FF My Mind [ Chapter 7 ]
Annyeong!!!! Chapter VII sudah
datang… Nungguin yaaa? –Enggak! L--
This is the next story of “My Mind”. Selamat membaca !!!
Title
: My Mind
Author :
Muthmainnah
Cast :
Kim Jong In (EXO), Kim Soo Jin (OC), Lee Hye Ri (OC), Soo Yoo Ra (OC), Kang Minhyuk
(CNBlue)
Genre :
School life, family life, romance, friendship, sad (?)
Length : Chaptered.
My Mind
Chapter
VII
HyeRi melangkah perlahan
menghampiri wanita tua yang dilihatnya tengah menengok-nengok ke dalam toko.
“Ahjumma!” Tegur HyeRi.
Ahjumma itu berbalik dengan
perlahan dan memandangi HyeRi penuh Tanya.Ada seumbar senyum yang tergores di
sudut bibir HyeRi mendapati wanita paruh baya itu menoleh padanya.
“Ahjumma, ini benar Anda?”Tanya
HyeRi sumringah.
“HyeRi?”Tebak wanita itu.
“Ne. Annyeonghasaeyo! Wah, sudah
sangat lama eommoni.”
Untuk melepas kerinduan, HyeRi
dan nyonya Kim membelok arah dari muka toko menuju restaurant yang berada tidak
jauh dari tempat mereka sebelumnya.
Keduanya segera mengambil posisi
ternyaman mereka di restaurant ini.Beberapa pembahasan sudah menjalar dalam
pertemuan mereka.
“Oiyaa emeonni.Kapan Kai kembali
dari China?Dia tidak berubah drastis, hanya saja sikapnya yang sedikit aneh.”
Tutur Hye Ri seraya menyeruput minuman di hadapannya.
“Kai?” Sahut
Nyonya Kim bingung agak kaget.
“Ne. Aku bertemu dia beberapa
hari ini, dia seperti orang yang tidak mengenaliku.Menyapaku pun tidak.” Oceh
HyeRi.
“Kai di Korea?”
“Ahjumma mollasseo?Eotteohkkae?”
“emm…”
“Ahjumma!”
“HyeRi-ah.Dimana saya bisa
bertemu dia? Saya benar-benar merindukan Kai dan Soo Jin”
“Kalian belum pernah bertemu?Soo
Jin eonni juga?”
“Emh.Soo Jin tidak ingin ahjumma
menemui Kai.Kai pun tidak mengingat ahjumma.”
“Waeyo?”
“Kai mengalami kecelakaan ketika
di China, dan itu menyebabkan Ia kehilangan ingatannya.”
___!
Flashback !___
Nyonya Kim dan Tuan Kim
keliyengan setelah mendapat telepon dari sekretarisnya yang berada di Beijing
bahwa Kai kecelakaan.Usai mengurus surat-surat penerbangan mereka, hari itu
juga keduanya terbang ke negeri tirai bambu.Dengan perasaan kalap, keduanya tak
mampu lagi mengudarakan napas seperti biasanya, nada-nada hati mereka kacau
bercampur gelisah dan takut.
Hampir enam jam sudah mereka di
pesawat, suasana di bandara sudah menanti mereka. Mereka dengan sigap memanggil
taksi dan berangkat menuju salah satu rumah sakit di Beijing.
Dengan langkah kikuk, mereka
menapaki ubin demi ubin rumah sakit.
“Where’s Kim Jong In’s room?”
Tanya Nyonya Kim dengan bahsa Inggris lantara Ia kesusahan untuk menggunakan
bahasa
mandarin.
“I’m so sorry madam, Kim Jong In
already exit yesterday.” Sahut suster yang usai mengecek daftar pasiennya.
Kaget.Tentu saja.Kemarin
sekretarisnya menginformasikan kepada mereka bahwa Kai masih berada di rumah
sakit ini.Dengan gontai, mereka meninggalkan rumah sakit ini dan berhambur di
antara laju warga Beijing di kisaran trotoar.
Tuan Kim segera mengambil
ponselnya dari sakunya.Ia menekan tombol tiga, panggilan cepat untuk SooJin.
Hanya terus berdering tanpa ada jawaban, berkali-kali tuan Kim mendengus kesal
memandangi layar ponselnya, wajah seringainya pun sudah menjadi-jadi bak siap
memangsa siapa saja yang ada di hadapannya.
“Yeobu, eotteohkae?” Adu Nyonya
Kim.
“Kamu bisa tenang bukan?Aku
sedang berusaha menghubungi Soo Jin.” Bentak tuan Kim.
Amarahnya mulai membuncah, entah
dititik mana.Sejak kemarin, Soo Jin tidak pernah mengangkat teleponnya, bahkan
Soo Jin tidak memberitahukan kejadian yang menimpa Kai pada mereka.
“Yeobosaeyo!”Suara lembut
bermuara dari balik ponsel.
“Kyaaa Kim Soo Jin!” Gertak
Tuan Kim.
“Soo Jin?” Celetuk Nyonya Kim
yang sudah pucat sedari tadi.
“Eodiya?”Tanya Tuan Kim kasar.
“____”
“Kyaaaaa!!!” Teriak Tuan Kim penuh seringai.
“Appa?”Soo Jin bersuara santai.
“Eodintagu?”
“Choyo?”
“Soo Jin-ah.Eodiya?”Nyonya Kim
menimpali dengan serak beratap.
“Eomma!Kai aku bawa jauh dari
kehidupan yang menbekamnya.Gwaenchana?”
“Soo Jin-ah, malhaejwo
palli.Kalian dimana?Eoh? Eomma, Appa, merindukan kalian. Bagaimana kabar Kim
Jong In?” Rengek Nyonya Kim.
“Eotteohkae?Kai mungkin tidak
merindukan kalian!”Jawab Soo Jin penuh ambisi.
“Kyaaa, apa kamu sedang bercanda
sekarang?Dimana kamu? Dimana Kai?” Sergah Tuan Kim pula.
“Kai . . . Dia, tidak mengingat
siapa-siapa, selain dirinya sendiri, dan juga saya.” Lanjut Soo Jin serius.
“Mworagu?”
“Eomma, Appa! Mianhae.Seharusnya aku menceritakan
tentang kalian padanya.Geundae, suatu hari disaat kami masih di Korea, Kai
pernah meminta, jika saja dia bisa kehilangan ingatannya tentang eomma dan appa
mungkin itu lebih baik untuknya.Mianhae.Ini bukan suatu kebetulan, tapi takdir
Tuhan, dari kecelakaan yang menimpa Kai itu, menciptakan Kai kembali menjadi
sosok yang diinginkannya selama ini. Aku akan mengurus Kai, dia adikku, aku akan menjadi ayah dan
ibu buatnya. Kalian tidak usah khawatir, dia akan menjadi dancer terbaik di
dunia, di hadapan kalian, Kai akan menari. Dia mungkin akan mengingat semuanya
kembali, geundae, dia akan memahaminya kenapa saya tidak menceritakan tentang
eomma dan appa padanya. Bagus bukan, aku tidak menceritakan seperti apa eomma
dan appa memperlakukannya. Kai masih sangat gemar menari, dia juga masih
melakukan kebiasaan-kebiasaannya, meskipun dia sangat sering bertanya,’kenapa
dia melakukan hal yang seperti itu?’.Suatu hari ketika Kai mengingat ingatannya
dan marah padaku karena tidak menceritakan tentang ayah dan ibunya, aku siap
pergi dari kehidupannya.Untuk sekarang ini, biarkan aku bersama Kai, menggali
dunia yang baru.Biarkan kami, Appa, eomma.Aku tau, kalian tidak bisa terima
ini, kalian pasti sulit dan tidak ingin melepas kami, tapi aku mohon, relakan
kehidupan baru kami. Kami akan bertahan, dan kelak akan kembali pada kalian
ketika kami sudah menampakkan bahwa dunia kami memang akan mengantarkan kami
pada kesuksesan dan kebahagiaan, bukan malah berada di dunia yang Appa dan
Eomma inginkan yang mungkin akan sukses di mata kalian, tapi berbuah palsu di
mata kami.” Jelas Soo Jin dalam.
Penuh isakan dan amat lembut.Ada
sayatan juga dalam hatinya bercerita panjang lebar kepada dua orang yang
disayanginya itu.Hidup jauh dari mereka?Itu tidak mungkin mudah bagi semuanya,
tapi bagi Soo Jin, sebaiknya memulai semuanya dari awal dan kembali ketika
semuanya sudah pulih. Kehidupan simpang siur yang Soo Jin dan Kai jalani,
ketidak puasan sang Ayah dan Ibunya akan gelimangan harta yang sudah didapatinya
membuatnya lengah berpatri pada segala hal yang diinginkan eomma dan appanya.
Kembali? Mungkin suatu hari nanti, ketika hati Soo in melebur dari amarahnya
terhadap kedua orangtuanya. Entah sampai kapan. Hanya waktu yang akan
menjawabnya.
“Soo Jin-ah” Tegur Nyonya Kim
lembut.Ada butiran cinta dan haru yang mengalir dalam
batinnya, gemuruh duka yang menyelimuti kalbunya.Air mata pun menghujani wajah
sendunya.
“Eomma, Appa! Saranghamnida!”
Tiiiiiiiiiitttttttttttttt!!!!!!
Hubungan terputus. Kalimat terakhir
SooJin yang kembali menguras air mata Nyonya Kim, dan kesyock-an dari Tuan Kim
yang entah keliyengan memandang jeli pada dunia didepannya yang seakan ikut
berkecamuk bersamanya.
“Yeobu.Eotteohkae?” Jerit Nyonya
Kim.
Tuan Kim terdiam.Ada segudang
perasaan bersalah dalam batinnya.Kejam?Yaaa, kejamlah dirinya di matanya
sendiri.Dan berpisah dari anak-anaknya adalah ganjarannya.Ia terus menatap
lurus ke depan, rintikan hujan yang mulai deras seperti tak dirasainya,
membiarkan wajahnya terguyur seolah Ia ‘berair mata’.
___!
Flashback end !___
Hye Ri tercengang, cerita yang
memang ampuh untuk menjadi korekan cerita sedih bagi Nyonya Kim yang kini
kembali bersimpuh tangis. Dengan lembut, HyeRi menenangkan Nyonya Kim, seulas
senyum yang mungkin berat itu perlahan timbul.HyeRi mendekap erat Nyonya Kim.
Dan sekarang, Hye Ri akhirnya
tahu, kenapa sikap Jong In berbeda padanya sejak pertama kali bertemu. Tentu
saja Kai tidak menyapanya waktu itu, Kai tidak mengingatnya.
___!!!___
HyeRi berjalan gontai
meningggalkan rumahnya.Ia tidak melangkah ke arah sekolahnya, Ia membelok ke
satu arah, menuju Ghangju Senior High School, sekolah dimana Kai belajar. Dari
jauh, lambang sekolah Ghangju memanjakan matanya, siswa dan siswi berhambur
memasuki lingkungan sekolah yang bangunan-bangunannya menjulang tinggi didepan
sana, rapi dan sangat indah.
HyeRi melongo-longokan pandangan
ke dalam tiap selip gerbang sekolah, berusaha membidik satu persatu murid yang
berlalu lalang, bisa jadi, namja yang dicarinya itu mampir di penglihatannya.
Dari jarak dua meter dari pintu
gerbang sekolah Ghangju, HyeRi masih berdiri dengan berkacak pinggang.
Seseorang mengangetkannya, ada tepukan yang dirasa bahunya.Ia perlahan
berbalik. Matanya terbelalak, adu pandangan yang terbilang cukup lama antara
keduanya.
“Hye Ri?” Tegur namja itu.
“Kai!” Jawab Hye Ri simple seraya
membubarkan keterpakuannya.
“Sedang apa kamu disini?”
“Aaa, emm… Aniyo.” Jawab Hye Ri terbata-bata.
“Geuraeyo?Kalau begitu aku masuk
duluan ya.” Lanjut Kai meninggalkan Hye Ri.
“Ce..Ce ..Chakkamman!” Sergah Hye
Ri.
“Waaeyo?” Kai menghentikan
langkahnya dan kembali memutar pandangannya kea rah Hye Ri.
“Naneun Lee Hye Ri-ieyo.”
“Arra!”Jawab Jong In mengangguk
bingung.
“Naneun. . .”
“____” Jong In masih
memperhatikan Hye Ri dengan bingung.
“Naneun Lee Hye Ri-ieyo.” Ulang
Hye Ri dengan wajah tegangnya.
“Lee Hye Ri.Arrattagu!”Jawab Kai
lagi.
“Kim Jong In!” Teriak Hye Ri.
“Emh?”
“Naneun . . .”
“____”
“Lee Hye Ri-ieyo.”
Kedua makhluk (?) ini kembali
beradu pandang, Kai mencoba memaknai arti ‘perkenalan’ Hye Ri barusan
terhadapnya dan juga tatapannya yang seakan sedikit geram. ‘Lee Hye Ri?’
“Apa kamu benar tidak ingat?
Secuil pun?” Lanjut Hye Ri serius.
“Ne?”
“Hai kamu gadis pengagum burung
merpati, bisakah kamu berikan padaku sesuatu yang akan mengingatkanku padamu
saat aku tidak bersamamu?Hai kamu gadis banyak protes, mau aku ajari menari?Hai
kamu gadis cengeng, apa kamu tau, aku peduli sama kamu, lalu kenapa kamu selalu
menangis di danau ini dan membuatku terus merasa bersalah dan benar-benar terlihat
seperti orang yang jahat di hadapan air danau.” Tutur Hye Ri.
Kai merasakan goncangan dalam
dirinya, sesaat lagi jika dirinya tak dapat menjaga keseimbangan tubuhnya maka
Ia akan benar-benar ambruk. Kalimat-kalimat itu, terekam jelas dalam memori Kai
sekarang ini.
“Neo . . .” Ucap Kai.
“____”
Kai segera merogoh tangannya
mengambil sebuah benda yang memang selalu dikantonginya.Ia mengangkat benda
berkilau itu tepat di hadapan matanya yang turut pula dilihat oleh Hye Ri dari
jarak beberapa meter itu.
“Lee Hye
Ri?” Lanjut Kai.
TBC
Oh No. apakah cerita yang ini
membingungkan? Dialognya?Alur ceritanya? Semoga nyambung yaaa…
See you di chapter VIII J Annyeong!!!
20.36
|
Label:
FANFICTION
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Pages
Popular Posts
-
Puisi ini aku buat pada tanggal 28 Maret 2015, hari dimana aku ulang tahun, dan idola aku juga meninggal di hari sebelumnya. Olga Syahputra....
-
Annyeong!!!! Chapter VII sudah datang… Nungguin yaaa? –Enggak! L -- This is the next story of “My Mind”. Selamat membaca !!! Ti...
-
Nah, tema kali ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang sering banget kita lakukan. Tapi, tahu gak sih, kalau beberapa dari kebiasaan kita i...
-
Titel : Me + You = Love Author : Muthmainnah (@ienhainha) Cast : Alif matata, Nabila Althafunnisa (OC) Support cast : Ozy Adrians...
-
The Blue Diary Bab 5 “Fact” Buku diary itu masih terbuka dan tersimpan rapi di atas tangannya. Tapi sekarang, bada...
-
MEMBACA BASMALAH DI SETIAP MEMULAI AKTIVITAS Assalamu ’ alaikum Wr.Wb. Hallo teman-teman semua. Kali ini, aku nge-post lagi hal-h...
-
fAKTA DI BALIK BERSIN DAN MENGUAP Assalamu ’ alaikum wr. Wb. Kali ini, aku akan membahas sedikit tentang fakta dari bersin dan me...
-
JANGAN KULIAH KALAU TIDAK SUKSES (Furqon Kholid) A. Hukum-hukum kehidupan 1. Hukum kelembaman “sebuah benda ya...
-
Hayy readers… Ini FF pertamaku,maaf kalau banyak kekurangan, ini semata untuk menuangkan pikiranku … maybe bakalan garing, atau ban...
-
Chapter V datang menyambung cerita kemarin… Selamat membaca !!!! Title : My Mind Author : Muthmainn...
0 komentar:
Posting Komentar