Cerbung [The Blue Diary Bab 5]
The Blue Diary
Bab 5
“Fact”
Buku diary itu masih terbuka dan tersimpan rapi di
atas tangannya. Tapi sekarang, badannya tak setegap awal Ia membaca buku diary
ibunya, kini kepalanya sudah berada di samping ibunya, matanya pun terpejam.
Yaaa, Ia tertidur. Setidaknya sudah ada beberapa lembar yang teniang dalam hamparan
ingatannya sekarang. Kisah kasih ibunya yang begitu indah dan menyenangkan.
Entah bagaimana kisah ibunya di lembaran selanjutnya.
**
Matahari pagi sudah menyapa. Berkas cahayanya terbias
memasuki celah jendela kamarnya. Ia masih sibuk dengan tumpukan buku-buku
pelajarannya, di sampingnya pun sudah ada senampan kecil sarapan untuk ibunya.
Tidak berapa lama Ia menyelesaikan tugas sekolahnya,
Ia segera membawkan sarapan itu kepada Ibunya. Sejurus kemudian, seperti biasa
kiriman bunga ke-24 sudah nangkring di depan pintu rumahnya.
‘Matahari
dunia pun tak Nampak lagi, kesusahan hati mencengkramku ’
Hanya ada hembusan napas berat di sana. Tanpa berpikir panjang, segera Ia tutup kembali
pintu rumahnya rapat-rapat.
Usai Ia letakkan bunga mawar itu di dekat beberapa
deretan bunga yang sebelumnya sudah tertata rapih, Ia segera melayangkan
langkahnya berhambur ria dengan hiruk pikuk kota Jakarta.
Perasannya tidak sebagus pagi-pagi yang lalu, kali
ini hanya ada setengah semangat dan setengah lelah. Entah apa yang telah
membebani pikirannya, sejak Ia tahu masa lalu ibunya dan Ayahnya. Mungkin saja
perasaannya hanya sedikit goyah oleh kekecewaan, kehampaan, kerinduan. Semua
mungkin tengah menggunung di batinnya. Sekarang, buku biru itulah yang
menuntunnya menelusuri cerita lama kedua orang tuanya.
Tunggu!
Nayla Nampak membelok. Ia tidak ke arah sekolah, Ia malah dengan pandangan
kosongnya berjalan tegap menuju kafe yang berada tidak jauh dari kompleksnya.
Belum ada banyak pengunjung di kafe itu, maklum ini baru setengah tujuh, kafe
itu pun baru beberapa menit yang lalu terbuka. Dengan gontai, Ia memasuki kafe
hening itu. Hanya ada dua waitress yang terlihat tengah menata beberapa barang
di atas meja kerja mereka, dan sepertinya masih ada beberapa orang yang tengah
menciptakan sedikit kebisingan dari dalam pentry.
Ia mengambil tempat yang tidak jauh dari pandangan
jalan raya. Di dekat jendela bening itu, Ia menghempaskan badannya dengan
segan. Tak peduli sekeras apa kursi kafe itu menumpunya.
“Ade mau pesan apa?”
Seseorang menghampirinya. Sepertinya salah satu
waitress yang dilihatnya tadi. Tapi, Sekarang ini, pandangan Nayla tertuju pada
kehidupan di luar sana. Kebahagiaan, kebersamaan, kebencian, kemunafikan, kerja
keras, kepuasan, kekecewaan, semua beradu di pandangan matanya. Ada sangat
banyak aktivitas yang melintas dalam bola mata indahnya yang sesekali
mengundang bibirnya untuk tersenyum simpul.
“Adee’, mau pesan sesuatu ?” Tanya waitress itu lagi.
Nayla segera membuyarkan pandangannya dari pemandangan
di luar sana. Kini matanya tertuju pada wanita semampai, yang tidak terlalu tua
ini.
“Kenapa ?” Tanya Nayla memastikan kembali apa yang
waitress ini katakan sebelumnya.
“Adek mau pesan sesuatu ?”
“Air putih aja.” Jawabnya ragu.
Pelayan wanita itu terlihat mengernyitkan kening
tebalnya. Ada sebutir pertanyaan di raut wajah itu ‘air putih’ ?
“Kenapa masih di situ?” Tanya Nayla ketika melihat
wanita semampai itu masih berdiri memandanginya.
“Aaahhh… maaf. Tunggu sebentar ya.” Sahut perempuan
itu.
Nayla hanya mengangguk, seketika juga Ia teringat
pada buku biru milik ibunya. Segera dirogohnya tangannya mengambil buku itu
yang memang sengaja Ia bawa.
Dengan serius, Ia kembali membuka lembaran
selanjutnya dari buku diary itu.
20/05/1984
Terimakasih, sebentar lagi kita akan
hidup di dunia kita masing-masing. Selamat atas keberhasilanmu, kamu memang
pintar Farel. Kamu akan kuliah di luar kota, waawwww… hebat!!!
Aku akan sendiri lagi mulai hari
ini. setelah keberangkatanmu ke Jogja. Huuuhhhh,,, susah yaaa ngelepasin
sahabat terbaik kita jauh. Kamu pasti bakal lupa deh sama aku. Huhuhuhu….
Oiyaaa,,,, happy graduation J
**Flashback**
Riuh. Suasana menggebu-gebu sangat terasa hangat di
dalam ruangan ini. Semua siswa tengah merayakan kelulusan mereka. Termasuk
sejoli, Feby dan Farel.
“Cieeee,,, yang lanjut kuliah di Jogja.” Ledek Feby.
“Kenape sih itu mulu yang kamu bilang. Kasih selamat
kek.”
“Iyaaa deh, selamat!”
Ada perasaan tidak ikhlas. Enam tahun melalui angin
dan badai bersama, dan harus mereka akhiri sampai disini. Tidak ada lagi sosok
Farel yang terus melindunginya, tidak ada lagi sosok Farel yang akan terus
menasehatinya, bernyanyi dengannya. Sangat sulit untuk mereka komunikasian.
Feby dan Farel sama sekali tidak punya handphone, sekalipun mereka
contact-contact-an lewat surat apa iya bisa bertahan lama. Terlebih kuliah
bukan ajang main-main. Di sana letak puncak beban seorang pelajar, tidak
mungkin banyak waktu luang untuk menulis surat. Apalagi Farel anak pintar yang
diterima di Universitas ternama di Jogja, UGM. Lagian, pasti akan sangat
berbeda komunikasi mereka melalui surat ketimbang berhadapan secara langsung.
“Tenang aja Feb. Aku bakal sering hubungin kamu kok
di sana.”
“Pake apa ?”
“Apa yaa ?” Farel tersenyum kecut.
Feby hanya menyenggol siku Farel pelan. Bercanda
dengan sahabatnya ini tidak akan lagi. Mungkin saja, ini yang terakhir.
Sore ini, Farel sudah berangkat ke Jogja. Tentu saja,
pertemuan di bandara hari ini adalah pertemuan terakhir mereka. Orang tua Farel
pun memutuskan untuk focus mengelola bisnis restaurant mereka yang ada di
Jogja. Otomatis, Farel bersama keluarga besarnya akan meninggalkan Jakarta dan
menetap di Jogja.
Sedih pasti. Feby tidak bisa mencegah Farel,
pendidikan di sana mungkin akan lebih baik buat Farel. Hanya ada perasaan suka
ini yang tersisa dalam hatinya. Dua tahun menyimpan perasaan itu sendirian,
membiarkan tertanam tak berbuah. Memang tidak Ia harapkan lebih akan
perasaannya. Lihatlah, perasaannya tidak berbalas saja sakitnya minta ampun
ditinggal Farel, gimana kalau Farel mebalas perasaannya.
Sejak awal keberangkatan Farel ke Jogja, mereka
berdua benar-benar kehilangan kontak. Tidak ada kabar sama sekali dari Farel
dan keluarganya. Sementara di Jakarta, Feby masih menunggu kedatangan Farel, sesekali
Feby memutar lagu yang pernah dinyanyikan Farel untuknya di taman sekolah,
kebetulan Farel memberikannya rekaman suaranya ketika menyanyikan lagu
ciptaannya itu. Lagu yang semakin lama semakin jadul, lagu yang semakin lama semakin
tenggelam oleh masa, tapi tetap menjadi lagu favoritenya.
**Flashback end**
Ia masih membaca lembaran demi lembaran buku yang
diletakkannya di atas meja kafe.
“Gue gereget sendiri waktu ngebaca buku diary
itu.”Ujar seseorang dari arah belakang, yang seketika pula mengundang
tolehannya.
Tidak terlalu Ia gubris, Nayla menutup buku itu,
sementara gadis itu kini duduk di sampingnya.
“Lo bolos ?” Tanya wanita itu.
“Lo ?”
“Yaaappp.”
“Kenapa?”
“Karena gue ngeliat Lo ada di kafe ini.”
“Mbaaa, air putih saya mana ?” Nayla mengalihkan
perhatiannya dari gadis di sampingnya.
“Maaf, tapi air putih tidak termasuk dalam daftar
menu kami.” Seseorang dari balik pintu pentry berteriak.
“Dua cappuccino mba.” Sela gadis yang baru datang
tadi.
“Lo mesen air putih doang ?” Lanjut gadis itu.
“Kenapa ? Gua haus.”
“Nay, Nay. Senti Lo kayaknya rada naik deh.” Gadis
itu sedikit tersenyum maklum.
Hening sejenak. Nayla menyapu mukanya yang serasa
kusut itu dengan kedua telapak tangannya.
“Kenapa nyokap Lo mau nikah sama bokap gue ?” Nayla
membuka pembicaraan setelah sempat membuang napas beratnya.
“Karena nyokap gue suka sama bokap Lo.
“suka ?”
“Bokap Lo emang gak bisa ngelupain nyokap Lo. Disaat-saat
sendiri, nyokap gue selalu jadi pendengar yang baik buat bokap Lo. Mereka emang
teman lama di Jogja, dan tepatnya sih nyokap gue adalah wanita pilihan Ayah
bokap Lo.”
“Bokap gue suka sama nyokap Lo?”
“Gak tau… Dibilang suka, dianya cuek. Dibilang gak
suka, dianya masih peduli sama gue, yang pada dasarnya Cuma anak tirinya.
Nayla menghela napasnya geram. Ia menghempaskan
badannya pada sandaran kursi.
“Lo marah ? Atau
kecewa ?” Nada balik bertanya.
“Gak tau… Di sisi lain gue seneng dia gak lupa sama
keluarga lamanya. Tapi gue gak terima, dia nikahin nyokap Lo tanpa ada perasaan
suka sama sekali. Emang hati wanita buat dimainin ?” Jawabnya kesal.
“Silakan dinikmati.” Seorang waitress meletakkan dua cappuccino
di atas meja, menyela sebentar pembicaraan mereka.
“Makasih.” Ucap Nada.
“Yang salah sih juga nyokap gue, dia bilang, cinta
akan datang dengan sendirinya selama mereka terus bersama. Tapi, yang terjadi,
bokap Lo Cuma bisanya curhatin soal perasaan kangen dia sama istri dan anaknya.
Gue miris, mamah gue disia-siain sama cowok yang disukainya.” Lanjut Nada.
“Kata nyokap gue, bokap gue cowok baik-baik. Tapi,
buktinya mana ? Dia nyakitin nyokap gue, dan juga nyokap Lo.”
“Bukan sepenuhnya salah bokap. Dia nika sama nyokap
gue kan perintah Ayahnya. Nyokap gue juga main setuju-setuju aja.”
“Gue salut sama nyokap Lo.” Ujar Nayla tersenyum.
Deeeeeerrrrrttttt…..
“Halo.” Sahut Nayla menjawab panggilan dari
ponselnya.
“Lo dimana ?” Tanya seseorang dari balik ponsel.
“Kafe.”
“Lo bolos? Tumben banget. Lo gapapa Nay ?”
“Gak papa Sil. Gue Cuma pengen hirup udara segar
aja.”
“Yaudah deh, gue buatin Lo surat sakit ya.”
“Iyaaa… thanks Ya Sil.”
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Tiiiiiiiiiiiiiiittttttttttttt………
Nayla menutup ponselnya. Sesungging senyum terulas di
bibirnya.
“Sahabat Lo care juga.” Ucap Nada.
“Emang namanya masih sahabat ya kalau gak care ?”
Jawab Nayla tersenyum renyah. Sejurus kemudian menyeruput seteguk kapucino yang
sedari tadi sudah tertata di depannya. Begitu pun Nada yang menyunggingkan
senyum pada saudara tirinya ini seraya meminum capucino pesanannya dengan
enteng.
Usai menutup perbincangan mereka, mereka bergegas ke
suatu tempat. Ada perasaan enggan di hati Nayla, tapi juga masih ada keinginan
untuk menyambangi tempat itu.
Pemandangan hijau memanjakan perjalanan dua saudara
tiri ini. Suasana hening, sepi, hanya ada langkah kaki mereka, berikut pula
siulan burung-burung yang beterbangan mewarnai perjalanan mereka.
Tidak jauh. Mereka sudah tiba.
Penuh
rerumputan dan dedaunan, bebatuan pun bertumpukan di atasnya, namanya pun sudah
tak jelas lagi tersapu air hujan dan angin. Nisannya tak bersih lagi, penuh
gumpalan lumpur di tepi-tepinya. Sudah dua tahun yang lalu sejak makam ini Ia
kunjungi.
Tidak ada kata-kata yang Ia lontarkan. Tubuhnya kaku, kakinya serasa tak berdaya untuk menopang
tubuhnya yang semakin lunglai. Di sudut matanya sudah Nampak beningan yang
pecah menjadi titik air di bawah matanya, Ia duduk di kisaran pusara Ayahnya.
Memegang gemetar tanah yang tak lagi subur ini, membelai lembut nisan yang
kumal itu. Merintih sakit terisak.
“Maafin Nay Ayah… Nay. ..” Ujarnya, namun tetap saja,
isakannya menghalangi suaranya untuk keluar.
“Nay….” Suaranya parau terputus-putus.
“Maaf…. sempat marah sama Ayah. Sempat…” kembali Ia
isak tangisnya dalam.
“Sempat, mencaci Ayah…”
“Maafin Nay.” Tambahnya lagi.
Sementara Nada terlihat terisak pula.
“Pah,,, maaf udah jarang ngunjungin papah.”
“Nada udah kenal sama saudara dan ibu tiri Nada.
Mereka baik-baik pah.” Lanjutnya.
Nayla dan Nada masih terisak. Nayla tak
henti-hentinya menyumpahi dirinya lantaran sempat memendam amarah pada Ayahnya
yang hakekatnya sudah tidak lagi ada di muka bumi ini. Rasa rindu pun menceruat
di batinnya, mengingat betapa singkatnya waktu yang pernah Ia jalani bersama
Ayahnya.
Ada untaian doa
dari hatinya, bergetar suaranya menyanyikan lagu rindu pada Ayahnya. Seuntai
rindu dan cinta berhambur dalam hamparan doanya, tangisnya tak terbendung, air
mata yang semakin lembut membasuh pipinya. Mencerna celah demi celah tanah
kering itu, pelupuk mata yang semakin sayu penuh kesenduan.--TBC--
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Pages
Popular Posts
-
Puisi ini aku buat pada tanggal 28 Maret 2015, hari dimana aku ulang tahun, dan idola aku juga meninggal di hari sebelumnya. Olga Syahputra....
-
Annyeong!!!! Chapter VII sudah datang… Nungguin yaaa? –Enggak! L -- This is the next story of “My Mind”. Selamat membaca !!! Ti...
-
Nah, tema kali ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang sering banget kita lakukan. Tapi, tahu gak sih, kalau beberapa dari kebiasaan kita i...
-
Titel : Me + You = Love Author : Muthmainnah (@ienhainha) Cast : Alif matata, Nabila Althafunnisa (OC) Support cast : Ozy Adrians...
-
The Blue Diary Bab 5 “Fact” Buku diary itu masih terbuka dan tersimpan rapi di atas tangannya. Tapi sekarang, bada...
-
MEMBACA BASMALAH DI SETIAP MEMULAI AKTIVITAS Assalamu ’ alaikum Wr.Wb. Hallo teman-teman semua. Kali ini, aku nge-post lagi hal-h...
-
fAKTA DI BALIK BERSIN DAN MENGUAP Assalamu ’ alaikum wr. Wb. Kali ini, aku akan membahas sedikit tentang fakta dari bersin dan me...
-
JANGAN KULIAH KALAU TIDAK SUKSES (Furqon Kholid) A. Hukum-hukum kehidupan 1. Hukum kelembaman “sebuah benda ya...
-
Hayy readers… Ini FF pertamaku,maaf kalau banyak kekurangan, ini semata untuk menuangkan pikiranku … maybe bakalan garing, atau ban...
-
Chapter V datang menyambung cerita kemarin… Selamat membaca !!!! Title : My Mind Author : Muthmainn...
0 komentar:
Posting Komentar