FF My Mind [ Chapter 1 ]


Annyeong chingudeul !!! ini FF terbaru aku. Maybe garing or absurd. But, thanks a lot yang berniat baca dan ngasih kritik dan komen J
          Title :  My Mind
          Author:  Muthmainnah
          Cast  :  Kim Jong In (EXO), Kim Soo Jin (OC), Lee Hye Ri (OC), Soo Yoo Ra  (OC), Kang Minhyuk (CNBlue)
          Genre          :  School life, family life, romance, friendship, sad (?)
          Length:  Chaptered.

My Mind
          Chapter I
Pagi itu udara benar-benar menyelimuti tubuhku. Sulit rasanya untuk beranjak dari singgasanaku. Tapi, ‘Sekolah’ memaksaku bergerak gesit.
          Dengan blazer kotak-kotak menutupi seragam putihku, aku berhamburan dengan debu jalanan Ibu kota yang masih lengang oleh aktivitas kendaraan maupun pejalan kaki. Tidak banyak orang di jalanan ini, bangunan-bangunan bertingkat di kota Seoul Nampak lebih jelas.
          Deru angin masih menusuk-nusuk tubuhku, bahkan seragam berlapis ini tidak membantu menghilangkan rasa dinginku. Sesekali ku peluk tubuhku ini dengan kedua tanganku, mengedarkan pandangan di sekitar kota Seoul.
          10 menit lagi jam pelajaran akan segera dimulai, dan aku masih ada di tengah trotoar dengan terburu-buru. Ini sudah langkah tercepatku bahkan langkah kakiku tak bisa lagi kupastikkan bahwa masih seanggun ketika aku berjalan seperti biasanya.
          Jalanku terhenti, ketika seseorang tepat berada di hadapanku. Aku yang tertunduk ini tentu tidak langsung dapat mengenal siapa yang menghalangi jalanku. Perlahan, kuperhatikan penampilan sosok itu. Sepatu hitam mengkilap, celana rapi, mungkin seorang namja, seragam sekolah yang tidak sama seperti yang ku kenakan, dan beberapa detik kemudian, pandanganku sudah tertuju pada wajahnya.
          Chakkam!
          Apakah yang di hadapanku ini adalah dia? Seseorang tolong bangunkan aku jika ini adalah mimpi. Aku tidak ingin meneruskan kelanjutan cerita ini. Cukup untuk melihat wajahnya lagi. Andwaeyo?
          Namja tinggi itu hanya memandangiku bingung. Wae? Apa ada sesuatu yang aneh pada penampilanku? Matanya bermain-main, bak menyodorkan pertanyaan, ‘siapa aku’. Ani,ani. Itu tidak mungkin. Mana mungkin dia tidak mengenaliku. Tapi, dia sama sekali tidak bereaksi. Apa aku yang harus menyapanya terlebih dahulu? Hah, itu tidak mungkin.
          Sekian detik terdiam, aku baru menyadari, dia tidak berubah. Terlebih kulitnya, aigoo. Apa kamu tidak bisa lebih putih sedikit Jongin-ah?  —hahaha, mian— Ia tetap cuek, Ia tetap menyelipkan kedua tangannya ke dalam saku celananya tiap berjalan. Dia tetap keren. –Mwo?—
          Sesaat kemudian, dia melangkahkan kakinya ke samping kiri, nampaknya dia akan segera berlalu. Wah, tanpa mengatakan apapun? Benar saja, beberapa detik kemudian, dia melayangkan kakinya dengan santai meninggalkanku.
          Nappeun namja!
          Sepertinya aku harus ‘berterimakasih’ pada namja itu. Jika tidak bertemu dengannya mungkin saja bisa mengurangi detik keterlambatanku. Sebelum berpapasan dengannya, aku masih bisa mengontrol jalanku untuk lebih cepat lagi. Tapi, sisa-sisa waktu yang seharusnya ku uber itu malah aku luangkan untuk memikirkannya. Yaa, sepanjang jalanku aku memang menyisakan penasaran padanya. Alhasil . . .
          “Hye Ri. Kamu terlambat lagi?” Omel guru semampai nan cantik itu.
          “Sudah berapa kali kamu terlambat?” Tambahnya.
          Aku pernah mendengar ‘diam itu adalah emas’, dan untuk kali ini aku memilih bungkam, aku tidak punya alasan lagi. Beberapa waktu lalu aku beralasan mampir membeli obat untuk ibuku, padahal aku kesiangan, pernah juga aku beralasan pakaianku terciprat air kotor dan harus singgah membeli pakaian bersih, dan yang terakhir alasanku adalah kakiku sakit sementara aku harus berjalan kaki ke sekolah padahal lagi lagi aku memang kesiangan pada waktu itu.
          “Baiklah. Silakan duduk.” Ujarnya.
          Mwo? Jinjjayo? Aku sama sekali tidak dihukum atau diberi surat panggilan orangtua? Wahh, ada apa dengan guru cantik itu. Atau, dia sudah bosan memberiku hukuman?,,, okee, sepertinya diam itu memang emas.
          Dengan santai kuayunkan kakiku menuju bangku bersejarahku selama lima bulan di kelas tiga. Sementara Cha seongsaennim sudah kembali melanjutkan celotehnya di depan sana. Aku pun sudah siap dengan buku dan alat tulis di atas mejaku.
          Kurang lebih 45 menit Cha Seonsaeng  menerangkan rumus-rumus kimia yang menewaskan otakku di tiap detiknya. Bel tanda pelajaran pertama usai sudah berbunyi, Cha Seongsaeng meninggalkan ruang kelas yang sudah gaduh. Jam selanjutnya adalah jam olahraga, semua sudah bergegas ke ruang ganti.
          “Pen!”
          Seseorang menegurku, tidak hanya menegurku tapi juga menarik kera bajuku dari belakang dan memaksa kakiku berjalan mundur mendekatinya. Siapa lgi, namja yang selalu memanggiku dengan ‘pen’, si Ketua OSIS, Kang Minhyuk.
          “Kyaaa!!!” Erangku menggoyangkan tubuhku untuk melepas pegangannya dari kera bajuku. Tanpa ada rasa berdosa dia masih bisa menyunggingkan ‘smiling eyes’nya?.
          “Kamu terlambat bukan?” Tanyanya
          “Emm.” Jawabku seraya melanjutkan langkahku menuju ruang ganti, Ia pun mengekori.
          “Dasar tukang tidur kamu…” Ledeknya.
          Issh.. Aku hanya memicingkan bibir ke arahnya yang sedari tadi hanya mengumbar senyumnya itu. Aigoo, mentang-mentang dia terlihat sangat manis ketika senyum.
          “Kyaaa, pulang sekolah aku tunggu di kantin, eoh?” Serunya.
          “Eoh.” Jawabku membulatkan bibir.
          “Issh.” Gumamnya seraya menarik senyum manisnya itu, dan masih sempat-sempatnya mengacak rambutku lagi yang sudah kutata. Sejurus kemudian Ia berlari –larinya pun penuh wibawa— meninggalkanku di koridor sekolah yang sepi ini.
__!!!__
“Author POV”
          Namja itu tertunduk lesu di bawah sinar matahari yag tidak terlalu menyilaukan. Ponselnya sudah bermenit-menit dipegangnya, sedari tadi hanya dibolak-balikkan di tangannya.
          “Oppa!” Panggil seorang yeoja dari arah belakangnya, seketika membuatnya menoleh.
          “Eoh. Kamu sudah datang?” Tanya namja itu.
          “Emm… Mian, aku terlambat.” Ujar yeoja mungil itu.
          “Kaja!” Seru Kai.
          Yeoja itu mengangguk, keduanya pun berjalan beriringan meninggalkan taman kota. Mereka dengan sumringah mengarungi trotoar, ada segelintir senyum dan tawa di sana.
          Tak berapa lama mereka sudah tiba di sebuah kafe. Mereka memilih suasana luar kafe untuk mereka tempati menikmati hidangan.
          “Oppa, aku akan pindah sekolah. Aku memutuskan untuk menetap di Korea.” Yoo Ra membuka pembicaraan.
          “Jinjjayo?” Sergah Kai kemudian.
          “Geureom.” Sahutnya manja. “Geundae, eonni-ku melarangku satu sekolah denganmu.” Lanjutnya.
          “Waeyo?” Tanya Kai tersenyum santai.
          “Selamat menikmati!” Seru seorang waitress yang sudah mantap menyajikan pesanan kedua sejoli ini.
          “Gamsahamnida.” Sahut Kai menundukkan kepalanya.
          “Eonni-ku benar-benar, katanya aku tidak akan konsen belajar kalau satu sekolah denganmu.” Jelasnya seraya mengerucutkan bibirnya. Kai hanya sedikit terkekeh.
          “Kyaa, kenapa kamu tertawa?” Gerutu Yoo Ra.
          “Yoo Na Noona benar, Yoo Ra-ah. Kalau kita satu sekolah, kamu bisa-bisa tidak sabar keluar kelas untuk melihatku.” Candanya menyunggingkan senyum di bibirnya.
          “Mwo?”
          “Lalu, kamu akan sekolah dimana?” Tanya Kai lagi.
          “Chang Senior High School.” Ungkapnya.
          “Aaaa,,, padahal sekolahku lebih baik dari sekolah itu.” Tambah Kai.
          “Aniya. Karena aku akan masuk ke sana, sekolah Chang akan menjadi sekolah terpopuler di Korea.” Jelasnya cepat.
          “Aaaa, geureokkuna?” Kai menyunggingkan senyum meledek pada Yoo Ra.
          Mereka semakin asyik dalam obrolan yang mereka ciptakan. Melepas kerinduan sejak tiga bulan tidak bertemu. –OMG, baru tiga bulan kok— Yoo Ra yang sejak kecilnya memang menghabiskan waktu bolak-balik Korea-China.
Belum lama memang sejak Yoo Ra dan Kai saling mengenal, baru sekitar tiga tahun yang lalu. Tapi lihat saja kedekatan mereka, sudah seperti Kakak adik. Tapi, hanya’seperti’. Itu tidak sepenuhnya diinginkan oleh Yoo Ra, meskipun Kai berkali-kali memanggilnya ‘adik kecilku’, tapi baginya ada terselip sebuih perasaan yang lebih dari  sekedar sahabat.
___!!!___
          Jam pulang sudah tiba, Minhyuk sudah mantap duduk di depan drum kit-nya. Ruang music ini memang tempat paling ampuh baginya untuk meregangkan otaknya dari segala aktivitas organisasi-organisasi yang diurusnya. Sudah pukul lima sore, dengan semangat dimainkannya drum itu sehingga menimbulkan suara yang cukup keras dan teratur. Dentuman nada dari drum yang digebuknya semakin kuat, sejuta ‘stres’ yang melayang-layang di pikirannya bak sirna seiring dengan tabuhannya. Tubuhnya pun ikut berguncang, menikmati tone-tone yang dihasilkan dari permainannya.
          Tanpa Ia sadari ternyata Hye Ri tengah memperhatikannya dengan melipat kedua tangannya. Hye Ri tak mengusik permainan piawai drum sanabatnya itu. Hingga di dentuman terakhir, ketika stick drum Kang Minhyuk sudah terhenti di satu Tom Tom berukuran 12x10 inchi.
          “Sepertinya kantin sudah pindah tempat,Ya.” Sindir Hye Ri seraya berjalan mendekati Kang Minhyuk yang hanya mematung memegangi tengkuknya sendiri karena salting.
          “Mian!” Seru Minhyuk.
          Minhyuk meletakkan stick drumnya di atas meja di samping tempatnya bermain, sejurus kemudian menghampiri Hye Ri yang memandangnya sinis.
          “Kyaaa!!” Tegur Minhyuk, menyapu wajah Hye Ri dengan telapak tangannya.
          “Mianhae… aku lupa.” Lanjutnya.
          “Baiklah, ketua OSIS harus dihormati bukan?” Ledek Hye Ri.
“Isshhh!”
“apa kau sedang banyak pikiran?” Lanjut Hye Ri.
          “Emmh.” Sahut Minhyuk seraya duduk di lantai menyilakan kakinya, yang  kemudian diikuti oleh Hye Ri.
          “Wae?”
          Diam sejenak. Kang Minhyuk tidak lekas menjawabnya. Beberapa detik membiarkan hening tercipta, Minhyuk pun bersuara.
          “Park Seongsaennim mengundurkan diri.” Ungkapnya serius.
          “Mwo?”
          “Park Soo ji juga ikut pindah.” Lanjutnya.
          “Ne?”
          “Tidak ada pelatih dance. Anak-anak memberontak, dan anehnya mereka memberontak sama aku, minta aku nyariin pengganti untuk mereka.” Ujarnya lesuh.
          “Kyaa,,, bukannya pelatih dance di sekolah ini tidak Cuma Park Seongsaennim dan anaknya itu?” Ketus Hye Ri pula.
“Emm. Tidak ada yang sehebat mereka.” Jawab Minhyuk.
“Memangnya harus segera ada pengganti? Tidak semudah itu mencari yang seperti mereka.” Ujar Hye Ri.
          “Mereka tidak mengerti. Katanya, mereka akan mengikuti kompetisi dance beberapa bulan lagi, dan mereka sudah berlatih setengahya. Mereka butuh pelatih professional sekarang juga untuk melengkapi persiapan mereka.” Ulas Minhyuk.
          “Aigooo… Lalu kenapa harus kamu? Dasar anak-anak itu. Memangnya . . .”
          “Kamu pernah bercerita tentang temanmu yang sangat jago dance, bukan? Kemana dia?” Potong Minhyuk seketika.
          “Ne?”
          Benar. Beberapa tahun silam sejak keduanya saling mengenal, Hye Ri sering bercerita tentang seorang teman yang sangat jago dance, bahkan bagi temannya itu dance adalah segalanya.
Tapi, kenapa Minhyuk tiba-tiba membahas itu, Hye Ri jadi teringat akan pertemuannya dengan namja berkulit tan di jalan tadi pagi. Kai. Untuk hal ini, nama yang harus terlintas di pikirannya adalah Kai. Apa dia harus membahasnya lagi?
“_T B C_”
      Gimana chingudeul??? Absurd ye? Garing? Ngaco? Yah, whatever lah. Nae berterimakasih yang nyempetin baca. Buat karyaku dan chapter selanjutnya, harap komen dan sarannya guys. Kritikan akan membangun aku untuk membuat karya yang lebih baik lagi ke depannya. So, tinggalin jejak yaaa J
      See you, di chapter selanjutnya…

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman