FF My Mind [ Chapter 5 ]


Chapter V datang menyambung cerita kemarin… Selamat membaca !!!!

Title           :  My Mind
          Author        :  Muthmainnah
          Cast            :  Kim Jong In (EXO), Kim Soo Jin (OC), Lee Hye Ri (OC), Soo Yoo Ra (OC), Kang Minhyuk (CNBlue)
          Genre                    :  School life, family life, romance, friendship, sad (?)
          Length        :  Chaptered.

My Mind

Chapter V
___!!!___
“Author POV”
Kai dengan gontai meninggalkan kamarnya ketika suasana genting itu perlahan memudar di ruang tamu. Bukan karena dia dan Soo Jin baikan, tapi karena saat ini keduanya tengah tidak saling bertemu. Keadaan rumah sangat sepi beberapa menit setelah kedua saudara itu beradu. Sepeninggal Kai ke kamarnya, Soo Jin mengurung diri di dalam kamarnya tanpa suara. Menangis? Ya, air matanya menghujani pipi lembutnya, Ia melongo di balkon, melihat hamparan rumah-rumah tetangganya yang terlihat begitu jelas dari kamarnya. Tatapannya sendu, mungkin dunia di luar sana lebih indah? Bisakah dia ke sana membawa adiknya dan hanya ada mereka dan orang-orang yang memahami mereka?
Kembali pada Kai. Sesekali, Ia menengok ke arah kamar kakaknya, kamar itu seperti kosong, biasanya kakaknya akan menyetel sebuah lagu ketika akan tidur, persis seperti apa yang selalu Ia lakukan. Biasanya noonanya akan bergumam dengan lagu-lagu kesukaannya ketika tengah membersihkan kamarnya. Dan sekarang, kamar itu Nampak tak berpenghuni. Kemana noona? Pikir Kai.
Sesaat kemudian, Ia melangkah meninggalkan rumah megahnya. Ia berjalan menuju sebuah taman kota. Di sana memang tempat yang paling nyaman baginya bersandar. Hamparan langit di atas akan menyelimuti laranya, awan-awan yang berarak, menemani kesendiriannya. Dan suasana sore, membuatnya lebih tenang di sana.
Ia duduk di salah satu kursi panjang taman. Ia menghembuskan napas panjangnya. Mungkin napas yang kini terbuang berat itu adalah ‘kesal’nya, atau kegusarannya selama ini.
Ia menyandarkan santai punggungnya pada kursi taman, memejamkan matanya dan merasakan ketenangan hingga ke dalam jiwanya.
Langkah kaki menghiasi pendengarannya, tapi tak Ia hiraukan. Ia masih menikmati tiap detik kesejukan yang menyentuh lubuknya.
“Kyaaa!!!” Sergah seorang yeoja yang menepuk bahunya kasar.
Kai tersadar. Ia segera membuka mata indahnya. Diumbarnya satu senyum yang terbilang ‘terpaksa’ pada yeoja yang kini duduk di sampingnya.
“Gwaenchana?”
Kai tidak menjawab. Napasnya lunglainya kembali berhembus menghujani pendengaran. Ia menatap sendu pada Yoo Ra, gadis yang tadi menegurnya. Hening sesaat, mata keduanya beradu, rasa iba kini membumbung dalam pikiran Yoo Ra. Mata Kai, sembab?
“Kyaa, kau habis nangis?”
Kai kembali tidak menjawab. Ia masih memperhatikan Yoo Ra, dan sejurus kemudian merebahkan kepalanya pada bahu gadis mungil itu. Ia kembali memejamkan matanya dalam sandaran bahu Yoo Ra.
“Gwaenchana?”
“Chakkamman! Aku hanya ingin terlelap sebentar untuk bisa menjawab pertanyaanmu Yoo Ra.” Jawab Kai pelan.
Kai. .. Wae geurae?”
Hening sejenak. Entah beberapa menit, hingga akhirnya Kai membuka suara.
“Yoo Ra-ah!” Tegurnya.
“Eotteohkae? Apa aku sebaiknya tidak mengingat apa-apa saja? Semua akan lebih baik jika tak ada satupun yang aku ingat bukan?”
“Kyaa!”  Tegur Yoo Ra.
Kai kembali membuang napasnya.
“Aku tidak tahu bagaimana aku, sebelum mengenalmu.”
“Yoo Ra-ah, apa aku hanya perlu hidup di antara kamu dan Soo Jin noona tanpa ada orang lain lagi?” Kai menjelaskan tanpa membuka matanya sedikit pun. Ini lebih memudahkannya mengeluarkan uneg-unegnya.
“Kenapa noona membiarkanku seperti ini? Bukankah seharusnya dia membantuku memulihkan ingatanku? Eoh?”
“Apakah aku tengah bermimpi? Apa ini mimpi terpanjangku?”
“Yoo Ra-ah, bangunkan aku. Ini seperti sudah sangat lama aku tertidur, membiarkan mimpi ini seperti nyata.”
“Kyaa!” Sela Yoo Ra lembut.
“Geurae. Ini bukan mimpi. Ini kenyataan yang harus aku lewati.” Lanjut Kai, ada senyum pahit dari bibirnya.
Oppa, apa terjadi sesuatu? Malhaejwo!” Tanya Yoo Ra.
Kai menegapkan badannya di kursi taman. Ia menatapYoo Ra dengan satu senyuman.
Yoo Ra-ah, apa kamu datang untuk menemaniku, atau untuk hal lain?” Kai mencoba mengalihkan topic.
Apa kau tidak dengar aku Tanya apa?” Ketus Yoo Ra.
“Bagaimana kamu tau aku di sini?” Tanya Kai.
“Kyaaa, Kai!”
Yoo Ra-ah, mian. Aku sedang tidak mood untuk bercerita banyak tentang hal ini.”
“_____” Yoo Ra hanya mengerucutkan bibirnya. Ada apa lagi dengannya? Pikir Yoo Ra. Meskipun kesal dan kecewa lantaran Kai yang masih enggan untuk bercerita, tapi dia mencoba untuk memahami apa yang terjadi. Tidak semua tentang Kai harus Ia ketahui.
Aaaaa,,, bagaimana kamu tau aku di sini? Dan, kenapa kamu tiba-tiba ada di sini?” Tanya Kai kemudian.
Yoo Ra tidak lekas menjawab. Ia membuang napasnya kesal, dan kemudian menjawab pertanyaan Kai.
“Aku ingin ke rumahmu, tapi di jalan aku melihat Oppa dari jauh.” Jelas Yoo Ra.
“Emh, Oppa, apa kamu ikut kompetisi dance yang diselenggarakan oleh SM?” Lanjutnya.
Kamu benar-benar konyol. Menurut kamu, komprtisi besar itu aku lewatkan? Yang benar saja. Yaa tentulah aku ikut. Selain untuk sekolah, ini juga untuk aku sendiri. Kalau aku menang sebagai dancer terbaik, maka aku bisa mengikuti trainee di SM entertainment. Menyenangkan bukan?” Ujar Kai semangat.
“Geundae, kenapa kamu tiba-tiba bertanya?” Lanjut Kai.
“Aaaa. . . keugae, Minhyuk ingin kamu melatih anak-anak ekskul dance yang akan ikut kompetisi.”
“Mwo? Aku melatih lawanku? Yang benar saja Yoo Ra.”
“Oppa! Jebalyo.”
“Ini kompetisi terakbar Yoo ra. Sekolahku harus menang dan itu adalah mimpiku sejak dulu. Kamu tahu, ini kompetisi yang diadakan SM, dan ini adalah kesempatanku. Apa aku harus melatih mereka dengan gerakan terburuk agar mereka kalah?” Jelas Kai.
“____” Yoo ra hanya terdiam mengerucutkan bibirnya. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Yang Kai katakan memang benar. Lebih baik tidak, dari pada Kai melatih anggota dance sekolahnya dengan gerakan yang amburadul.
Hening sesaat. Kai pun hanya melongokan pandangannya ke sekitar, Ia memutar penglihatannya di area taman, sekaligus memutar pikirannya atas permintaan Yoo ra.
“Sudah kukatakan bukan, sekolahku  lebih baik dari sekolah itu.” Kai membuka pembicaraan di tengah kebisuan yang sempat terjadi.
Arra!” Jawab Yoo Ra simpel.
“Kyyaa, apa ini caramu membujukku? Kamu langsung menyerah saat aku bilang tidak bisa? Apa ini Soo Yoo Ra?” Ledek Kai.
“Mian. Memang sebaiknya kamu tidak melatih mereka. Ini impian terbesarmu,, sudah seharusnya kamu fokus terhadap dirimu sendiri dulu untuk hal ini.”
“Wae? Kenapa aku harus fokus terhadap diriku sendiri dulu?.” Jawab Kai menimpali dengan lagak berteka-teki.
“Karena ini adalah mimpi dan impian. Bukan cerita dan permainan. Kamu hanya perlu fokus, dan semua akan terjadi.” Jawab Yoo Ra sendu nan bijak. Kai hanya tersenyum simpul mendengar kedewasaan Yoo Ra.
Hening kembali tercipta, sesaat kemudian Kai menyandarkan punggungnya pada kursi taman, dengan hembusan napas panjang.
“Kapan aku harus mulai melatih mereka?” Tanya Kai seketika, membuat Yoo Ra tercengang dungu mendengar perkataan Kai yang tengah tersenyum simpul di hadapannya.

___!!!___
Dengan langkah ‘frustasi’ (?) Soo Jin melangkah ke dalam dapur dan menuang segelas air putih. Tangannya gemetar, butiran air tumpah di beberapa bagian meja, Ia mendesah kesal, rambutnyaa acak-acakan, dan matanya, sembab dan bengkak. Nampaknya, dia tidak bisa setegar yang Ia inginkan. Suasana dari balik kamarnya, tidak dapat membantunya menghilangkan kekacauan pikirannya.
Kai yang sudah melangkah pelan kembali ke kamarnya, melihat noona-nya tengah meneguk air putih di dalam dapur. Kai memperhatikan aksi kakaknya dari jauh, Ia tersenyum getir melihat noona-nya berkali-kali hanya menuangkan air ke dalam gelas, yang belum habis diteguknya. ‘noona, apa aku keterlaluan terhadapmu?’ Batin Kai.
Kai hendak melanjutkan langkahnya menaiki anak tangga menuju kamarnya, tapi tiba-tiba Ia terhenyak ke lantai. Tubuhnya tidak bisa lagi Ia imbangi, Soo Jin yang kemudian melihat Kai terduduk lesu di lantai segera berhambur melewati ubin demi ubin dengan cepat.
Ia memapah adiknya menaiki tangga menuju kamar Kai dengan pelan. Raut wajahnya diliputi ketakutan dan kecemasan.
Soo Jin sudah tiba di kamar Kai, Ia membaringkan adiknya di tempat tidur. Kai yang setengah sadar itu sedikit bergumam, mengerang kesakitan sembari memegangi kepalanya. Sementara Soo Jin, merapikan selimut yang melingkar di tubuh Kai, membiarkan adiknya hangat.
“Gwaenchana. Berusahalah selagi kamu bisa. Noona di sini. Akan lebih baik kalau kamu mengetahui semuanya, agar kamu berhenti menyalahkan noona.” Ujar Soo Jin, mengelus kepala Kai.
Ia hendak meninggalkan Kai dalam keheningan, tapi tiba-tiba Kai memegang tangannya, menahannya untuk tak kembali berjalan, membuatnya untuk berbalik ke arah Kai yang kini tengah berusaha menetralkan penglihatannya.
“Noona! Aku lapar.” Sahut Kai pelan.
Soo Jin tercengang. Apa amarahmu sudah mereda Jong In? Pikir Soo Jin.
“Noona? Andwaelyo?” Lanjut Kai.
Soo Jin pun tergerak, Ia menghentikan kelongonannya. Tanpa berkata sepatah kata pun, Ia hanya mengangguk dan kemudian meninggalkan Kai. Ia diliputi kebingungan.
Kai mungkin telah menelan amarahnya, dan sekarang mencoba menetralkan suasana genting yang sempat terjadi antar keduanya.
Usai menghantam beberapa bahan makanan di dapur dan menyulapnya menjadi makanan yang siap disantap, Ia segera menaiki anak tangga dengan perasaan yang masih bingung dan sedikit kacau.
Ia berhambur ke dalam kamar Kai. Di depan sana, Kai sudah menyapanya degan senyuman manis.
Soo Jin memberikan makanan yang diletakkannya di nampan kecil itu di hadapan  Kai tanpa berkata sedikitpun. Ia hendak keluar, tapi Ia juga enggan. Ia hanya memperhatikan Kai yang tengah makan dengan lahap. Mungkin dia memang benar-benar lapar.
Beberapa menit kemudian Soo Jin hendak meninggalkan ruangan ini, namun seketika Ia terhenti ketika Kai memanggilnya.
“Kenapa noona tidak bicara padaku?” Tanya Kai seraya meletakkan makanannya di lantai.
Soo Jin memutar, Ia berjalan kea rah Kai. Sejak kejadian pagi tadi, Soo Jin merasa canggung untuk mengobrol dengan Kai.
“Noona! Kamu benar-benar tidak ingin menceritakannya padaku?” Lanjut Kai.
Soo Jin hanya diam memperhatikan adiknya yang pucat itu. Ia membuang napasnya ke udara dan duduk di samping Kai.
“Jong In-ah!” Tegur Soo Jin pelan.
“Emh?”
“Apa dance adalah duniamu? Kegemaranmu? Pekerjaanmu?” Tanya Soo Jin.
“Eoh. Jawab Kai mengangguk.
Butuh waktu untuk Soo Jin menjawab kembali pertanyaan Kai. Napasnya kembali terbumbung lantang, ini akan memudahkannya menjawab pertanyaan Kai yang serasa sesak di dadanya.
“Omma, Appa, geurigu Hye Ri adalah orang-orang yang tidak ingin kamu berada di duniamu.” Ungkap Soo Jin pelan.
Kai hanya terdiam. Ia masih merasa bingung. Benarkah itu? Noona tidak mengarangnya bukan? Pikir Kai. Ia tidak menjawab apa-apa, sorot matanya dipenuhi pertanyaan.
Soo Jin beranjak. Membiarkan adiknya itu mencerna kalimatnya. Dia cukup pintar untuk memaknai itu, bukan? Batin Soo Jin.
___!!!___
Kai berjalan menyusuri koridor Chang Senir High School. Semua mata memperhatikannya, terlebih yeoja-yeoja yang tengah berdiri di muka kelas. Mereka memperhatikan dengan jeli, sekolah mereka seperti kedatangan ‘pangeran’.
Kai tidak mempedulikan yeoja-yeoja itu, Ia masih dengan kerennya berjalan menyusuri koridor. Sesekali diliriknya pesan dari ponselnya, dan kemudian berjalan lebih cepat.
Ia sudah tiba di muka sebuah ruangan yang terbilang luas. Ia pun membuka pintu itu pelan.
Hye Ri. Sosok itu ternyata tengah berdiri di muka pintu hendak keluar, Ia tercengang melihat Kai berdiri di hadapannya.
“Kang Minhyuk dimana?”
Kai membuka pembicaraan, namun karena lamunannya, Hye Ri tidak menjawab.
“Chogiyo, Kang Minhyuk eodiga?” Lanjut Kai.
“Yogi!”
Kang Minhyuk bersuara dari balik punggung Kai yang kemudian berbalik.
“Wah, kamu benar-benar datang. gomapta?”
“Emh. Apa bisa dimulai sekarang latihannya?”
Tentu. Masuklah, di dalam sana sudah ada murid-muridmu.”  Tutur Minhyuk tersenyum.
“Kyaa, pen!” Tegur Minhyuk ketika Ia dan Kai hendak memasuki ruang dance.
“Pen?” Tanya Kai.
“Eoh!!! Dia tinggi, jadi aku panggil dia pen.” Jelas Kang Minhyuk.
“Bahkan aku masih lebih tinggi dari pulpen, pabo!” Ketus Hye Ri pula yang sudah sadar dari lamunannya.
Ketiga makhluk (?) itu bersuguhkan tawa memasuki ruang dance. Disambut beberapa orang yang sudah siap dilatih oleh Jong In.
Tanpa mengulur waktu, Kai segera melatih dengan serius dan penuh semangat. Jiwa pelatihnya kembali menggebu, meskipun Ia tahu,bahwa anak didiknya sekarang ini adalah saingannya untuk memperutkan posisi terbaik di SM.
Sementara itu, Minhyuk dan Hye Ri memperhatikan Kai dari jauh.
“Dia hebat bukan?” Ucap Kang Minhyuk.
“Emh.”
“Sepertinya, dia lebih hebat dari temanmu itu.”
“Mwo?”
“Hihihi.” Kekeh Minhyuk
“Hem, Yoo Ra bilang, Kai sangat cinta dengan dance, Ia akan habiskan waktu luangnya hanya untuk menari.” Lanjut Minhyuk.
‘emm, arra. Dan semua gara-gara dance.’ Batin Hye Ri.
Hye Ri hanya tersenyum kecut tak menggubris celotehan Minhyuk di sampingnya. Ia terus memperhatikan Kai yang Ia rasa semakin baik saja dalam menari. Kenapa kamu harus pergi waktu itu Kai? Batin Hye Ri.
TBC—
        Bagaimana kabarnya reader??? Apakah sejauh ini ceritanya masih garing? Tambah garing? Udah mendingan? Dikomen yeth !!! Gamsahamnida !!!
        Next chapter menyusul. . . J

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman