Cerbung [ The Blue Diary Bab 2 ]
The Blue Diary
Bab 2
Bab 2
“The Boy is . . .?”
Di lembar-lembar selanjutnya, selain foto keluarga
Ibunya dan teman-temannya, selalu saja ada foto Ibunya dengan pria muda nan
tampan itu. Hingga akhirnya, dua lembaran terakhir dibukanya.
Gemetar tangannya, lagi dan lagi air mata itu berurai
di pipinya. Sungai kecil bisa saja terbentuk di sana.
‘jadi ini Ayahku?’ batinnya.
Ada
sejoli dengan pakaian pengantin dalam lembar ini. Ibunya dengan pakaian jawa
yang bernuansa putih nan anggun di sebuah pelaminan, dan di sampingnya adalah
pria yang selalu berfoto dengan Ibunya sebelumnya. Senyum sumringah diraih
Ibunya di sana, begitupun sang Ayah. Ada foto Ayahnya yang sedang bersalaman
dengan penghulu.
Ia
kembali membuka lembaran terakhir, di sana ada dirinya dalam gendongan Ibunya,
dalam pangkuan Ayahnya, dalam sentuhan kasih sayang kedua orang tuanya. Seperti
itulah keluarga kecil Nayla sebelumnya, 16 tahun yang lalu.
Entah
bagaimana gambaran perasaan Nayla saat ini. Ia kacau, sedih, tapi juga bahagia.
Untuk pertama kalinya, akhirnya dia bisa melihat wajah Ayahnya yang selama ini
selalu Ia pertanyakan.
Tak
terlalu lama Ia larut dalam sedihnya, disekanya air matanya. Matanya
benar-benar sudah sembab sekarang. Ia pun menaruh album ini di samping ibunya,
dan segera kembali ke kamarnya.
Dari
sudut mata Ibunya Nampak pula beningan air yang menetes di sana.
**
06.15
am.
Dengan
buru-buru, Nayla memakai seragam sekolahnya. Gara-gara nangis, semalam Ia
benar-benar tertidur lelap, dan alhasil pagi ini Ia kesiangan.
Makanan
untuk Ibunya pun belum sempat Ia siapkan, buku-bukunya belum juga Ia masukkan
ke dalam tas. Rumahnya pun belum sempat Ia bersihkan. Benar-benar kesiangan.
Sebelum
berhambur ke ruang tamu, Nayla menghampiri Ibunya yang sekarang tengah nonton
TV di kamar.
“Ibu
udah bangun.” Ujar Nayla, seraya meletakkan nampan berisi sarapan itu di atas
meja.
“Kamu
mau kemana Nay?” Tanya Ibunya.
“Ke
sekolah lah Bu, mau kemana lagi. Makan dulu Bu, aku udah terlambat nih.”
Sergahnya dengan melayangkan sesendok nasi dan lauk pada ibunya.
“Nay,
ini hari minggu sayang.” Lanjut Ibunya usai menelan suapan pertama.
Nayla
tercengang, diputarnya badannya ke arah calendar yang terpampang di samping
pintu. Benar, ini hari Minggu.
Nayla
hanya menunduk, mengaduk-aduk makanan yang dipegangnya.
“Nay,
Nay. Kamu kok sampai lupa sih.” Sahut Ibunya terkekeh.
Sementara
Nayla tidak menggubris, Ia kembali melayangkan suapan kedua kepada Ibunya.
Ibunya
memperhatikan seisi ruangan ini, pandangannya tertuju pada mawar-mawar merah di
dekat dinding sana, Nayla pun tersentak. Yaaappp, bunga ke-22 bisa jadi sudah nangkring
di depan pintu sekarang ini.
“Bu,
aku keluar sebentar ya.” Izinnya.
Ia
meletakkan piringnya di atas meja dan kemudian beranjak dari tempat duduknya.
Ia menuju ruang tamu, dengan pelan dibukanya pintu rumahnya.
Yahhh,
sudah bisa ditebak, sudah ada bunga mawar segar di depan pintunya, dan kali ini
isi pesannya adalah, ‘Karena aku, dan
semua salahku’. Kalimat-kalimat yang selalu membuat Nayla bingung.
Ia
kembali masuk ke dalam rumahnya, menghampiri Ibunya.
Sementara
dibalik pohon sana, Nampak sosok perempuan dengan surai yang terurai sebahu,
dengan sweater hitam pekat tengah mengamati Nayla, dan sejurus kemudian berlalu.
Nayla meletakkan bunga mawar itu di tempat biasa
sesuai urutan, sementara Ibunya Nampak menyunggingkan senyum melihat
bunga-bunga itu tertata indah dengan pesan singkatnya.
“Kamu sudah tau pengirimnya?” Tanya Ibunya ketika
Nayla kembali duduk di samping Ibunya memegang makanan untuk Ibunya.
“Belum.” Jawab Nayla sembari mengaduk-aduk makanan.
Tiba-tiba ibunya meraih tangannya dan menggenggamnya
dengan erat. Nayla segera menatap dalam Ibunya, begitupun sang Ibu, tapi
tatapannya lebih dalam lagi, ada yang berkilau dari balik matanya, bak kaca
yang siap pecah.
“Maafkan Ibu Ya. Ibu menyembunyikan identitas
Ayahmu.” Ibunya mulai bersuara.
Nayla tidak berkutik, Ia masih mencerna kalimat
Ibunya.
“Ibu tau, kamu sudah melihat album itu. Kamu sudah
melihat wajah Ayahmu.” Sejenak suaranya mulai bergetar, beriring pecahan
beningan mulai tumpah ruah di pipinya.
“Maafkan Ibu. Ibu takut, kamu bertanya ini dan itu. Ibu pun tidak sanggup berbohong sama kamu, Nak.”
Lanjut Ibunya, Nayla pun kembali berurai air mata.
“Ibu tidak pernah menceritakan apa-apa tentang
Ayahmu, karena Ibu takut, kamu nanti akan membencinya.”
“Bu.” Sela Nayla.
“Ayah kamu Ayah yang baik, hanya saja sesuatu membuatnya
menjadi keras.” Ujar ibunya dengan sunggingan senyum getir.
Nayla terdiam. Banyak sekali pertanyaan yang ingin Ia
lontarkan. Kemana Ayah sebelum Ayah meninggal ? Kenapa tidak pernah ada kabar
sejak Ibu bilang dia pergi sebentar ? Apa yang Ayah lakukan sampai-sampai Ibu
bilang sesuatu telah membuatnya menjadi keras? Kenapa pergi disaat aku bahkan
belum cukup satu tahun? Tapi sudah cukup membuat Ibunya terisak seperti ini.
Pertanyaan itu bisa Ia dapatkan jawabannya kelak, Ia lebih tidak kuat melihat
Ibunya terisak seperti ini daripada tidak mendapat jawaban atas pertanyaannya.
Toh selama ini dia sudah menghabiskan waktunya bersama Ibunya tanpa seorang
Ayah.
“sudah, Bu. Ibu istirahat lagi aja.” Nayla membuka
suara, mencoba menenangkan Ibunya.
Rahasia? Sekali lagi, semua orang punya rahasia,
tidak untuk semua orang tahu. Suatu hari nanti, ketika rahasia itu memang
sesuatu yang harus terkuak, maka itu akan muncul sendiri dengan caranya.
**The
Blue Diary**
Keesokan harinya.
07.00
am.
Pagi ini Nayla sudah duduk manis di kelasnya, tidak
banyak orang di sini, maklum belum jam masuk juga. Nayla sibuk menatap lurus ke
depan. Pampangan whiteboard yang penuh dengan corat coret guru ditambah juga
hasil tangan jail teman-temannya.
Dengan serius dipandanginya papan tulis itu dengan
melipat kedua tangannya. Ada gambaran kehidupan di depan sana, ada cerita masa
lalu yang dilihatnya. Ada Ibunya yang masih sangat muda, ada ayahnya yang
sangat tampan, ada kisah lembaran foto-foto dalam album usang itu di depan sana. Ia tersenyum miris, seperti
orang yang tengah menikmati sebuah film di sebuah bioskop. Ia larut dalam
cerita yang dilihatnya. Imajinasi yang hampir saja menumpahkan air matanya,
tapi untungnya tidak. Hanya hatinya yang kini masih terasa sakit entah kenapa.
Apakah rasa marah karena baru mengetahuinya, dan itupun belum seluruhnya ?
Bukan, dia harap ini bukan amarah. Ini hanya segelintir perasaan rindu dan
sayang yang bercampur aduk.
Lamunannya terhenti, dari muka kelas bergantian
langkah kaki bersuara. Semua murid sudah memasuki ruang kelas, termasuk Sesil
yang langsung mengagetkannya.
“Ya ampun, Lo dari tadi di kelas ? Gue cariin di
taman, di kantin, di perpus, taunya di sini.” Oceh Sesil.
“kenapa gak ke kelas nyarinya, emang sekolah ini cuma
terdiri dari taman, kantin, dan perpus doang ?” Jawab Nayla meledek.
“aissssshhh…” Desisnya kesal.
Nayla hanya tertawa melihat sahabat karibnya ini.
Seorang guru pun sudah mengoceh di depan sana, Nayla Nampak serius memperhatikan
penjelasan guru di depan, sesekali pula bercanda dengan Sesil di tengah
pelajarannya.
Jam pelajaran sudah berakhir. Nayla dan Sesil kembali
berjalan bersama menuju gerbang sekolah.
“Gue duluan Ya,” Sahut Sesil, melambaikan tangannya
pada Nayla.
“Bye.”
Nayla berjalan gontai menyusuri trotoar. Berteman
debu dan asap seperti biasanya.
--TBC--
--See you di Bab 3 :)
--TBC--
--See you di Bab 3 :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Pages
Popular Posts
-
Puisi ini aku buat pada tanggal 28 Maret 2015, hari dimana aku ulang tahun, dan idola aku juga meninggal di hari sebelumnya. Olga Syahputra....
-
Annyeong!!!! Chapter VII sudah datang… Nungguin yaaa? –Enggak! L -- This is the next story of “My Mind”. Selamat membaca !!! Ti...
-
Nah, tema kali ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang sering banget kita lakukan. Tapi, tahu gak sih, kalau beberapa dari kebiasaan kita i...
-
Titel : Me + You = Love Author : Muthmainnah (@ienhainha) Cast : Alif matata, Nabila Althafunnisa (OC) Support cast : Ozy Adrians...
-
The Blue Diary Bab 5 “Fact” Buku diary itu masih terbuka dan tersimpan rapi di atas tangannya. Tapi sekarang, bada...
-
MEMBACA BASMALAH DI SETIAP MEMULAI AKTIVITAS Assalamu ’ alaikum Wr.Wb. Hallo teman-teman semua. Kali ini, aku nge-post lagi hal-h...
-
fAKTA DI BALIK BERSIN DAN MENGUAP Assalamu ’ alaikum wr. Wb. Kali ini, aku akan membahas sedikit tentang fakta dari bersin dan me...
-
JANGAN KULIAH KALAU TIDAK SUKSES (Furqon Kholid) A. Hukum-hukum kehidupan 1. Hukum kelembaman “sebuah benda ya...
-
Hayy readers… Ini FF pertamaku,maaf kalau banyak kekurangan, ini semata untuk menuangkan pikiranku … maybe bakalan garing, atau ban...
-
Chapter V datang menyambung cerita kemarin… Selamat membaca !!!! Title : My Mind Author : Muthmainn...
0 komentar:
Posting Komentar