Cerbung [ The Blue Diary Bab 1 ]


The Blue Diary
Semua pernah bahagia. Semua pernah sedih. Semua pernah tertawa. Semua pernah menangis. Semua punya rahasia.
            Masa lalu ada bukan untuk dibuang atau hanya sekedar untuk dikenang, tapi mereka ada untuk ditelusuri, mereka ada untuk dijaga, mereka ada untuk dipelajari, mereka ada sebagai kompas.
Angin pun akan kembali berhembus setelah sejenak reda, hujan pun kan kembali turun setelah sejenak terang oleh bola raksasa bumi, awan pun kan kembali terlihat setelah pagi kembali menyapa, dan pelangi kan datang, setelah hujan mengukir cerita di  atas bumi. Semua adalah proses, suka duka dunia adalah  cuaca, karena cuaca adalah kehidupan.
            Seperti itulah wanita tua itu merangkum kisah hidupnya. Wanita yang kini hanya mampu berbaring di atas kasurnya yang tak lagi empuk, binar wajahnya penuh sendu dunia, urat matanya sayu tersenyum, tangannya bergetar melawan sakit. Keriput pun sudah didapatinya kini, getaran suara beradu serak, berselimut sarung batik sejarah, berpeluk dingin dari celah jendela. Wanita tua yang masih penuh dengan buaian kasih sayang, wanita tua yang sampai saat ini masih bertahan pada hatinya yang tergores, wanita tua yang terus terniang pada masa lalunya, wanita tua yang terus berujar dzikir pada Tuhan-nya, bersanjung kasih sayang pada anaknya, berlimpah kerinduan pada suaminya mantan suaminya.
**The Blue Diary**
Bab 1
 “I have a friend, She had more friends”
            Masih sangat pagi untuknya membangunkan sang Ibu. Ia sibuk bersenda gurau dengan tugas-tugas sekolah yang belum Ia selesaikan semalam. Sebelumnya Ia sudah menata dengan baik sarapan di atas sebuah nampan kecil. Sarapan yang tentunya untuk sang Ibu.
            06.00 am.
            Tumpukan buku itu  disapunya dari pandangannya, segera Ia kemas bersama rombongan buku lain yang telah diambilnya dari meja belajarnya. Ransel birunya kini mengembang, sudah ada empat buku tulis, dua buku cetak, notebook, dan tentu beberapa alat tulis di dalamnya. Dengan sigap, direngeknya ransel besarnya itu, tak lupa merapikan penampilannya, baju, rok, dasi, sepatu ? rapi, lengkap. Usai berlenggok ria di depan cermin yang ukurannya sekitar 50 x 120 cm itu, Ia berhambur ke luar menuju ruang tamu, dengan pelan dibukanya pintu berlatar merah itu.
            Tepat sekali. Niatnya memang mengecek hal ini, sudah dua minggu seseorang terus mengirim setangkai bunga mawar tiap paginya. Entah siapa, Ia hanya tersenyum bersama  kedikan bahunya. Seperti biasa, dia selalu menengok ke sana kemari, barangkali masih ada jejak orang yang membawa bunga ini.
            dan kupahami dia pun sakit
            Seperti itulah kalimat dalam sebuah kertas kecil berwarna jingga dari dalam bunga yang kini memanjakan dua bola matanya.
            Hanya penuh kebingungan, ditutupnya pintu itu dengan pelan dan kembali memasuki rumahnya, tepatnya di dalam singgasana sang Ibunda.
            Ibunya masih tertidur lelap di atas kasurnya. Miris. Hatinya selalu miris tiap memandang jeli sang Ibu yang sedang tidur. Selalu ada ketakutan tersendiri dari hatinya. Masihkah Ibunya akan melihatnya pulang sekolah nanti ? Pagi sendu bagi dirinya, matanya selalu sembab tiap hendak ke sekolah, di hadapan Ibunya Ia masih berurai air mata. Dikecupnya kening sang Ibu, berbisik anggun kata-kata sayang pada wanita tua itu. Genggaman yang tak ingin Ia lepas, karena ketakutan itu selalu menceruat dalam batinnya.
            Usai merapikan selimut Ibunya, bunga mawar yang sempat Ia letakkan di sampingnya ini Ia simpan di dekat dinding, tepatnya di samping kanan tempat tidur ibunya. Di sana, sudah tertata hingga puluhan bunga mawar yang masing-masingnya sudah tersimpan sepucuk pesan. Sangat jelas untuk terbaca, tulisan surat itu benar-benar besar dan indah, teratur, berjejer rapi di dekat dinding. Bunga mawar tadi, berada di jejeran ke dua puluh satu, artinya bunga pagi tadi adalah bunga ke dua puluh satu yang diterimanya sejak dua puluh satu hari yang lalu.
            Tidak terlalu lama Ia menatap deretan bunga-bunga itu,  sejenak pula Ia tersenyum pada Ibunya.  Sejurus kemudian Ia pun berlalu dari ruangan ini.
            Ia sudah berbaur dengan beberapa orang di jalan raya. Dengan santainya, Ia menikmati terpaan angin pagi dan sinar matahari yang masih dibilang matahari sehat. Ini bahkan baru setengah tujuh.
Sudah hampir lima belas menit sejak Ia berjalan dari rumahnya, dari kejauhan hiruk pikuk sekolah bertingkat dua, dengan beberapa gedung utama yang berlatar biru putih itu sudah terdengar di pendengarannya. Sekarang, Ia memang sudah tepat berada di depan gerbang  sekolahnya.
            Dengan gontai Ia berhambur bersama beberapa murid lain yang juga baru tiba di sekolah. Kehidupan sekolah yang sangat mengasyikkan, penuh canda tawa, suasana pagi pun selalu mendukung mereka untuk nongkrong dikantin, perpustakaan, parkiran, koridor atau mungkin di taman. Masa-masa SMA yang tentunya sangat mereka nikmati. Lihat saja, di ujung koridor satu hingga koridor yang lain sudah mantap teriakan-teriakan siswa, omelan, banyolan, celotehan, candaan, kehisterisan. Apapun bisa menjadi perbincangan mereka, artis idola ? Tugas sekolah ? Politik ? Organisasi ? Semua sudah menghujani  indera pendengaran. Merekalah para pelajar, stress dengan pelajaran, tapi terhibur dengan kebersamaan.
            Gadis itu, tepatnya Nayla duduk di sebuah bangku taman sekolah. Belum pukul tujuh, artinya masih ada sekitar tiga puluh menitan sebelum jam pelajaran dimulai. Ia sedikit menjauh dari kebisingan yang dibuat teman-temannya pagi ini, di taman ini memang tak banyak siswa yang berkeliaran. Bagi kebanyakan siswa, taman selalu berhubungan dengan orang-orang yang mellow, puitis, melodramatis, yaahhh hal-hal yang berkenaan dengan kesedihan.
            Nayla memang bukan orang yang easy going. Dia simple, ada yang mau berteman syukur, kalau gak ada, yaudahhhh…
Dia bukannya tidak suka dengan kebisingan-kebisingan yang dibuat teman-temannya pagi ini, hanya saja, beberapa hari belakangan ini selalu ada yang mengganjal di hatinya, dan mulai memenuhi pikirannya, dan sekarang dia butuh ketenangan.
            Bunga itu.
            Awalnya Nayla memang tidak peduli pada bunga pertama, malah bunga pertama itu sudah pernah mengisi tong sampah rumahnya. Bunga kedua pun begitu. Tapi, ketika bunga ketiga datang, dengan isi pesan berangan kembali pada sang penjaga hati lekas Ia berpikir akan kaitan bunga-bunga ini. Dari awal hingga sekarang, pesan bunga-bunga itu adalah sebuah surat baginya, makanya dia menata bunga-bunga itu sesuai urutan.
            Sulit baginya menerka pengirim bunga itu, tapi yang Ia senangi adalah, orang itu mengirim bunga kesukaan Ibunya, meskipun dia sama sekali gak suka sama bunga mawar, apalagi bunga mawar merah. Menurutnya, bunga mawar merah itu terlalu lebay.
            “sendirian aja.”
            Seseorang menegurnya dari arah belakang, sejurus Ia menoleh dan menarik bibirnya dengan manis.
            “Nay, Lo abis nangis lagi?” Tanya murid yang kini duduk di sampingnya.
            “Enggak kok, Cuma masih ngantuk aja, abis nguap nih.” Jawab Nayla sedikit terkekeh.
            Sesil, teman sebangku Nayla sekaligus sahabat yang super dan amat dekat dengan Nayla. Bukan hanya sekedar menyandang status sahabat, Sesil memang seorang teman yang selalu ada buat Nayla. Nyari Nayla kalau gak ada, nanyain Nayla, ngoceh bareng Nayla, nawarin bantuan buat Nayla bahkan saat Nayla gak minta, nemenin Nayla kemanapun Nayla minta, pendengar dan penasehat yang baik buat Nayla,  ada saat suka, dan menemani saat duka. Mungkin belum terlalu lama mereka saling mengenal, baru dua tahun yang lalu, tapi secepat itulah waktu memautkan tali persaudaraan yang karib antara mereka.
            Mereka hanya bersenda gurau di bawah langit yang  sangat cerah pagi ini, menunggu bel masuk berbunyi. Kebersamaan mereka jelas terekam.
**
            Jam pulang sudah tiba, Nayla dan Sesil sudah mantap di koridor menuju gerbang sekolah. Beberapa murid yang sudah berlalu lebih dulu pun sesempatnya saling menyapa. Halaman sekolah memang sudah ramai, kebisingan mobil dan motor pun sudah bercampur aduk, memberi warna tersendiri pada suasana pulang di bawah terik matahari yang cukup menyengat.
            Nayla dan Sesil berjalan beriringan di trotoar, dipadu kemacetan  kota metropolitan ini. Kepulan asap pun tak bisa lagi ditepis, polusi memang sudah merajai dunia, termasuk Indonesia.
            Agak lama mereka di perjalanan, sekitar dua puluh menit mereka baru tiba di rumah Nayla. Dengan sigap Nayla membuka pintu dan mempersilakan Sesil masuk.
            “mau minum apa ?” Tanya Nayla seraya meletakkan tasnya di ruang tamu.
            “Gak usah, gue mau liat Ibu Lo.”Jawab Sesil tersenyum.
            “Oiyaaa.” Sahutnya mengerti.
“Yaudah ayo.” Seru Nayla.
            Mereka meninggalkan ruang tamu ini dan menuju kamar Ibu Nayla.
            “Assalamualaikum.” Ujar Nayla sembari mencium tangan Ibunya.
            “Assalamualaikum tante.” Ujar Sesil pula mendekat pada tempat tidur Ibunya Nayla.
            “Waalaikumsalam.” Jawab Ibunya Nayla yang bernama Feby itu.
            “Bu, aku ke belakang bentar ya. Ibu sama Sesil dulu.” Kata Nayla dengan menyunggingkan senyum pada Ibunya. Sementara Ibunya hanya mengangguk ria.
            “Tante, kabarnya gimana ?” Sesil membuka pembicaraan.
            “Baik.” Jawab Bu Feby dengan suara berat nan serak.
            “Tante segar banget deh kayanya.” Tambah Sesil lagi, tangannya pun Nampak santai memijat-mijat kaki Bu Feby.
            “Iyaa nihhh, perasaan tante agak baikan pagi ini.” Jawab Bu Feby tersenyum.
            “minum obatnya,  Bu.” Seru Nayla setibanya dari muka kamar.
            Nayla membantu Ibunya meminum obat, sementara Sesil masih dengan santai memijat Ibu Nayla.
            “Ibu istirahat ya!”
            Nayla membantu Ibunya untuk kembali berbaring berikut membenahi selimut Ibunya.
            “Tante, istirahat yang banyak Ya!” Seru Sesil pula.
            Disambut anggukan dari sang Ibu, Nayla dan Sesil pun kembali ke ruang tamu.
            “Bunganya tambah banyak aja.” Sesil membuka pertanyaan.
            “Iyaaa nih, gue masih bingung dan penasaran banget sama pengirim bunga itu.”
            “Entar juga Lo tau Nay.” Tambah Sesil tersenyum, yang hanya disambut kedikan bahu dari Nayla.
            Sudah hampir jam dua, Sesil nampaknya sudah menghabiskan banyak waktu di rumah Nayla.
            “Gue pulang dulu ya.” Pamit Sesil di muka rumah.
            “Iyeee,,, hati hati Lo.”
            “siappp. Assalamualaikum.”
            “Waalaikumsalam."
            Nayla kembali memasuki istananya. Hening, sunyi, dan sepi. Suasana yang sudah sejak kecil dirasainya bersama sang Ibu. Tanpa seorang Ayah, merasakan pengorbanan Ibunya yang banting tulang ke sana kemari demi menghidupinya yang tentunya pada saat itu masih sangat mungil, imut, lucu. Menyaksikan sendiri kesakitan sang Ibu saat Ayahnya meninggal. Rumah kecil ini adalah sejarah hidupnya selama 16 tahun. Di rumah ini tangisan pertamanya terniang di penjuru kompleks. Di rumah ini, Ia dijaga oleh Ibunya, hingga kini saat Ia yang harus menjaga Ibunya.
            Ia menatap lurus ke kamar Ibunya, dari ballik pintu yang tidak tertutup rapat, Ia kembali tersedu. Lihatlah, wajah pucat Ibunya, rambutnya yang sudah ditumbuhi uban. Nayla tak bisa membendung tangisnya, tangis yang tidak pernah Ia perlihatkan kepada Ibunya. Sangat lemah hatinya jika itu tentang Ibunya.
            Sejenak menyeka air matanya, mencoba mensterilkan kembali napasnya yang sesak penuh tumpahan air mata. Dengan lembut, disambanginya tempat tidur ibunya. Duduk iba di samping sang Ibu. Matanya tertuju pada sebuah album foto yang ada dalam pelukan Ibunya. dengan pelan, diambilnya album yang sudah usang itu. Dibukanya perlahan album foto yang setiap hari dipandangi Ibunya. Ini pertama kalinya Ia melihat isi-isi album ini. Album inilah yang selalu Ibunya sembunyikan darinya, bahkan tidak membiarkan Nayla tahu bahwa ada album foto yang disimpannya. Tapi, Nayla sering melihat dari balik pintu kamar ketika hendak mengantar makanan kepada Ibunya, Ibunya berurai air mata tiap melihat lembaran foto di dalam album ini, namun dengan sigap pula Ibunya menyembunyikannya di bawah bantalnya. Di balik album ini, pastilah tersimpan cerita masa lalu Ibunya, tersimpan kenangan yang mungkin membangkitkan lukanya.
            Nayla mulai membuka lembaran pertama di album ini. Ada foto Ibunya bersama beberapa teman-temannya saat masih SMA. Nayla tersenyum hangat melihat Ibunya yang sangat cantik dan anggun di foto ini, masih sangat muda, ceria, dan penuh semangat. Dan kini waktu telah memakan usia Ibunya.
            Lembaran selanjutnya, ada foto Ibunya bersama seorang pria. Mungkin pacarnya waktu itu ? Atau mungkin itu adalah Ayahnya Nayla ? Entahlah, Nayla masih focus pada wajah muda Ibunya. J

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman