jin si pebisnis yang gagal. Ini adalah awal baru, keluarga yang akan aku jaga, mulai sekarang. Biarkan kita hijrah dari masa lalu itu, dan berdiri tegar di sini, mengikat rasa demi rasa, inci demi inci kehidupan, masa demi masa yang akan datang, seperti gemuruh ombak yang terus bersuara dalam heningnya lautan. Eomma, Bogoshippeo! –L--
____!!!____
“Author POV”
Usai menghabiskan waktu dengan Ny. Kim, Kai berjalan menuju pinggir laut, berbaur dengan pasir putih. Di sana Ia temukan Soo Jin tengah berdiri memandang kosong pada lautan.
“Noona!”
“____”
“Semua memang tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk memulihkan semuanya. Tapi justru karena itu, kita harus berbuat sekarang untuk berubah, daripada menunggu nanti,saat waktu sudah berhenti.”
Soo Jin hanya menarik napasnya pelan mendengarkan Kai begitu bijak menasehatinya. Soo jin pun ingin kembali, tapi masih ada puing kecewa dan sakit yang tersisa. Sakit yang lebih dalam dirasakan dari pada apa yang Kai rasakan dulu.
“Ini semua rencana kamu?” Ujar Soo Jin.
“Ne?”
“Kamu membawa noona berlibur dan mengajak mereka semua, termasuk eomma?”
“Hye Ri bilang kalau dia bertemu eomma. Jadi aku memintanya untuk mengikut sertakannya di liburan kali ini.Ternyata eomma secantik Noona.”
Kai mengumbar senyum simpulnya, dari balik kacamata hitamnya itu matanya pun ikut tersenyum gemulai.
“Caraesseo!”Seru Soo Jin menyinggung.
“Semua akan baik-baik saja,Noona. Noona hanya perlu melihat ke depan, berdiri lebih tegap, dan menulis cerita baru. Eoh?”
Bisu. Kai menatap noonanya yang masih sibuk memandangi lautan di depan sana, di balik hati yang cukup mengerti maksud Kai.
“Apa Noona tidak merindukan Appa? Akuu belum pernah melihatnya, tapi dia sudah pergi lebih dulu meninggalkan kita.”
“____”
“Kenapa Noona tidak cerita?”
“Mianhae.” Sahut Soo jin.
“Setelah liburan, aku mau Noona, aku, dan Eomma tinggal bersama. Tidak hidup sendiri-sendiri. aku ingin menghabiskan waktu yang terbatas ini bersama keluargaku, Noona. Sudah cukup aku kehilangan Ayah tanpa pernah aku tahu dia.”
“_____”
____!!!!!____
Wanita tua itu duduk dengan menikmati tiap hembusan angin yang mengudarakan surai hitamnya.
“Anda tidak dingin?”
Seseorang menegurnya, membuatnya menoleh kea rah suara. Di sana, didapatinya Soo Jin tengah berjalan pelan menghampirinya.
“____” Ny. Kim hanya tersenyum.
“Sudah lama sejak kita tidak ke laut.Ini suasana baru.” Tambah Soo Jin ketika Ia sudah duduk di samping Ny. Kim.
“Geurae.Suasana baru, tanpa Ayahmu.” Jawab Ny. Kim sendu.
“___”
“___”
“Eomma! Appa terus bersama kita, dia melihat kita dari atas sana. Keluarga yang selama ini mungkin dia rindukan, kembali bertaut di atas pasir putih ini.”
“Geurae!Ayahmu benar-benar merindukan kalian.Hanya ada segudang penyesaslan sejak kalian memutuskan untuk hidup sendiri tanpa kami.Ia tidak bisa lagi focus mengelola perusahaan, sampai-sampai perusahaan bangkrut. Ayahmu kena serangan jantung, dan meninggal.” Tutur Ny. Kim.
“Eomma!Mianhae.”Sahut Soo Jin seketika.Ia pun memeluk Ny. Kim erat.Ada air mata yang menyelinap antara keduanya, rasa haru dan senang bercampur aduk di dalam hati mereka.
“Bogoshippeo. . .Eomma!”Lanjut Soo Jin terisak.
____!!!!____
Sementara itu, di bagian lain di pinggir laut biru itu, Hye Ri dan Yoo Ra tengah terhanyut dalam obrolan.
“Ini menyenangkan!” Seru Hye Ri.
“Emh.Naneun neomu chohayo!”Sahut Yoo Ra.
“Nugu?Kai?”
“Aniyo.Maksud aku suasana lautnya Hye Ri-ssi.”
“Arra, kamu suka suasana laut ini, dan juga Kai, geucchi?”
“Mwoya?Anirannikka!”
“Kojitmal.Tiga tahun jadi sahabat sosok Kai, mana mungkin kamu tidak menyukainya.”
“Wae?Apa kamu tidak butuh waktu selama itu untuk kembali menyukainya?”
“Yoo Ra-ah.Aku tidak menyukainya lagi.Perasaan yang pernah kuartikan suka beberapa minggu terakhir ini, aku pikir hanya kekagetan semata, lantaran kembali bertemu dengannya yang sudah menghilang selama tiga tahun.” Tutur Hye Ri.
“Geuraeyo?”
“Lalu, apa kamu menyukainya?”
Yoo Ra terdiam sejenak, memberi ruang untuk napasnya berhembus lebih panjang untuk menjawabnya.
“Menjadi tempatnya bersandar, pendengarnya saat suka dan duka, penasehatnya di setiap ceritanya, pembimbingnya untuk lebih dewasa.Berjalan dengan waktu yang cukup lama, tertawa untuk hal yang begitu indah, lalu bagaimana mungkin perasaan itu tidak tumbuh, emh? Tapi sejauh ini, aku seperti orang yang seakan mengerti apa itu cinta, aku seperti orang yang sudah dewasa yang merasa Sakit dan terluka saat Kai sama kamu. Saat Kai lagi dan lagi memanggilku’adik kecil’, aku seperti orang yang benar-benar tidak punya hak dan kesempatan untuk berada di sisi hati Kai yang kosong itu.”
“____”
“Geundae, aku jauh lebih yakin, menjadi sosok yang bisa Kai percaya, adalah sesuatu yang amat berarti buat aku.Kepercayaan yang begitu mahal, tapi bisa aku dapatkan dari Kai. Itu sudah lebih dari cukup, ketimbang rasa sakit saat hati Kai memang harus berada di sisi yang lain”
“Gwaenchana!Kai bukan orang pemberi harapan palsu. Dia tidak akan membuat seseorang jatuh cinta padanya, kalau dia memang tidak menyukai orang itu. Dia akan menjadi jail, atau memberi sejuta perhatian pada orang yang dia suka. Dia akan seperti itu ketika dia menyukai seseorang.”
“Nampaknya kamu sangat mengenalnya.”
Tentu saja. Aku kan dulu yeojachingu-nya.” Jawab Hye Ri terkekeh.
Tawa pun membentang di antara keduanya. Yoo Ra yang begitu semangat menyebutkan kebiasaan-kebiasaan Kai, bersaing dengan kebiasaan-kebiasaan Kai yang diketahui Hye Ri. Atau kesukaan Kai yang bergantian mereka sebutkan. Bagimana mungkin, Kai yang dulu tidak suka minum kopi, sekarang gemar untuk meminumnya, perdebatan yang mungkin akan menumbuhkan kedekatan mereka, bahkan jika itu hanya sekedar membahas seorang Kim Jong In.
____!!!!!____
Di sisi lain, ada Kai dan Minhyuk yang juga tengah asyik dalam perbincangan mereka. Mereka sudah membahas terlalu jauh tentang kehidupan masing-masing, dan sekarang, maslaah hati menjadi inti cerita keduanya.
“Minhyuk-ah, bagaimana perasaanmu terhadap Hye Ri?”
“Ne?”
“Kyaaa, wajahmu memerah.Wae geurae?”Ledek Kai terkekeh.
“Aniyo.”
“Geurae. Ani! Karena kamu sudah bilang tidak, jadi aku boleh dong jadi namjachingu-nya lagi, eottae?”
“Mwo?Kamu masih menyukainya?Emh, ani, kamu kembali menyukainya?”Tanya Minhyuk gugup.
“Mungkin!”
“Yasudahlah, nampaknya HyeRi juga masih menyukaimu.”
“Apa kamu akan baik-baik saja, saat aku akan menghabiskan waktu yang lebih lama dengan sahabat kamu itu?Kamu tidak punya waktu lagi dengannya.”
“Kyaaa, wae geurae?Arasseo, arasseo, naneun chohayo. Aku menyuikai Hye Ri, Lee Hye Ri, aku menyukainya, geurigu, aku pasti akan cemburu kalau kalian kembali bersama. Puas!” Sungut Minhyuk.
“Matta.Itu kalimat yang ingin aku dengar darimu.”
“____”
“Aku kembali menyukai Hye Ri? Itu tidak mungkin.Aku hanya menyukainya saat aku tahu ternyata dia dulu adalah yeojachinguku.Aku rasa waktu itu aku kembali jatuh cinta, tapi itu palsu.Seiring waktu, semua kembali seperti semula, saat HyeRi menjadi orang asing di hidup aku. Aku hanya merasa senang, saat aku akhirnya menemukan pemberi gantungan merpati yang bernama Hye Ri itu.”
“Kojitmal!”
“Minhyuk-ssi. Aku menyukai Yoo Ra, bukannya Hye Ri.”
Pernyataan yang berhasil mencuri perhatian Kang Minhyuk.Wajahnya berubah kaget, bingung dan tak percaya. Yoo Ra?
“Entahlah.Aku sendiri bingung bagaimana aku memaparkannya.Tapi, yaa aku menyukainya.Dari kekanak-kanakan dan kedewasaannya.Aku bingung, kapan aku mulai menyukainya, padahal dia adalah adik kecilku.Aku menyukai adikku.Ini lucu, bukan?Yayaa, aku sudah amat sering menyangkalkan bentuk perhatian dan peduliku terhadap Yoo Ra, tapi untuk terus menghindari bahwa aku menyukainya, aku rasa aku tidak bisa.” Tutur Kai. Bibirnya melengkung sempurna, bahagia meronakan wajahnya.
“Jeongmalyo?”
Kai kemudian mengangguk tersenyum aneh, hingga akhirnya Kang Minhyuk menautkan lengannya pada tengkukKai untuk Ia hajar. Canda tawa tak lepas dari mereka, keduanya secara bergantian memukul satu sama lain. Ini tidak untuk saling menyakiti, tapi karena saling menyayangi.
Soo Jin dan eommanya, Hye Ri dan Yoo Ra, Kai dan Minhyuk, semua bertaut dalam rasa bahagia di atas pasir putih yang lembut ini, di antara debur ombak yang turut bersuka cita menyaksikan kebersamaan yang kembali itu. Di sana, cerita itu terukir, menjadi lukisan sejarah yang berarti. Tanpa ingatan yang lalu pun, ini sudah lebih dari cukup bagi Kai. Keluarga dan sahabat, itulah yang Ia butuhkan.
Ingatan yang terlupa.Seperti kata Soo Jin, ketika kamu melupakan sesuatu dan kamu sangat sulit untuk mengingatnya, itu berarti sesuatu itu tidak baik untuk kembali kamu ketahui.Dan bagi Kai, ketika memang itu adalah sesuatu yang tidak baik untuk diketahui kembali, maka biarkan ingatan yang hilang itu menjadi abu di masa lalu, dan ingatan yang ada menjadi peta untuk mencari dunia baru.
Seperti sekarang ini.Tanpa ingatan yang mungkin menyakitkan itu, Kai sudah menjadikan ingatannya yang ada sebagai peta untuk mencari dunia barunya, bersama sahabat, dan keluarganya.Di sanalah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dan Ia benar-benar sudah kembali, memperbaiki semua dengan ‘baik-baik saja’. Seperti merpati putih yang terbang bebas dengan indah menuai kebahagiaan di udara.

The END
                Ciecie happy ending !!!!J Selamat Kai, mulailah hidup barumu dengan sebaik-baiknya.:)
        Waahh, cerita “My Mind” akhirnya selesai nae rampungkan.Seneng, dan sedih –kenapa sedih yaa?Iyain ajadeh— FF yang menumpuk bersama tugas sekolah ini udah selesai juga.
        Terimakasih banget, buat yang udah ngunjungin blog ini, dan baca FF “My Mind”. Entah absurd, kalian suka atau tidak, aku akan tetap berterimakasih telah mengunjungi dan membaca FF ini.
        Ini menyenangkan. Ide saya tidak terbuang sia-sia, saya bisa membaginya di blog, mengembangkannya dengan cara saya yang cukup terbatas dalam merangkai kalimat. Tidak masalah, kata orang ‘bangga dengan hasil tangan sendiri, baik atau buruk hasilnya, itulah kemampuanmu yang sesungguhnya’.
        Semoga ada pelajaran moral yang bisa kita petik dari cerita X chapter ini.Nae sebagai author, berharap ada yang nyisahin komennya di last chapter ini. –‘ini’ nya udah berapa kali kesebut tuh?—J ahahha.
        Terakhir, pesan dan kesan apa yang kalian dapat dari cerita ini?
Kalau aku, “Kebahagiaan itu memang hak, tapi semua tidak semudah itu.Kita perlu melewati yang namanya kesedihan, karena dari sedih dan tangislah, kita dapat mengerti betapa indahnya hidup ini dengan segala kisah kasih yang terurai di dalamnya.Dari sedih kita belajar sabar dan ikhlas.Dan dari sabar & ikhlaslah, kebahagiaan itu hadir, entah Nampak atupun tidak.Di dalam hati yang lapang, di sanalah kebahagiaan itu akan berdiri.” –Nyambung gak yaa sama ceritanya? Nyambungin aja deh—
        Gamsahamnida!!!!! Thanks a lot!!! Terimakasih!!! Syukron!!!
        Sampai jumpa di FF aku selanjutnya… bye bye.
Assalamualaikum wr.wb J

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman