FF ME + U = LOVE [CHAPTER 1]



Hayy readers…
Ini FF pertamaku,maaf  kalau banyak kekurangan, ini semata untuk menuangkan pikiranku … maybe bakalan garing, atau banyak ngaco nya, tapi aku harap kalian have fun bacanya.
Apresiasi kalian berharga banget buat karyaku ke depannya… so leave your comment guys.. J

Happy reading !!!!

Titel :ME + YOU = LOVE
Author : Muthmainnah (@ienhainha)
Cast : Alif matata, Nabila Althafunnisa (OC)
Support cast : Ozy Adriansyah,Salsa winxs, Chand Kelvin, others OC.
Genre : friendship, romance, sad (maybe)

*0 0 0ME + YOU = LOVE00 0*

Hari ini, esok dan selamanya
Aku tetap merindukannya

Chapter 1

Aku berjalan menyusuri jalan yang besar ini. kepulan-kepulan asap kendaraan memang sudah menjadi makanan sehari-hari ibu kota Jakarta. dengan ransel hitam yang kurengek di pundakku, aku berjalan dengan cepat, mengingat 5 menit lagi 7.30 dan aku akan mati jika aku melampaui waktu keramat itu, terkhusus untuk hari Selasa. Why ? karena jam pertama dihari itu adalah AKUNTANSI,tentu saja dengan bayang-bayang guru killer. Aku cukup tergesa-gesa pagi ini, semalam aku begadang nonton konser tayllor swift yang baru aku download, dan alhasil aku kesiangan.

Aku sudah sampai di muka gerbang, aku tak lekas masuk, di depan mataku ada pemandangan yang cukup aneh. Gadis dengan hijab Nampak berdiri di depan pagar yang sudah tertutup itu. Ia tengah menengok-nengok ke arah halaman sekolah,dia memakai seragam sekolah yang sama sepertiku. Apa dia murid di sini ? pikirku.

Aku mendekatinya perlahan, bahkan gerbang yang sudah tertutup itu tidak aku hiraukan.
“kamu siapa ?” tanyaku dengan nada yang aku kira cukup lembut untuk menyapa seorang wanita.
Tapi, dia tidak menjawab, dia hanya menatapku penuh Tanya. Apakah pandangan matanya itu berarti ‘kamu siapa’, atau ‘mau apa kamu’ ? entahlah, aku tidak bisa membaca maksud pandangannya itu, dua bola matanya begitu sayu.

“aku Alif. Alif Matata. Aku siswa di sini,kamu ?” tanyaku sembari mengulurkan tanganku di hadapannya. Dia masih tidak menjawab, dia malah merogoh sesuatu dari dalam tas sampingnya yang berwarna coklat itu. Buku ? pulpen ? buat apa ? pikirku bingung ketika gadis itu mengeluarkan sebuah buku dan pulpen lalu menulis. Sesekali aku mengintip apa yang Ia tulis, tapi tetap saja tidak Nampak,karena jarak kami tidak terlalu dekat untuk melihat apa yang dia tulis.

Nabila Althafunnisa.
Tulisan tegak nan indah memanjakan mataku ketika dia selesai menulis dan menunjukkan padaku hasil tulisannya. Nabila Althafunnisa  ? apa itu namanya ? aku masih menyimpan kebingungan di sudut mataku,entah ada apa dengan gadis ini. sepertinya dia anak baru,aku belum pernah melihat dia sebelumnya,tingkahnya pun sangat aneh.

Dia tidak berbicara sepatah kata pun, dia kembali menatap lurus ke depan gerbang yang tergembok itu, aku pun sadar,aku ternyata terlambat.

Bagus sekali, aku akan dihukum mati oleh guru killer itu, jam pertama adalah Akuntansi dan kesalahan keduaku adalah aku belum menyelesaikan tugas rumahku. ahhhh, aku mendengus kesal, mengingat kebodohan-kebodohanku pagi ini yang tentunya akan berdampak kesialan nantinya, yaaappp, sebuah hukuman.

Aku menggedor-gedor pagar besar bercat putih tulang di hadapanku ini, tiba-tiba seorang pria dewasa berseragam satpam menghampiri kami dengan wajah masam.
“kalian, ini sudah jam berapa. Kenapa kalian terlambat ?” bentak pak satpam berkumis tebal itu.
“saya kesiangan pak, dan dia, sepertinya murid baru.” Jawabku dengan melirik gadis yang hanya berdiri diam di sebelahku ini.
“dasar kalian ini. baiklah, ini kali pertama kamu terlambat kan,Lif. Masuklah cepat.” Seru satpam seusai membuka gerbang besar itu untuk kami.

Aku dan Nabila masuk ke sekolah bersamaan,aku berjalan dengan tergesa-gesa sedangkan Nabila berjalan begitu lamban seperti tidak tahu arah jalan. Aku memang sudah terlambat dan harus langsung ke ruang kelas, tapi aku juga tidak mungkin membiarkan siswa baru ini berkeliaran di sekolah yang luas ini tanpa tujuan. Mungkin dia butuh bantuan. Tebakku.

“kalau kamu mau ke ruang guru, kamu cukup jalan lurus dari sini, nanti ada tangga kamu naik ke lantai dua, ruangan kedua sebelah kanan itu adalah ruang guru.” Paparku dengan jelas seakan aku tahu apa yang dia cari. Entah,apakah penjelasanku tadi adalah sesuatu yang dia butuhkan, aku hanya menjelaskannya karena biasanya murid baru itu selalu mencari ruang guru.
Dia tidak menjawab lagi, dia hanya mengangguk  dan tersenyum  manis padaku. Gadis itu, dia membuatku bingung.

Aku berlari menuju kelasku sepeninggal Nabila dari hadapanku. Kesalahan ketigaku adalah, membiarkan waktuku habis di koridor sekolah untuk seorang gadis yang tidak ku kenal. Setiba di depan ruang kelas ku sterilkan napasku,dan perlahan kuputar knop pintu. Pintu kelas pun terbuka, dan . . . .

O’owwww, tidak ada guru di sini, yang ada hanya 18 pasang mata yang sontak melihat ke arahku. Aku menjadi pusat perhatian sekarang. Yaaa,aku memang keren, tapi bukan kekerenan itu yang membuat orang-orang itu melihatku,tapi karena aku datang terlambat dan langsung mengagetkan mereka dengan pintu yang kubuka barusan, jelaslah mereka kaget, mereka pasti berpikir aku adalah guru killer itu. Hahahah, akupun tertawa kecil dalam hati.

Yaaah, aku bernapas lega guru itu belum masuk. Akupun langsung mengambil ancang-ancang menuju tempat dudukku, tapi tiba-tiba badanku terasa berat, akupun sulit maju, sepertinya bajuku tersangkut di knop pintu. Aku berbalik, dan . . . sangat menakjubkan. Knop pintu tiba-tiba menjadi tangan besar dengan cincin genderuwo melingkar di jari tengah. Aku salting, guru Akuntansi itu mendapatiku terlambat, dan sekarang kesalahan keempatku adalah, aku tidak lekas duduk di bangku ku sejak aku datang, malah melongo lega di dekat pintu masuk.

Aku hanya nyengir melihat wajah garang guru berstelan kemeja putih kotak-kotak, rambut dengan jambul entah berapa senti. Tidak lupa juga tongkat ajaibnya yang kalau udah ngena di kepala, orang itu akan berubah menjadi anak yang rajin, hahaha emang lucu tapi itulah kenyataannya,dan untungnya sejauh ini tongkat ajaib itu belum pernah melayang di kepalaku. Tongkat ajaib itu memang belum pernah nyantol di kepalaku, tapi karena adanya tongkat itu akupun akan menjadi rajin, kerja tugas, diam saat belajar, bertanya saat tidak tahu, aktif menjawab pertanyaan. Kalian tahu kenapa ? hanya ada satu alasan, menghindari pentungan kecil tapi menyakitkan itu. Itu memang tongkat ajaib, belum kena di kepalaku saja sudah menyulapku menjadi anak yang rajin. ---hhahaha----

“anak-anak maaf bapak terlambat masuk. Bapak membawa teman baru untuk kalian.” Ungkap guru killer itu sembari tersenyum ---what tersenyum ? please deh, itu bukan gaya dia--- dan memanggil seseorang di luar kelas. Murid baru itu pun masuk dengan pelan, menyaksikan suasana kelas yang tiba-tiba senyap akan kedatangannya. Dia berlalu di hadapanku. Gadis itu ? pikirku ketika aku menyadari murid yang masuk kelas ini barusan adalah Nabila, gadis yang baru saja menambah detik keterlambatanku masuk kelas. Aku tidak marah,entah justru aku tersenyum melihat dia ternyata murid di kelas ini, sepertinya ini satu keberuntunganku di antara empat kebodohan-kebodohanku di atas. What keberuntungan ? aku juga bingung, kenapa aku menyebutnya keberuntungan hanya karena dia satu kelas denganku.

“namanya Nabila Althafunnisa,panggil saja dia Nabila,dan satu hal yang harus kalian tau, dia memiliki keterbatasan mental, bapak harap kalian bisa mengerti dan berteman baik dengannya.” Tambah guru killer itu ketika Nabila sudah tepat berada di sampingnya.
Nabila hanya tersenyum dan menunduk memberi  hormat kepada teman-teman sekelasku.
“Te…i…ma..ai..” sahutnya tiba-tiba. Kulihat kedua tangannya pun ikut berbicara,sontak merubah wajah tenang teman-temanku menjadi tampang kaget dan suasana kelas menjadi sedikit riuh.
“Oh Tuhan. . . dia bisu ?” pikirku ketika kulihat wajahnya yang senyum manis tadi, berubah menjadi senyum sedih ? malu ? entahlah, aku pikir semacam itu.
Seisi kelas pun mulai bertanya kesana sini, ‘aaaa,dia bisu ?’ ‘hey, dia tidak bisa bicara’ ‘bicara apa dia?’ suara-suara yang mengundang sedih di  wajah innocentnya.

“sudah anak-anak. Bukankah sudah bapak katakan untuk mengerti keadaannya.?” Tegur guru akuntansi yang bernama Chand dengan menepuk meja dengan tongkat ajaibnya. pak Chand akhirnya mempersilakan Nabila untuk duduk di bangku tengah yang kosong, yaappp, persis di samping tempat dudukku.

Aku sudah merasa pegal, guru killer itu sama sekali tidak melirikku,sekalipun dia melirikku dia hanya tersenyum sinis. Dasar guru itu, aku sangat ingin menjambak jambul berminyak itu. Apa dia pikir dua jam itu seperti dua menit ? dua menit berdiri di sini pun aku sudah bisa tewas.---tapi Alhamdulillah belum---

Kriiing…. Kriiingg…. Kriiiinggg….
Bel pergantian jam pelajaranpun berbunyi,itulah yang aku tunggu-tunggu sejak dua jam yang lalu. Aaahh, kakiku, sepertinya ini patah. Kalian tau ? aku berdiri di depan sini selama dua jam,dan itu benar-benar membuat tulang-tulang kakiku akan patah. Oh No, punggungku pun ikut-ikutan sakit. Baiklah, aku tidak akan ikut jam olahraga kali ini, sama seperti beberapa temanku yang sudah mengalami hal seperti ini, mereka juga tidak akan ikut jam olahraga kalau sudah dapat hukuman mematikan seperti yang aku terima tadi.

Aku berjalan kembali ke bangkuku, dengan langkah yang pincang,sungguh kakiku benar-benar ngilu. Sepertinya, lantai kelas ini mulai tidak rata dalam pijakanku. Siswa lain hanya memandangiku dengan tawa ledekan, aku tidak menggubrisnya. Hey, please deh, yang pernah merasakan hukuman seperti ini bukan Cuma aku saja, hampir separuh dari siswa di kelasku ini sudah pernah merasakan patah tulang gara-gara guru killer itu. Its okay.

Semua sudah bergegas meninggalkan ruang kelas dan menuju ruang ganti. Sekarang jam olahraga,dan materinya adalah lari,aku hanya akan duduk menyaksikan teman-temanku saja,aku akan absent untuk materi olahraga kali ini.

Sebagai pemanasan, seperti biasa semua berlari mengeliilingi lapangan basket tiga kali putaran. Aku sedikit bernapas lega,punya alasan untuk tidak ikut berlari. Olahraga ? pelajaran yang tidak begitu aku sukai.

Aku hanya memandangi mereka dari kursi penonton di lapangan di ruangan tertutup ini. perlahan pandanganku tertuju pada sosok gadis berhijab di depan sana,Ia tersenyum, nampaknya dia sudah punya teman meski belum bergaul dengan yang lainnya. Senyumnya Nampak di sela-sela jejak langkahnya. Senyum itu tiba-tiba saja menyejukkan hatiku,entahlah mungkin karena senyum itu manis ? atau dia memang punya lemari es dari balik senyumnya ? aahhh, ngaco.

Setelah pemanasan, aku berjalan perlahan ke tengah lapangan, bukan untuk ikut berlari, hanya saja setidaknya aku bergabung dengan mereka. Akupun duduk mengambil celah di antara dua siswa yang berdempetan sejak tadi. Aku hanya nyengir melihat dua siswa itu melototiku. Kenapa ? apa aku salah ? aku hanya duduk di tempat yang aku inginkan. Tempat yang aku inginkan ? why ? aku pikir hanya ada satu alasan. Tempatku duduk sekarang, tepat berhadapan dengan gadis yang senyumnya menyejukkan hatiku tadi. Yaaa, Nabila, dia duduk tepat di hadapanku, hanya ada satu atau dua meter yang menjadi ruang kosong antara aku dan dia. Aku tidak melihat siswi lain mengajaknya bicara, hanya ada satu siswi yang asyik meladeninya di depan sana, dan Nabila nampaknya fine-fine aja. Untuk hari ini, satu teman pun sudah cukup bukan ?.

Guru olahraga akhirnya memberi intruksi,kali ini pengambilan nilai lari. Tiga orang bergiliran berlomba lari dari ujung hingga pangkal lapangan. Sorak-soraipun mengusik ruangan tertutup ini,perlombaan sudah dimulai,secara bergantian tiga per tiga temanku maju.

Tiga orang terakhir. Salah satu dari mereka adalah Nabila,tanpa wajah tegang di wajahnya dia mulai mengambil posisi awalan di ujung lapangan. Bersedia . . . siap . . . mulai . . . ketiga murid itu menerbangkan raga mereka dengan secepat kilat,dan lihatlah Nabila berlari sangat kencang, begitu ringan membawa tubuhnya berlari. Wajar aja, dia memang kurus.

Jam istirahatpun tiba, semua murid termasuk aku bergegas ke ruang ganti. Aku berniat ke UKS usai ganti seragam. Kakiku benar-benar akan patah kalau masih kugerakkan naik turun tangga, berlenggok ke sana kemari. Lagian sekarang jam pelajaran Geografi. Aku bukannya tidak suka pelajaran Geog, aku hanya malas dengan gurunya yang over temperamental.

Aku kembali ke kelasku untuk mengambil tasku,karena aku akan istirahat di UKS hingga jam pulang. Dari luar kelas tidak ada keriuhan atau semacamnya didalam kelas, kemana temanku ? mmmh mungkin mereka sudah nangkring di kantin sekolah. Aku sudah menapakkan kakiku di dalam kelas, dan aku melihat kesunyian kelas ini, hanya ada Nabila yang tengah asyik dengan buku bacaan di atas mejanya.

“Hay.” Sapaku dengan lembut. Aku tepat berada di bangkuku yang memang bersebelahan dengan bangkunya,aku sembari merengek tasku di pundak. Dia masih membisu ---dia memang bisu--- melirikku pun tidak.
“kamu tidak ke kantin ?” tanyaku lagi. Tapi dia hanya mengangguk tanpa melihat siapa yang sedang berbicara dengannya, apa dia mengenali suaraku ? atau dia tau itu aku karena aku datang ke bangkuku mengambil tas ? maybe.
“ini makanlah. Jangan menyendiri terus, bergabunglah dengan yang lain.” Perintahku seraya menyodorkan roti yang masih utuh dengan bungkusannya. Aku pun berlalu meninggalkan gadis ini sendiri di dalam kelas.

*Author’s POV
Alif telah menyodorkan sebungkus roti kepada Nabila, sedang Nabila hanya memandang roti itu tanpa menyentuhnya sedikitpun. Dia masih asik berkutat dengan buku bacaannya yang sudah habis sepertiganya.

Semua siswa sudah mulai meramaikan kelas. Satu per satu dari mereka sudah menapaki singgasana mereka di kelas ini,dan seorang siswi Nampak menghampiri Nabila ---emang teman sebangku---.
“Bil,kamu udah makan ?” tanyanya seraya duduk di sebelah Nabila.
“a . . u . . pu . .a . .a” jawabnya dengan menggerakkan kedua tangannya pula.
“Bil,aku gak tau kamu ngomong apa.” Jawab teman sebangku Nabila yang bernama Salsa itu dengan sedikit berbisik. Nabila pun hanya tersenyum dan menulis di selembar kertas.
“AKU PUASA.” Begitulah tulisan yang terpampang di kertas putih tadi.
“maaf Bil. Aku gak tau.” Lanjut Salsa dengan raut wajah menyesal.
Nabila hanya mengangguk dengan senyum polosnya di depan teman barunya ini.

Sejauh ini, Nabila sudah mulai berinteraksi dengan teman sebangkunya,Salsa. Meski berbeda dengan beberapa murid lain yang sama sekali tidak pernah mengajak berbicara Nabila atau semacamnya. Wajar bukan ? ini baru hari pertama, mungkin semua masih shocked dengan keadaan Nabila yang bisu.

Pelajaran dimulai,semua sudah mantap dengan lembaran-lembaran kertas yang tersampul dalam satu buku pelajaran. GEOGRAFI,ilmu bumi yang tidak terlalu disukai Nabila. Tapi dia tetap bersikap baik dengan guru yang mengajarinya ini,meski terkadang guru itu meliriknya dengan penuh tanda Tanya, yang seakan bisa dimengerti oleh Nabila.

Empat jam sudah duduk diam di dalam kelas yang mulai sumpek akan suasana panas di luar sana. Bel pulang sudah berbunyi ria yang disambut riuh oleh para siswa termasuk di kelas ini. setelah guru mapel beranjak meninggalkan kelas, murid-murid pun ikut berhamburan keluar kelas. Hanya ada beberapa siswa yang masih duduk di bangkunya dan tidak ikut berdesakan di keramaian siswa di pintu masuk itu. Salah satunya adalah Nabila, Ia hanya duduk manis sembari membereskan buku-bukunya dan memasukkannya kembali ke dalam tas coklatnya.

Nabila sudah beranjak dari singgasananya, dia berjalan di tiap lorong sekolah melewati kelas demi kelas yang mulai kosong. Di tengah Ia asyik berjalan . . . .
Prrrrrkkkkkkkkk….
Nabila terhuyung ke lantai. Tidak sengaja, ternyata Ia bertabrakan dengan Alif Matata. Keduanya masih sibuk membersihkan kotoran yang mungkin melekat pada baju dan tangan mereka.
“a..af” sahut Nabila sembari menundukkan kepalanya.
“gapapa Bil,aku yang jalannya terlalu buru-buru sampai gak liat kamu.” Jawab Alif pula ketika Ia sudah bangkit dari jatuhnya.
“gapapa Bil,serius.” Lanjut Alif ketika melihat wajah Nabila gemeteran.
“a. u . pe . . I . du . u.” sahut Nabila, tangannya pun ikut berbicara.
“mmmm,hati-hati di jalan ya.” Seru Alif . Yaa, Nabila berkata ‘aku pergi dulu’ dengan gerakan kedua tangannya Alif sepertinya mengerti apa yang dikatakan Nabila barusan.
Nabila pun pergi meninggalkan Alif yang masih berdiri di tempat tadi tanpa bergerak sedikit pun. Ia masih memandang gadis lugu itu yang kini hanya Nampak punggungnya saja. Entah, ada rasa kagum yang tiba-tiba muncul di hati Alif.

*Alif’s POV
Aku sudah memanjakan diriku di kamar, bersama lagu  Bring Me The Horizon,Sleepwalking. Kunikmati lagu indah itu dengan ikut bernyanyi mengikuti lirik demi lirik yang dinyanyikan salah satu band favoritku itu. Aku beranjak dari tempat tidurku yang tidak begitu besar, aku berjalan ringan ke arah meja belajarku yang penuh dengan tumpukan buku-buku bacaan,tak lupa benda elektronik yang sangat penting bagi pelajar khususnya tingkat SMA seperti aku,yapp sebuah notebook berwarna hitam turut meramaikan meja belajarku  yang memang cukup luas.

Kuambil sebuah buku yang tebalnya kira-kira 40 lembar,buku yang kuisi dengan sejumlah kata-kata curahan isi hatiku. Bait-bait puisi, uraian lirik lagu buatanku, ku mencoba mengisi lembaran yang masih kosong.

Pertemuan yang tak pernah kuduga
Kusapa dia, aku pun tersenyum padanya
Kulihat garis wajahnya yang begitu indah
Baris-baris senyum yang Ia umbar
Menyejukkan hati kosong ini
Dengan hijab indah itu
Meneduhkan wajah anggunnya
Aku bertanya-tanya
Siapa dia ?
Tidak bisakah semenit saja bersamanya
Agar bisa kulihat indah senyumnya
Agar bisa kukenali dia
Agar bisa lebih kumengerti isyaratnya
Hey,gadis tunarungu
Aku mengagumimu
Aku mengagumimu
Aku mengagumimu

Sebait isi hatiku yang kutuangkan dalam lembaran puisi. Entah, bagaimana aku bisa menulisnya, seperti dorongan dari hati kecilku,hati  yang memintaku mengabadikan pertemuan pertamaku dengan gadis tunarungu itu. Memang aku mengaguminya, tapi aku tidak tau dari sisi mana aku kagum padanya,wajahnya ? dia memang cantik. Senyumnya ? dia memang manis. Hijabnya ? dia memang muslimah. Lalu ? keterbatasannya ? entahlah,hatiku yang cukup tau bagaimana pemaparan tentang kekagumanku saat ini.

Lagu Bring Me The Horizon berhenti mengalun,sekarang di tape-ku tengah mengalun lembut lagu ‘Wake Me Up When September End’. Irama nan indah menyentuh dua indera pendengaranku,kini mengundang rasa kantukku,aku beranjak dari kursi yang mulai hangat itu, aku pun lelah dan kutewaskan diriku di pembaringanku,kulahap perlahan lagu-lagu yang mulai berganti,tak sadar aku sudah pindah alam. Alam mimpi yang mungkin lebih indah dari realita yang ada.

____

*Nabila’s POV
Mataku terasa lelah, aku baru saja kembali ke dunia melewati mimpi yang cukup panjang menjaga tidurku.  Aku beranjak dari tempat tidurku yang sedikit lusuh,ku buka knop pintu, aku melangkah menuju lantai bawah,dari atas sini aku sudah mencium aroma masakan yang memanjakan indera penciumanku.

“Nabila,kamu sudah bangun ?” Tanya seorang pria paruh baya yang tengah sibuk menata meja makan, aku hanya mengangguk dan duduk di antara beberapa deretan kursi yang melingkari meja makan ini.
“bagaimana sekolahmu,Bil ?” Tanya lelaki tadi.
‘Biasa-biasa saja’. Jawabku dengan bahasa isyarat seorang tunarungu.
“kamu sudah punya teman ?”
“emh.” Jawabku dengan tersenyum.
Dia hanya mengangguk,kami pun mulai menyantap makan malam yang masih hangat.
Laki-laki paruh baya itu adalah omku,adik kandung dari ayahku. Aku tinggal dengannya sejak satu bulan yang lalu,sementara ayahku tengah bekerja di Jepang,dan ibuku,dia meninggal ketika kecelakaan mobil yang menimpa kami satu bulan yang lalu.

Dengan lahap kusantap makanan omku yang memang jago masak. Tidak cukup waktu yang lama untuk aku habiskan makan malam,aku sudah selesai di suapan terakhirku dan seteguk air putih kini sudah membasahi tenggorokanku. Aku membereskan meja makan ini,kubawa piring-piring kotor yang memang tidak seberapa. Seperti biasa, omku tidak pernah mengizinkanku untuk terlalu lelah,Ia tidak pernah membiarkanku melakukan pekerjaan yang menurutku adalah pekerjaan ringan, termasuk cuci piring. Aku tidak melawan,omku terlalu keras kepala tiap aku mengatakan ‘aku baik-baik saja’.

Selepas dari ruang makan,aku meninggalkan omku di lantai bawah, aku berjalan ringan menuju balkon rumah yang bertingkat dua ini. tempat kesukaanku, tempatku melepas gundahku, tempatku menghirup angin malam, tempatku berkhayal, tempatku merindukan masa laluku, tempatku berbincang dengan almarhumah ibuku.

Aku sudah berdiri di pinggir balkon,angin malam sudah menerpa wajahku yang memang kusut sejak bangun tidur tadi. Kurasakan indahnya kota ini,sejuknya malam ini. pemandangan malam yang seperti biasa, dipenuhi dengan kiasan-kiasan indah. Bintang, bulan, langit malam. Kunikmati semuanya dalam sepi.

Tiba-tiba aku teringat kejadian hari ini. Aku bertemu seorang murid laki-laki yang begitu akrab menyapaku,dengan biasan senyum yang begitu menawan, laki-laki yang dengan sigap mengerti bahasaku,Alif Matata. Yaah,aku ingat namanya. Aku merasa ada beda darinya,dia begitu ramah menyapa dan memperlakukanku, sejak awal kami bertemu hingga dia tau bahwa aku seorang tunarungu. Apa dia memang diciptakan seramah itu ? entah,aku malah tersenyum sendiri mengingat pertemuan tadi pagi.

*Author POV
Pagi cerah sudah menyapa langit Jakarta. Seorang perempuan sudah duduk manis di antara beberapa orang di halte bus. Tidak berapa lama, bus yang ditunggu gadis tadi pun tiba,Ia dengan segera masuk mengambil tempat yang kosong. Nampaknya bis ini tengah lengang dari penumpang, terlihat jelas hanya ada beberapa kursi yang terisi. Gadis tadi memilih duduk di kursi panjang di bagian belakang bis,Ia mengedarkan pandangannya keluar jendela, sebelum bis melaju.

Seorang laki-laki dengan terburu-buru mengambil tempat duduk tepat di samping gadis ini yang tiba-tiba  mengejutkannya dan menghentikan keasyikannya melihat pemandangan di luar jendela bis. Laki-laki yang terburu-buru itupun tengah merapihkan pakaiannya yang tadi acak-acakan. Gadis tadi menengok ke arah seseorang yang sempat mengejutkannya beberapa detik yang lalu,gadis itu Nampak sedikit kaget melihat sosok di sampingnya yang ternyata seseorang yang dikenalinya. Laki-laki itupun tanpa sengaja melihat gadis yang ada di sampingnya, sontak matanya terbelalak.
“kamu,naik bis ini juga ?” pria tadi membuka bicara ketika gadis itu sudah mengalihkan pandangannya.
“maaf, tadi aku kayaknya ngagetin kamu.” Tambah pria itu,yang hanya digubris melalui anggukan kecil.
“kamu tau aku,kan Bil ?” Tanya Pria pada gadis yang ternyata adalah Nabila.
“sejak kemarin,kamu tidak merespon baik pertanyaan aku. Kamu gak suka sama aku ?” lanjut pria itu.
Nabila hanya membalikkan pandangannya pada Alif sambil tersenyum.
Yaappp,pria tadi adalah Alif,dia berangkat sekolah dengan terburu-buru sampai-sampai bajunya belum dimasukkan,dasinya masih belum berbentuk.
“Bil,ngomong sesuatu kek.” Lanjut Alif. Tiba-tiba Nabila memandangnya dengan tatapan penuh Tanya, Alif pun menyadari sesuatu.
“ma. . maksud . .a . .aku, . . .” sahut Alif yang tiba-tiba dipotong oleh Nabila
‘Senang berkenalan denganmu’
Nabila tiba-tiba mengeluarkan suaranya disertai bahasa isyaratnya yang membuat Alif melongo sejenak.
Mendengar suara putus-putus Nabila tadi membuat Alif sedikit senang, Ia tidak lagi berbicara, Ia hanya tersenyum,dan mengangguk-angguk,Alif nampaknya mengerti yang Nabila sampaikan.

7.15. jam pelajaran pertama 15 menit lagi akan dimulai, Alif dan Nabila kembali berjalan bersama masuk ke dalam halaman sekolah, upps, kali ini bukan sampai ke halaman lagi, tapi sampai di dalam kelas. Sontak, beberapa teman sekelasnya yang sudah mantap di kelas memandangi mereka penuh Tanya, bahkan ada juga  yang memandang mereka dengan sinis. Mmm, bukan, bukan mereka, pandangan sinis itu Cuma untuk Nabila. Gadis-gadis centil di kelas ini pun melempar sorotan mata tajam pada Nabila ketika sudah duduk di bangkunya, bahkan teman sebangkunya pun terbelalak melihat pemandangan barusan. Heyy, apa yang salah ? mereka Cuma jalan ke sekolah bareng, itupun bukan kesengajaan.

“kamu hampir terlambat lagi Bil.” Ujar temannya menghentikan bengongnya sendiri.
“emm.”
“kamu kok bisa jalan bareng Alif ?” Tanya Salsa sedikit berbisik, Ia tidak membiarkan siswa lain mendengarnya.
Nabila yang merasa aneh karena masih dipelototi tajam oleh beberapa pasang mata,hanya mengedipkan bahunya.
“hati-hati ya Bil.” Sahut Salsa yang tiba-tiba membuat Nabila merinding.
‘tunggu, apa yang aku perbuat ? kenapa mereka melototiku terus ? dan kenapa aku harus hati-hati ?’ pikirnya sejenak ketika Salsa usai melepas bicaranya.

*Alif POV
Aku melepas tasku, akupun duduk di bangkuku. Sesekali ku lirik Nabila yang duduk di samping mejaku bersama dengan pandangan-pandangan sinis teman-teman perempuanku kepada Nabila. Entah apa yang ada di pikiran mereka,bola mata mereka bahkan hampir keluar dengan sorortan tajam itu. Hey, gadis-gadis tengik, turunkan pandangan kalian itu,kalian pikir mata kalian bagus.

Beberapa waktu berselang,guru cantik dengan stelan ala guru ---emang dia guru--- mulai membuka pelajaran. Kata demi kata diucapkannya. Oh No, please, ini baru jam pertama,guru itu sudah membuatku mengantuk saja.

*Author POV
Bukan hal yang asing lagi bagi pelajar duduk sampai empat jam dalam ruangan yang pengap, tambah pengap kalau mendengar guru mapel bilang, ‘siap-siap yahh anak-anak,minggu depan kita ualangan mulai BAB pertama sampai BAB kedua’. Yaah,suasana riuh pun tak bisa terelak,Alif dan semua teman-temannya serentak mendesah mengeluh atas kalimat yang mengerikan itu.

Jam istirahat sudah tiba,semua murid meninggalkan kelas yang berakhir riuh tadi. Alif Nampak menghampiri Nabila yang ditinggal Salsa ke kantin.
“hey,ke kantin yuk.” Ajak Alif sembari duduk di bangku depan Nabila.
Kamu duluan aja’ jawab Nabila gagu dengan gerakan tangannya yang dapat dimengerti oleh Alif..
“udah deh, kita bareng aja. Kamu gak mau aku narik kamu kan ?” canda Alif yang membuat Nabila sedikit menarik bibirnya membentuk lengkungan bulan sabit.
Mereka pun berjalan bersama menuju kantin sekolah,di sepanjang koridor sekolah, semua mata memandangi mereka,Alif hanya memandang itu cuek, sementara Nabila merasa sedikit terganggu,karena sejak pagi tadi Ia tidak henti-hentinya dipelototi beberapa orang.

Keduanya sudah mengambil posisi di kantin,tepatnya di meja sudut yang memang tinggal satu-satunya meja yang kosong. Alif memesan dua minuman dingin dan dua porsi mie rebus.

“kamu pinjam bukuku aja yaa, nakal-nakal gini catatanku lengkap loh.” Alif membuka pembicaraan di tengah lahapnya mereka menyantap jajanan kantin mereka. Nabila hanya mengangguk dengan tersenyum kepada Alif, yang kembali dibalas senyum oleh Alif.

Rasa bahagia kini menyelimuti batin Alif, tak menyangka Nabila bisa terbuka seperti ini, mengingat cueknya Nabila kemarin terhadap dirinya.

____

Jam pulang sudah tiba, Alif bergegas keluar kelas ketika melihat Nabila sudah meninggalkan ruang kelas dari tadi. Alif semakin PeDe aja ngedeketin Nabila,sejak Nabila yang mulai membuka komunikasi dengannya.
“Bil. . .” teriak Alif ketika Nabila sudah mantap berjalan di depan pagar sekolah. Nabila pun menengok melihat Alif yang berlari mengejarnya.
“kita pulang bareng yaa.” Ajak Alif, yang disambut anggukan manis dari seorang Nabila yang sedari kemarin ditunggu oleh Alif.

Keduanya kembali beriringan menuju halte bus,karena Nabila yang tidak bisa bicara, Alif ngerem beberapa pertanyaan yang ingin Ia tanyakan,itu hanya akan menyulitkan Nabila dan juga dirinya untuk mengerti.
Sekarang,bis sudah tiba tepat ketika mereka sampai di halte, ini berarti mereka gak perlu lagi nunggu bis lama-lama. Mereka kembali duduk di tempat yang sama,di kursi panjang belakang yang kebetulan tidak diisi oleh penumpang.
“rumah kamu jauh dari sekolah ?” alif mencoba memecah diam diantara dia dan Nabila. Nabila merogoh sesuatu dari dalam tas coklatnya. Sebuah buku mungil berwarna hijau,dan sebuah bolpoin sudah ada di tangan Nabila.
’20 Menit cukup dari sini ke rumahku’ tulisan Nabila merekah di atas kertas putih miliknya.
“emh,jadi kamu terus naik bis dong ke sekolah ?” oceh Alif lagi. Kali ini Nabila tidak menulis, Ia hanya mengangguk pelan.
“besok,kita bareng yaa ke sekolah ? aku jemput kamu di rumah kamu,kita barengan ke halte.” Ujar Alif.
‘enggak usah’ jawab Nabila dengan bahasanya.
“gak papa Bil,pas kamu turun nanti aku kan bakal tau rumah kamu. Besok pagi kamu tunggu aku aja di depan rumah kamu,emh ?” ajak Alif. Sekarang Nabila pun mengangguk menerima tawaran Alif.
“Yes… sebelum jam tujuh aku pasti udah ada di rumah kamu,oke.” Lanjut Alif,dia girang banget kali ini, Nampak jelas di raut wajahnya.

*Alif POV
Aku seneng banget,entah angin apa yang nyambar Nabila sampe bisa seramah itu nanggapin aku,gak kayak kemarin yang selalu memasang wajah cuek tiap aku ngajak dia ngomong. Its okay, itu kemarin, yang terjadi sekarang yaa itulah kenyataannya.

Aku mengambil gitarku yang kusimpan di pojok kamar samping meja belajarku,gitar yang selama ini selalu menemani kisahku. Membayangkan hari ini, rasanya sedikit sulit membuat lagu galau,itu tidak sesuai dengan keadaanku kali ini. aku hanya memetik beberapa senarnya,kunikmati petikan-petikan yang kubuat, kurasakan semuanya sendiri di dalam sangkarku.

To Be Continue

Gimana readers ? garing yaa ???
Huuhuuhu.. maklum baru pemula, tapi semoga kalian gak nyuekin FF ini yaa. Butuh kritikan dan saran kalian.. Chapter selanjutnya nyusul.
Tiinkiiiuuuu J

6 komentar:

Unknown mengatakan...

FF nya bagus,, ceritanya garing beneran :v

Lanjutkan (y)

Unknown mengatakan...

siiiaapppp.. tunggu yaa next chapter.y :)

Unknown mengatakan...

Nice (y)

Unknown mengatakan...

FF nya bagus :-)

Unknown mengatakan...

Maksih :)

Unknown mengatakan...

Alhamdulillah :)

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman