FF My Mind [ Chapter 2 ]


Hai Hai Hai . . .
Nae come back lagi nih, ngupload chapter kedua dari FF “My Mind”. Masih adakah yang berniat membacanya???
Seperti biasa, nae bener-bener butuh kritik, dan sarannya chingudeul…
Okehhh, sekarang langsung aja deh, this is the next story of “My Mind”. Hope you like it.
So just enjoy chingudeul…J))) ninggalin jejak yes, reader bisu not. Okay!!! Kajaaaa…. Hasaeyo…

            Title    :  My Mind
            Author            :  Muthmainnah
            Cast    :  Kim Jong In (EXO), Kim Soo Jin (OC), Lee Hye Ri (OC), Soo Yoo Ra (OC), Kang Minhyuk (CNBlue)
            Genre :  School life, family life, romance, friendship, sad (?)
            Length            :  Chaptered.

My Mind


Chapter II

“Kyaaa, apa temanmu itu sudah menjadi dancer sungguhan? Kita bisa minta bantuannya.” Lanjut Minhyuk.
Hye Ri kembali tercengang  sesaat. Meminta bantuannya? Itu tidak mungkin. Batinnya.
“Kyaaa, Pen!” Tegur Kang Minhyuk.
“Molla. Aku tidak tahu dimana dia sekarang. Mungkin sudah mati.” Tuturnya.
“Huhh, dasar. Kamu tidak bisa diandalkan.” Gerutu Minhyuk meledek.
“Mwo?”
“Aniya… Emm, baiklah. Aku akan berusaha. Ini juga untuk nama sekolah kita yang terus menerus tertinggal di bidang seni, terlebih untuk dance.” Ulasnya semangat,
“Kyaa, apa tidak ada lomba menyanyi?” Celetuk Hye Ri.
“Wae?”
“Khem, sepertinya sekolah kita akan menang kalau kompetisi menyanyi itu diikuti oleh aku.”Jawabnya berambisi.
“Mwo?” Minhyuk terkekeh meledek, segera diayunkannya tangannya mengacak rambut Hye Ri.
Mereka kembali bersimpuh tawa, terlepas dari kepenatan Minhyuk mengurus ini dan itu. Selama hampir satu tahun mengabdi sebagai ketua OSIS, dia memang belum bisa memberi andil yang baik untuk ekskul seni, tapi di luar  itu Kang Minhyuk sangat sukses. Dan sepertinya, sebelum masa jabatannya selesai, dia akan melakukan sesuatu untuk para anggota ekskul dance sekolahnya. Lelah pasti, tapi bukan ‘Kang Minhyuk’ jika di satu titik lelahnya Ia mengudarakan kalimat ‘Menyerah’, baginya pemimpin itu bukan sekedar jabatan, tapi warisan, tidak juga sekedar warisan, tapi tanggung jawab, tidak juga sekedar tanggung jawab, tapi amanah. Di balik ‘smiling eyes’nya, tertata indah jiwa pemimpin  dalam dirinya.
___!!!___
Kai. Namja itu tengah mengayun-ayunkan kakinya sementara Ia duduk di atas ayunan beralas tali di dalam kamarnya. Ada sebuah gantungan yang setiap saat menghujani pikirannya.
“Lee Hye Ri?” Gumamnya.
Benda itu masih bertengger dalam genggamannya, masih pula bercermin di manik hitamnya.
“Neo nuguya?” Lanjutnya lagi, sesungging senyum bingung pun sudah terulas di bibirnya.
“Kai POV”
Apa hanya gantungan ini yang tersisa? Dan, ‘Lee Hye Ri’, nugundae? Noonaku juga enggan memberi tahunya. Geurigu, omma, appa, seperti apa wajah mereka. Aku bahkan tidak bisa merasakan kerinduan itu pada mereka, ingatan tentang mereka buyar tenggelam terbawa arus seolah menggelindingkan mereka dari kehidupan ini.
Dari dalam, ku dengar langkah kaki seseorang. Siapa lagi kalau bukan noona-ku, di rumah megah ini hanya ada dia dan aku. Benar-benar disayangkan, angin bebas menerobos masuk tanpa ada yang merasakan kesejukannya selain aku dan noona.
“Jong In-ah!” Tegurnya ketika Ia sudah ada di muka kamarku.
“Wae?”
“Kamu bertemu Yoo Ra?” Tanyanya mendekat, dan duduk di tempat tidurku.
“Eoh.”
“Dan kamu bolos lagi?”
“Eoh.”
“Kamu tidak ke sanggar ?”
“Eoh.”
Mian noona. Bukan berarti pertanyaanmu itu tidak ingin aku indahkan. Hanya saja, tiap memikirkan kejadian tiga tahun silam, aku merasa ada yang noona sembunyikan dariku, dan itu membuatku merasa noona bukanlah kakak yang baik. Mian!
“Geurae, itu bukan urusan noona. Aaa, Sore tadi ibunya Yoo Ra menelpon, Yoo Ra butuh pengawasanmu.” Lanjutnya tersenyum.
“Yoo Na noona bahkan tidak mengizinkan Yoo Ra satu sekolah denganku, lalu Ibunya menitipkannya padaku? Aigoo!” Omelku pula.
“Yoo Na hanya bercanda Jong In-ah. Lagian, memang lebih baik kalau kalian tidak satu sekolah.” Lanjutnya tersenyum.
“Ne,ne,ne, arra.” Jawabku ketus, dan itu hanya mengundang kekehannya.
Ia tidak lagi menanggapiku, Ia hanya sempat mengelus rambutku dan meninggalkan kamarku. Huhh, kalau bisa, aku ingin menahan noona, dan membiarkan noona menceritakan semuanya dari awal. Semua tentang kehidupanku, bagaiman aku dulu, bagaimana teman-temanku dulu,  seperti apa aku bersikap padanya, pada omma, appa, dan juga bagaimana tentang nama ini ‘Lee Hye Ri’.
___!!!___
“Author POV”
Suasana sekolah  sudah menyambut penduduk Chang Senior High School. Seorang yeoja berpostur tubuh mungil, anggun nan cantik itu berjalan di antara deret manusia yang tengah berbincang ria di sepanjang koridor sekolah.
Ia Nampak tengah memutar-mutar bola matanya memandangi tiap kelas. Kini Ia sudah ada di lantai dua, Ia kembali dengan santai membaca tiap kode kelas di bagian atas muka ruangan. Tanpa Ia sadari, seseorang tengah memperhatikannya sedari tadi. Yaa, mungkin hanya namja itu yang menyadari bahwa yeoja  itu adalah murid baru.
“Annyeonghasaeyo!” Sapa namja berpostur tinggi ini yang seketika menghalau jalan yeoja cantik ini dari depan.
“Nugusaeyo?” Tanya yeoja ini.
“Choneun Kang Minhyuk imnida, ketua OSIS di sekolah ini. Kamu anak baru bukan?” Ulas namja itu.
“Aaaa, ne. Annyeonghasaeyo Soo Yoo Ra imnida. Saya pindahan dari China, harap bantuannya ketua Kang!” Ulas yeoja itu seraya membungkukkan badannya.
“Ne. Kepala sekolah sudah memberitahu saya tentang kedatangan kamu.” Tutur Kang Minhyuk, mereka berjalan beriringan menuju kelas.
“Geurae?” Sahut Yoo Ra.
“Kyaa, apa kamu dari kalangan terhormat di China? Kepala sekolah sampai-sampai memintaku untuk memperhatikan, membimbing dan mengawasimu.” Ungkap Minhyuk tersenyum.
“Aniyo. Ayahku memang punya banyak kenalan, dia seorang dosen ternama di China, dan Ibuku seorang dokter.”  Jelasnya berambisi.
“Aaaa, aratta. Kalau begitu, kamu harus membayarku untuk pengawasan yang ku lakukan padamu nyonya muda Soo.” Canda Minhyuk.
“Kyaa, geumanhae. Kenapa kamu meledekku?”
“Aniya,aniya. Mian, kaja. Kelas kita sama.” Ajak Minhyuk, smiling eyesnya memang tidak pernah lepas dari binar wajahnya.
Keduanya pun tiba di kelas mereka.
“Silakan masuk, duduk di bangku yang kosong, sebentar lagi jam pelajaran akan dimulai.” Tukas Minhyuk.
Yoo Ra tidak lekas masuk, Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh isi kelas, ada beberapa murid yang kini memperhatikan kedatangannya, ada pula yang tidak menggubrisnya dan hanya sibuk dengan aktivitas mereka. ‘apa mereka bisa jadi teman yang baik?’ Pikirnya.
“Mereka akan jadi teman yang baik, Yoo Ra-ssi, kotjeommasaeyo!” Sahut Minhyuk, menelan pikiran Yoo Ra yang kini membelalakkan matanya.
‘kamu mendengar apa yang aku pikirkan?’ pikirnya.
“Kyaa, sudahlah membuang-buang kalimat dalam pikiranmu. Masuk sana, Lee Seongsaennim sudah datang.” Lanjut Minhyuk seraya masuk ke dalam kelas melewati Yoo Ra yang masih melongo di muka kelas.
“Kamu tidak masuk?” Tegur Lee Seongsaennim yang sudah tiba di muka kelas.
“Ne?” Kagetnya lagi.
“Soo Yoo Ra?” Tebak Lee Seongsaennim.
“Ne, annyeonghasaeyo, Soo Yoo Ra imnida.” Ucapnya membungkukkan badannya.
“Kaja!” Seru Lee Seongsaennim seraya menyunggingkan senyum termanisnya.
Ada sekitar dua puluh lima pasang mata yang tengah memperhatikan kedatangannya. Tidak ada grogi sama sekali yang dirasakannya, Ia berjalan menikmati langkahnya yang beberapa langkah lagi sampai tepat di samping Lee Seongsaeng.
“Anak-anak, perkenalkan, dia Soo Yoo Ra. Dia pindahan dari China.” Jelas Lee Seongsaeng.
Di luar dugaan Yoo Ra. Dia pikir seisi ruangan akan bersorak ‘waauuuww’, tapi ternyata tidak. Mereka hanya serius melihat Yoo Ra berdiri di depan sana tanpa bereaksi sama sekali. Yoo Ra tengah memperhatikan teman-teman barunya dari sudut kanan hingga sudut kiri, dan bola matanya menangkap Kang Minhyuk di pojok ruangan, kursi di sampingnya pun kosong. Aku yakin, aku pasti akan duduk di sana. Pikir Yoo Ra.
“Annyeonghasaeyo, Soo Yoo Ra imnida. Senang bertemu kalian, mari kita berteman baik.” Yoo Ra kembali memperkenalkan dirinya untuk yang ketiga kalinya. Dia masih merasa heran, teman-temannya sama sekali tidak merespon kehadirannya, termasuk si Ketua OSIS Kang Minhyuk, yang hanya memperhatikan ponselnya sedari Ia masuk.
“Anak-anak, apa kalian tidak akan menyapa teman baru kalian?” Tegur Lee Seongsaeng yang melihat kesunyian dalam ruangan ini.
“Bisakah yeoja itu langsung duduk saja, dan kita mulai pelajarannya?” Ketus seorang namja yang duduk paling depan.
“Hahah, geurae. Yoo Ra-ssi silakan duduk di belakang sana.” Seru Lee Seongsaeng seraya menunjuk ke arah Kang Minhyuk.
Dengan gontai Ia berjalan ke tempat duduknya, di samping Kang Minhyuk. Ada  perasaan koyak dalam hatinya lantaran acuhnya teman-teman barunya di kelas ini. Kesan pertama yang buruk nampaknya.
___!!!___
Jam makan siang sudah tiba, Yoo Ra hanya terdiam di kelasnya, entah kemana Ia harus pergi. Padahal Yoo Ra adalah orang yang easy going, dan sepertinya Ia ditaklukkan oleh keacuhan dan kecuekan teman-temannya di sini. Lihat saja, sampai detik ini satu pandangan pun tidak ada yang mengarah padanya. Semua yang tersisa di kelas ini sibuk dengan dunia mereka.
Derrt….
Ponsel pinknya berbunyi, segera Ia angkat ponsel yang sedari tadi memang dipegangnya.
“Oppa!” Sahutnya ketika ponsel itu sudah melekat di telinganya, Ia pun segera keluar dari kelas, menghindar dari kuping-kuping yang mungkin saja bisa menjelajah pembicaraannya.
“Waeyo?” Tanya namja dari balik ponsel.
“Oppa, di sini benar-benar menyebalkan. Ini baru hari pertama dan tidak ada seorangpun yang mengajakku berkenalan. Emm, okei, ada satu orang, tapi pada akhirnya dia juga cuek dan acuh. Oppa, aku tidak akan betah di sini.” Omelnya panjang lebar.
“Kyaa, kyaaa, kyaa… Pelan-pelan saja adik kecil, kan baru hari pertama.”
“Oppa, kamu taukan, aku bukan orang yang kaku di hadapan orang-orang. Tapi, kamu lihat bagaimana . . .” omongannya terhenti ketikaKang Minhyuk berdiri tepat di sampingnya.
“Yoo Ra?” Panggil Kai di balik ponsel.
Kang Minhyuk memandangi Yoo Ra  dengan pertanyaan ‘wae? Kenapa tidak kamu lanjutkan?’ yang seketika dapat ditebak oleh Yoo Ra.
“A,emm,, Oppa, nanti aku hubungi kamu lagi, Ne? Annyeong!”
Tttiiiiiiiiitttttt!!!!! Sebelum ada jawaban dari Kai, Ia sudah memutuskan panggilannya. Ditatapnya Minhyuk dengan serius. Minhyuk pun menatapnya dengan tajam. ‘ada apa dengannya?’ Pikir Yoo Ra.
“Kaja!” Seru Minhyuk menyudahi pandangannya pada Yoo Ra.
“Eodi?” Tanya Yoo Ra penasaran.
“Menjalankan tugasku.” Jawab Kang Minhyuk, seraya mendorong pelan punggung yeoja mungil itu dari belakang. Mau tidak mau, Yoo Ra memimpin perjalanan di depan dengan bimbingan Kang Minhyuk di belakangnya.
Mereka berkeliling ke sekitar sekolah, seperti tugas Kang Minhyuk, menunjukkan semua ruang dan bangunan di sekolah ini pada Yoo Ra.
___!!!___
Kai tengah duduk manis bersandar pada sebuah tiang besi yang berdiri tegak di sudut ruangan dance tempatnya berada sekarang. Ia kembali merogoh tangannya ke dalam saku celananya, dan beberapa saat kemudian, sudah bertengger sebuah gantungan ‘merpati’ di tangannya. Ia kembali menatap pasti gantungan besi putih itu.
Dengan kuat, Ia memutar otaknya, berharap ada beberapa ingatan yang terlintas di sana, tapi gagal. Sesekali Ia berdecak kesal, bahkan memukulkan tangannya pada lantai. Sangat geram  dirinya kini, bahkan giginya mulai bergetar bak hendak menerkam mangsa. Sepertinya Ia merasa sulit  untuk mendapatkan kembali ingatannya tiga tahun yang lalu.
Ia meneguk air mineral yang tergeletak di sampingnya, membuang napas beratnya, membiarkan emosinya meluap di udara terbawa angin.
Tangannya gemetar, air mineral yang tersuguh di dalam botol itu beradu membentuk gelembung-gelembung, Ia pun tak kuasa untuk berdiri, sakit kepala hebat menyerangnya, menjalar di kisaran kepalanya, matanya pun seakan berat untuk terbuka.
“Kyaa, jaga ini.”
“Neo pabo Kim Jong In.”
Deretan gambaran video menggantung  di ingatannya. Gantungan kunci itu terlihat, tapi Ia sama sekali tidak melihat wajah yang memberikannya, dan seorang yeoja yang melemparnya dengan bola basket dan meneriakinya ‘pabo’. Semua terlintas di dalam pikirannya, saraf-saraf otaknya bak berkecamuk di dalam sana, saling tarik-menarik membuat ikatan yang kuat, Ia histeris memegangi kepalanya erat-erat, semua terlihat gelap di penglihatannya dan seketika pula Ia ambruk.

T B C—

Apa kabar dengan chapter ini??? Sudahkah ada yang menyukainya? –Oh No, ini mah ngarep namanya—
Hihihihi… Yasudah, Cuma nungguin komennya ajalahhh…
See you di chapter selanjutnya. J
Insya Allah, next chapter, nae upload hari rabu. –Nungguin yaa?—



0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman