FF My Mind [ Chapter 4 ]


Chapter IV datang menyapa. Selamat membaca J Kajaaa kajaaa kajaaa  !!!!!

Title           :  My Mind
          Author        :  Muthmainnah
          Cast            :  Kim Jong In (EXO), Kim Soo Jin (OC), Lee Hye Ri (OC), Soo Yoo Ra (OC), Kang Minhyuk (CNBlue)
          Genre         :  School life, family life, romance, friendship, sad (?)
          Length        :  Chaptered.

My Mind

Chapter IV
Derrt..
Ponselnya bergetar, Ia segera mengangkatnya.
“Ne noona?” Jawabnya. Noona? Kim Soo Jin?
“Aku sedang ada di restaurant.” Lanjutnya.
“Dengan seorang yeoja.” Tambahnya seraya mengarahkan pandangannya padaku.
“Lee Hye Ri.” Ucapnya jelas, bak mengeja nama ‘Lee Hye Ri’. Apa dia harus mengejanya sejelas itu? .
“Ne.” Tutupnya kemudian.
Ia segera merogoh ponselnya ke dalam saku blazernya, Ia pun bergegas.
Mian, tidak bisa tinggal lama-lama. Noona-ku sudah mengomel” Ucapnya seraya tersenyum.
“Soo Jin eonni?” Gumamku, tapi nampaknya terdengar olehnya, Ia segera memperjelas pandangannya padaku.
“Kamu mengenalnya?” Tanyanya seketika.

Kyaaa, Kai. Mungkin kamu benar-benar sudah gila dan amnesia. Jelaslah aku mengenalnya.
“Ne? Aniya. Aku sedang tidak menyebut nama noona-mu. Apa nama noona mu Soo Jin?” Dustaku.
“Eoh. Yasudah, jaeljayo!” Lanjutnya seraya berhambur ke luar restaurant ini dengan sedikit terburu-buru.
Kim Jong In. Aku tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi dengannya. Apa dia tidak mengenaliku? Aaa, apa aku berubah sejak tiga tahun yang lalu? Hem, pasti aku tambah cantik bukan, makanya kamu tidak bisa mengenaliku dengan baik. Yayaya, aku tahu itu.
“Kai POV”
Aku sudah berada di depan rumahku, perlahan ku ayunkan kedua kakiku bergantian, memijakkan pada ubin rumah yang menkilap ini. Suasana rumah yang memang selalu kudapati sepi. Bagaimana mau ramai, kalau aku tidak ada, maka yang menyambutku di rumah hanya noona, begitupun sebaliknya.
Aku sudah membuka pintu rumah, di ruang keluarga Soo Jin Noona sudah melipat kedua tangannya seraya meletakkan sebuah buku di pahanya.
“Aku sudah pulang.” Seruku.
Aku berlalu dari ruang keluarga menuju dapur, mengambil segelas air hangat.
Sesaat kemudian, kubawa segelas air hangat ini meuju ruang keluarga bersama noona-ku. Aku tahu, sedari tadi dia memperhatikanku dari ekor matanya.
Aku duduk di sampingnya, Ia pun menoleh dan dengan wajah ‘kesal?’ ‘takut?’ ‘heran?’ entahlah.
Apa kamu benar bertemu dengan Lee Hye Ri?” Tanyanya seketika.
“Eoh.” Jawabku.
“Kamu mengenalinya?” Tanyanya cepat.
Ada apa dengannya? Kenapa mengintrogasiku seperti itu? Apa dia tidak suka kalau aku mengenali Hye Ri? Wae?
“Kai. Kamu tidak bohong kan? Bagaimana bisa kamu bertemu dengannya?” Lanjutnya.
Noona. Apa yang sebenarnya terjadi antara keluarga kita dan gadis bernama Lee Hye Ri itu? Kenapa kamu Nampak uring-uringan seperti itu?
Aku kembali menatapnya dalam, berusaha menemukan sebuah celah jawaban dari balik matanya. Tapi, seketika kepalaku terasa berat, penglihatanku buram, gelap, terang, bergantian tergambar.
“Kyaaa, gwaenchana?”
“Kai, kamu dapat dengar noona? Gwaenchana?”
Eoh. Aku mendengarmu noona, tapi aku tidak bisa menjawabmu, kepalaku sangat sakit .
“Tahan sebentar Jong In-ah, aku ambilkan obatmu.”
Ada apa lagi denganku? Sejak kejadian tadi siang di ruang dance, aku lebih sering sakit kepala hari ini.
Noona. Dia membantuku untuk minum obat dua biji itu. Sesaat, kepalaku mulai membaik, meski masih sedikit terasa berat.
“Mian!” Sahut Soo Jin noona.
Aniya. Ini bukan salahmu noona.
“Noona antar kamu ke kamar,ya.” Ujarnya lagi.
Aku hanya diam, membiarkannya membantuku berdiri dan berjalan menuju lantai atas, kamarku.
“Jaelja!” Ucapnya usai membaringkanku di tempat tidurku dan menelentangkan selimut padaku.
“Eoh!” Sahutku tersenyum.
Ia pun dengan gontai meninggalkan kamarku dan menutup rapat pintu berlatar putih tulang itu. Gomawo noona. Mungkin ada segelintir rahasia yang kamu simpan, dan aku tidak suka itu, aku benci tiap inci kebohongan yang tidak aku ketahui. Tapi, di sudut hatiku, rasanya cukup sakit saat harus mengacuhkanmu, saat harus berdebat denganmu, saat harus melihat kebencian terhadapmu. Bagaimana mungkin aku bisa membencimu, Noona, sementara selama ini, satu-satunya tiang tempatku berdiri tegak adalah di dekatmu. Menjauh darimu? Itu hanya khayalan belaka. Amat mustahil, aku bisa sendiri dalam langkah terhuyungku. Tanpa sebilah senyum dan penguat darimu.
Yaah, aku tak mengerti dan tidak mengetahui, apa yang terjadi, dan apa yang pernah terjadi. Kamu cukup tahu, bagaimanapun aku melawan terhadap apa yang kamu katakan, kemarahanku tidak lebih besar dari rasa sayang terhadap Noona. Gomawo untuk tetap berada di sisiku.
___!!!___
“Author POV”
Matahari pagi sudah berniga di singgasananya. Suasana sekolah pun sudah menunggu para murid-murid, termasuk murid Chang Senior High School. Nampak Kang Minhyuk sudah berada di dalam kelasnya. Sebuah headset yang menutupi lubang telinganya, dan sebuah buku yang memanjakan matanya.
Masih cukup pagi memang, belum ada siapa-siapa di kelas ini selain dirinya. Tapi, tak berapa lama kemudian, terdengar langkah kaki menuju kelas ini. Dan, seseorang pun muncul dari balik pintu belakang kelas. Yeoja itu berjalan dengan pelan hingga tidak menimbulkan suara sama sekali ke arah kang Minhyuk yang masih terlihat sibuk dengan bukunya.
1,2,3…
“Buuumm…” Teriak yeoja itu seraya meletakkan tangannya pada bahu Kang Minhyuk.
Kang Minhyuk hanya berbalik, mengeluarkan senyum andalannya. Yeoja itu mengurunkan senyumnya hingga bibirnya mengerucut.
“Mwoya?” Sahutnya kesal sembari duduk di samping Kang Minhyuk.
“Wae?” Tanya Kang Minhyuk terkekeh.
“Kyaaa, kamu tau aku sedang menelan ludah keceleku sekarang, harusnya tadi kamu terpental jauh karena kaget. Isssh.” Jawab yeoja itu kesal.
Tanpa berkata-kata, Kang Minhyuk merogoh tangannya ke dalam saku blazernya. Kabel headsetnya sama sekali tidak terhubung dengan apapun. Ia pun kembali tersenyum indah pada sahabatnya yang kini mengangkat belahan bibir atasnya ber’ish’ ria dengan raut kesal.
“Wae? Ini sering dijumpai di film-film. Keren bukan?” Ujar Kang Minhyuk.
“Good morning!”
Seseorang dengan riang menyapa keduanya, sontak kedua sejoli ini pun berbalik ke sumber suara.
“Aaa, Yoo Ra, kemari sebentar.” Panggil Minhyuk, Ia pun memberikan kode kepada Hye Ri untuk pindah dari tempat duduk itu. Dan dengan terpaksa Hye Ri menuruti perintah sahabatnya.
“Kalian sedang ngobrol ya?” Tanya Yoo Ra seraya meletakkan tasnya di samping mejanya.
“Aniyo.” Jawab Minhyuk.
“Oiyaaa, teman kamu yang kemarin itu, yang namanya Kim Jong In, apa dia berbakat di bidang dance?” Lanjut Minhyuk serius.
“Emh. Hidupnya adalah dance.” Jawab Yoo Ra.
“Benarkah? Apa dia sangat jago?” Tambah Minhyuk.
“Tentu saja. Sudah banyak penghargaan yang digenggamnya sejak dulu. Wae?”
“Kyaaa, apa hubunganmu dengan Jong In?” Tanya Hye Ri ketus.
Hye Ri-ah, apa itu pembahasan yang penting sekarang?” Sahut Kang Minhyuk dengan melemparkan wajah tak enak pada Hye Ri.
“Dia hanya temanku.” Jawab Yoo Ra kemudian. Hye Ri hanya mengangguk tak semangat.
“Aaaa, Yoo Ra-ah, Menurut kamu, apa dia bisa melatih anggota dance sekolah kita?” Lanjut Kang Minhyuk menginterogasi.
“Kenapa harus Kai? Kamu bilang ada dua pelatih dance di sekolah ini.”
“Ya memang. Tapi, untuk saat ini kemampuan pelatih dance yang sekarang benar-benar kacau. Mereka hanya memberikan gerakan-gerakan lama pada anak-anak. Aku benar-benar butuh pelatih yang bisa menyamai, atau bahkan lebih bagus dari pelatih dance yang dulu di sekolah ini.”
“Aaaa... akan kutanyakan pada Kai.”
 Gomawo.  Sekolah sedang butuh pelatih dance, untuk mengikuti kompetisi dance beberapa bulan yang akan datang.” Lanjut Kang Minhyuk.
“Kompetisi?” Tanya Yoo Ra.
“Emh. Kompetisi itu dibuat oleh SM entertainment. Mereka sedang mencari bibit-bibit terbaru Korea. Huhhh, tentu saja anak-anak sangat antusias mengikutinya.” Tutur Minhyuk.
“Woaaah, SM? Aku tidak yakin kalau begitu. Masuk di SM adalah impian terbesar Kai. Masa iyaa, dia harus melatih saingannya.” Jelas Yoo Ra.
“Jinjja?” Tanya Kang Minhyuk kecewa.
“Emhhh. Geundae, tidak ada salahnya aku coba untuk membujuknya. Dia mungkin akan mempertimbangkannya. Kalau soal latih-melatih biasanya sih Kai sangat semangat menerima tawaran.” Lanjut Yoo Ra meyakinkan.
“Gomawo!” Seru Minhyuk.
“Apa kamu mengenalnya dengan dekat?” Hye Ri kembali bertanya.
“Hye Ri-ah! Ada apa dengan pertanyaanmu. Dia sudah bilang mereka teman. Seperti kamu dan aku. Apa kamu tidak mengenalku dengan baik?” Sergah Kang Minhyuk.
“Eoh, A-nii.” Jawab Hye Ri meledek dengan menopang dagu di hadapan Kang Minhyuk mengeja kata ‘Ani’.
“Isshhh… “ Desis Kang Minhyuk seraya menyapu wajah Hye Ri dengan tangannya itu. Sesungging senyum antara keduanya pun terulas kembali.
___!!!___
Kai tengah duduk santai di sofa rumahnya. Keadaannya yang belum begitu membaik memaksanya untuk tidak ke sekolah hari ini. Ia hanya menikmati majalah edisi dua minggu yang lalu. Dengan serius dijajahnya lembar demi lembar majalah itu.
Soo Jin Nampak keluar dari dapur, ada dua gelas minuman yang kini betengger dalam genggamannya.
“Minum dulu.” Ujar Soo Jin seraya menyodorkan segelas lemon tea ke arah Kai.
Kai tidak terlalu menggubris keberadaan Soo Jin sekarang. Ia masih sibuk dengan lembaran majalah yang entah Ia baca atau hanya sekedar memanjakan mata.
“Kai. Gwaenchana?” Lanjut Soo Jin.
Kai tak lekas menjawab. Ia membiarkan keheningan menguasai suasana untuk beberapa detik.
“Noona!” Ujar Kai pelan namun terasa serius.
“Emh? Wae?”
“Kapan noona akan menjelaskan semuanya padaku?”
“Mwo?”
“Noona! Apa noona tidak senang kalau aku mengingat Hye Ri?” Tanya Kai tegas.
“Ne?”
“Apa yang noona sembunyikan dari aku? Emh? Malhaejwo!”
“Kai!”
“Aku ingin mengingat semuanya noona, aku ingin tau seperti apa kehidupanku sebelumnya.”
“Jangan kamu paksakan Jong In. Kamu ingat kan, beberapa waktu lalu kamu kesakitan gara-gara kamu memaksakan ingatan kamu.”
“Geurae. Sangat sakit, Aku bahkan sempat tidak ingin lagi mengingat apa-apa setelah kejadian kemarin. Geundae, melihat reaksi noona ketika mendengar aku bertemu dengan Hye Ri, itu membuatku yakin, kalau noona menyembunyikan sesuatu dariku. Mwondae? Malhaebwa!” Teriak Kai.
Suasana di dalam rumah ini mulai genting, keduanya beradu tatapan sinis. Ruang kosong ini akhirnya berpenghuni gemuruh batin dan gejolak jiwa yang kuat.
“Kai! Noona sudah bilang, ketika kamu melupakan sesuatu . . .”
“Arra. Lalu, ketika waktu itu aku tidak mengingat noona, noona akan membiarkanku tidak mengingatmu? Eoh?”
Kai semakin menjadi-jadi, wajahnya memerah lantaran amarahnya benar-benar membuncah. Tangannya gemetaran beradu dengan saudaranya sendiri. Bahkan ketika keringat ‘lelah’ dalam hatinya berteriak menghujani, itu tidak akan menghentikan gemuruhnya. Sesak sudah pasti bertumpuk oleh pilu, luka, dan sakit di dalam sana.
“Soo Jin POV”
“Tapi yang terjadi kamu mengingat noona, Kai. Itu berarti noona memang pantas untuk kamu ingat.”
“Geurae? Noona, kamu akan menjadikanku anak yang tidak tau terima kasih pada kedua orangtua ku?”
“Mworagu? Menjadikanmu anak yang tidak tahu terimakasih?” Sergah Soo Jin keras.
“Eoh. Apa Noona tahu, aku ingin merasakan kerinduan pada Ayah dan Ibuku, aku ingin tersenyum saat mengingat mereka, tapi Noona tidak membiarkanku. Dan juga untuk mengingat siapa Lee Hye Ri, mungkin dia sahabatku, mungkin dia seperti Yoo ra, selalu ada untuk aku, tapi Noona tidak membiarkanku mengingat semua yang berarti di hidup aku.” Tutur Kai sendu namun cukup menyayat hatinya dan juga Soo Jin.
Aniya Jong In-ah. Geumanhae. Noona tau, kamu tidak ingat. Tapi, ketika ingatanmu pulih, kamu akan berterima kasih pada noona telah membiarkanmu tidak mengingat mereka.
___! Flashback !___
“Author POV”
Hari itu suasana di rumah Kai benar-benar berisik. Lagu-lagu berdendang dengan merdunya dari dalam kamarnya.
“Kai, hentikan!” Teriak seorang pria paruh baya.
Lantaran, Kai yang tengah asyik dengan dancenya dan music yang diputarnya terlalu keras, membuatnya tidak menyadari keberadaan Ayahnya di dalam kamarnya.
“Ayah bilang cukup!” Tegur tuan Kim  sekali lagi. Kali ini tangannya sudah menekan tombol off pada tape yang tengah terhias oleh music beat andalan Kai.
“Appa!”
“Berhenti memanggil ayah ‘appa’ Jong In kalau kamu tidak mau mendengar kata-kata ayah. Mau jadi apa kamu kalau setiap saat hanya music-musik dan gerakan tidak karuan itu yang kamu pikirkan. Heh ?” Bentak tuan Kim.
Kai tak mampu bersuara. Ia hanya menelan segala sungutannya dalam hati.
“Tuan Lee akan mengajarimu tentang berbisnis besok lusa, persiapkan dirimu.” Tambah Tuan Kim.
Setelah mengeluarkan amarahnya pada anak bungsunya, tuan Kim berbalik keluar kamar.
“Aaa, geurigu, hentikan memutar music-musik tidak jelas itu, atau ayah akan bertindak diluar dugaan kamu!” Tambahnya sebelum ubin terakhir dari kamar Kai diinjaknya.
Hanya terdiam sesaat. Ketika Ayahnya sudah keluar dari kamarnya, dan sudah menjauh dari lantai dua, Ia Nampak uring-uringan. Bantal, dan beberapa aksesoris yang terletak di meja belajarnya dihamburkannya ke lantai. Segala emosinya bahkan ikut melayang. Bahkan Ia mengerang bak mengalami kesakitan. Yah, mungkin Kai memang merasakan sakit, di hatinya.
Dalam keadaan tersungkur di lantai, menumpu wajahnya dengan kedua tangannya, Ia merasa akan mati detik itu juga. Ini memang bukan yang pertama kalinya Kai mendapat usikan dari Ayahnya, atau bahkan Ibunya saat Ia tengah asik-asiknya bermain dengan dunianya.
“Gwaenchana?”
Seseorang menekan lembut bahunya, ada tepukan ‘menguatkan’ yang dirasakan Kai saat ini.
“Noona!” Seru Kai.
Sesegera mungkin, Ia menghambur dalam pelukan noona-nya.
“Gwaenchana Jong In-ah. Suatu hari, mereka akan menyesal telah menyia-nyiakan bakat anaknya.”
“Noona!” Ucap Kai kemudian, sembari memisahkan dirinya perlahan dari dekapan sang kakak.
“Emh?” Sahut Soo Jin dengan tatapan iba.
“Apa noona bisa menghapus ingatanku?
“Ne?”
“Kalau aku tidak mengingat mereka, aku akan lebih leluasa memberontak, bukan? Aku tidak akan memandang mereka sebagai seorang Ayah atau Ibu, maka aku akan melakukan apa yang ingin aku lakukan, dan akan aku katakan apa yang ingin aku katakan pada mereka.” Keluh Kai.
Aku ingin hidup sebagai sosok yang lain. Entah sebagai dancer atau bukan, tapi aku tidak ingin menjadi Kim Jong In, pemimpin perusahaan yang membenarkan segala cara untuk mendapatkan uang. Aku tidak suka itu, aku tidak suka bisnis, aku lelah Noona, aku ingin pergi. Andwaeyo?” Lanjutnya.
“Jong In-ah! Noona mengerti perasaan kamu, kita dalam posisi yang sama, kita dalam lingkaran yang sama. Noona tersiksa, sangat tersiksa. Kita tunggu waktu saja, sampai dunia berputar mebalikkan keadaan pelik ini Tekan Soo Jin menguatkan.
“Gomawo. Kaja.... Kita pergi ke dunia yang lain. Melewati tiap inci perjuangan hidup bersama, meraih throphy kemenangan bersama. Tanpa mereka yang tidak mengerti.” Tutur Kai lembut.
Soo Jin meneteskan air matanya, Ia segera memeluk erat dongsaengnya itu. Berusaha untuk sam-sama tenang terhadap perasaan yang tengah mereka rasakan.
“Geurae... Kaja!” Sahut Soo Jin tersenyum getir. Masih ada beningan air yang menyentuh sudut pipinya.
___! Flashback end !___
“Soo Jin POV”
“Noona, jawab aku!”
“Geurae. Silakan noona bungkam seribu bahasa. Aku akan berusaha mengingat semua kembali. Dan saat ingatanku kembali, jangan harap aku kembali pada noona.” Sungut Kai. Ia kemudian meninggalkanku dengan langkah terhuyung-huyung. Apa kepalanya sakit lagi?
Andwae Kai. Jangan katakan hal itu lagi. Apa kamu tau, apa yang noona lakukan sekarang terhadapmu adalah demi kebaikanmu. Jong In-ah, simpan semuanya untuk nanti, ketika ingatanmu benar-benar pulih, buanglah noona jauh-jauh jika memang yang noona lakukan sekarang adalah salah untukmu.
Sedikit terluka. Yaa, aku merasakan luka itu saat ini, melihat bocah yang tidak tahu apa-apa itu dengan lantang mengatakan ‘tidak ingin kembali lagi padaku’.
TBC—

Chapter V, nyusulnya hari Rabu yeiiyyy !!!

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman