Cerbung [The Blue Diary Bab 6]


The Blue Diary

Bab 6
“Missed You”
                Nayla kembali ke rumahnya, dihempaskannya raganya di sofa berwarna putih tulang itu. Sesaat Ia memejamkan matanya, membiarkan udara yang masuk melalui celah jendela dirasakannya menerpa wajah lusuhnya.
                “Kamu sudah pulang Nay?”
                Ibunya bersuara lirih dari belakangnya. Sontak Ia membuka matanya.
                “Ibu!” Sahut Nayla memperbaiki duduknya.
                “Eeemmm…. Iii…. Ibuu kok keluar kamar sih.” Ujarnya seraya membantu ibunya untuk duduk.
                “Ibu bosan Nay di kamar terus, lagian Ibu rada baikan kayaknya.” Jawab Ibunya berseri.
                “Nay gak ke sekolah Bu.” Jawab Nay mendesah.
                “Kenapa Nay?”
                “Nay abis dari makam Ayah.”
                Ibunya hanya memandang Nayla haru. Tiba-tiba saja Nayla kembali terisak, berusaha untuk tidak mengeluarkan beningan air dari matanya, tapi butiran kecil sudah berjatuhan menyapu wajah sedihnya.
                “Nay…” Sahutnya tersedu.
                “Nay kangen Ayah, Bu….”
                “Nay, nyesel….”
                “Sempet….” Sejenak Ia menarik napasnya.
                “Sempet marah sama Ayah pas tau dia ….”
                “Nyakitin Ibu sama mamahnya Nada.”
                “Nay…..” Lanjutnya.
                Ia tidak mampu lagi berkata-kata. Sejuta perasaan bercampur aduk dalam hatinya, bibirnya bergetar penuh makna luka. Ibunya pun ikut terisak, Ia merangkul ankanya dalam pelukan kehangatannya. Dapat Ia rasakan bagaimana perasaan Nayla sekarang ini. Kasih sayang Ayah yang hanya didapatnya selama enam bulan. Bertahan selama 16 tahun dan harus mengetahui kenyataan yang sebenarnya.
                “Bu…”
                Ibunya melepas dekapannya dari anaknya. Diusapnya butiran air yang masih sempat melewati celah matanya.
                “Iyaaaa?”
                “Aku udah baca diary ibu.” Ujar Nayla sedikit tersenyum.
                “Kamu baca diary ibu?”
                “Iyaaaa… cieee, yang jatuh cinta duluan.” Ledeknya meski masih ada hembusan napas berat di sana.
                “Husssss… ngeledek ajaaa….”
                Ibunya hanya tersipu melihat anaknya yang mulai  menyunggingkan senyumnya lagi. Ia kembali merangkul anaknya dalam dekapannya. Memberi  sandaran pada kelemahan hati Nayla saat ini.
                Tak berapa lama usai bercengkrama di ruang tamu, Nayla mengantar Ibunya kembali beristirahat di kamar. Sementara Ia pun kembali ke kamarnya.
                Kembali dibukanya diary  mungil milik sang Ibu.
                02/12/1994
            Dia kembali… mengusap rindu yang hampir sepuluh tahun menjelma. Dia datang dengan segala kecanggungan antara kami. Sangat asing lagi dirinya di mataku.
**Flashback**
                Sudah sangat larut, tapi dia masih sibuk bergulir dengan tumpukan piring di hadapannya. Separuhnya pun belum selesai. Sesekali Ia menyeka peluh di wajahnya.
                “Feby…”
                “Iyaaaa Bu?”
                “Ada orang itu. Ladenin dulu, Ibu mau Shalat.” Teriak seseorang dari dalam.
                Feby membersihkan tangannya, dengan gontai Ia berjalan ke arah muka warung tempatnya bekerja ini.
                Deg.
                Tercengang. Matanya tidak terbelalak sama sekali, hanya saja, ada segellintir kekagetan dan pertanyaan di balik pandangannya. Sekian detik berlalu tanpa suara, matanya masih memandang penuh Tanya pada sosok yang tengah berdiri tegap di hadapannya ini, berpadu kemeja kotak-kotak dengan tangan berselimut di balik kantong celana panjang hitam itu.
                “Feby?”
                Seseorang itu mulai bersuara. Bingung di wajahnya pun Nampak jelas. Feby tersentak, membiarkan lamunannya buyar.
                “Emmmm… Saya…. Mmm,,, pesan bakso.” Lanjut pria itu dengan nada terputus-putus.
                Feby tidak menanggapinya, mengangguk pun tidak. Ia hanya membalikkan badannya kaku ke arah dapur.
                Dengan tegang, tangannya meracik daging-daging bulat itu bersama mie dalam sebuah mangkok berukuran sedang. Sejurus kemudian Ia membawa bakso buatannya itu kepada pelanggan tadi.
                Kaku. Masih tidak ada pembicaraan yang terjadi. Feby pun hanya menatap pria ini penuh tanda Tanya. Ada segelintir rindu dalam hatinya saat ini, ada sekian ribu pembahasan yang ingin Ia bahas dengan laki-laki ini, ada berjuta-juta kalimat yang ingin Ia katakan pada pria ini, tapi lidahnya tidak bereaksi sama sekali.
                Usai meletakkan semangkok bakso dan air putih itu di atas meja pengunjungnya, Ia segera membalikkan badannya kembali ke pekerjaan awalnya.
                “Kamu udah makan?” Tanya pria itu ragu. Seketika langkah kaki Feby terhenti.
                “Mau makan bareng?” Lanjut pria itu.
                Bahkan disaat dia hanya perlu menjawab pertanyaan itu, dia masih kaku tak mampu bersuara. Ada kecanggungan yang melintas di antara kerinduan dan kekagetannya.
                “Kamu . . .” Lanjut laki-laki itu, tapi seketika terpotong oleh kedatangan seorang wanita paruh baya dari dalam.
                “Feby, lanjutin kerjaan kamu gih.”  Perintah wanita itu.
                Dengan enggan, Feby mengangkat berat kakinya menuju tempat  pencucian piring. Ada keinginan menyapa dan menjawab pertanyaan laki-laki itu, tapi sepertinya kecanggungannya lebih besar lagi.
                Feby mendudukkan badannya kasar beriring hela napas beratnya. Disapunya wajahnya yang entah bagaimana keadaannya sekarang, kusut, aneh, pucat. Berkali-kali didesahkan napas beratnya.
                “Farel?” Gumamnya.
**
                Pagi ini Feby Nampak terburu-buru, cuaca dingin masih menusuk tubuhnya. Hujan semalam masih menyisahkan sedikit rintik-rintik air di dedaunan serta angin pagi yang cukup dingin. Cuaca Nampak  sedikit mendung.
                Berselimut sweater tebal, Ia memeluk tubuhnya sendiri memasuki warung tempatnya bekerja. Dengan sigap Ia berhambur ke belakang gerobak jualan tempatnya menata sekian macam racikan makanan pada pelanggan.
                “Nasi goreng!” Ucap seseorang dari arah depan.
                “Baik!” Seru Feby pula.
                Tapi, matanya lagi dan lagi melihat pemandangan yang kembali membuatnya terhenti. Seseorang itu ternyata berdiri di hadapannya sekarang. Jantungnya pun kembali berdetak tak karuan, angin lalu sedikit mengedipkan matanya.
                “Feb… ini aku Farel. Kamu gak lupa kan?”
                Pria itu Nampak sedikit lebih percaya diri untuk berbicara ketimbang tadi malam. Sesungging senyum pun sudah terlukis di wajahnya.
                “Enggak kok… bentar Yaa, aku buatin nasi goreng dulu.” Sahut Feby ragu.
                “Mbaaa,,, nasi gorengnya dua, tapi yang buat mba. Pegawai mba saya pinjam sebentar.” Teriak Farel menyelinapkan matanya ke arah dalam warung.
                “Farel!” Tegur Feby, yang hanya ditanggapi senyum dan kedikan bahu dari Farel.
                “Iyaa, iyaaa. Silakan!” wanita paruh baya itu muncul di tengah-tengah mereka.
                Feby pun dengan sedikit enggan meninggalkan tempatnya.
                Keduanya mengambil tempat paling pojok, di sana memang sedikit bagus, soalnya sangat dekat dengan kolam ikan di samping jendela warung ini diwarnai pemandangan yang indah pula.
                “Udah lama juga ya.” Farel membuka pembicaraan.
                “Iyaaa.” Jawab Feby simple.
                “Feb… kamu kok jadi canggung gitu sih ngomong sama aku? Gak kayak biasanya.”
                “Mmmm… aneh.”
                “Aneh.?”
                “Yaaa, enggak…Cuman….” Ia berhenti sejenak, menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya perlahan.
                “Ini udah 10 tahun sejak kita gak ketemu dan gak komunikasian.” Lanjutnya tersenyum kecut.
                “Iyaaa sih… semalem aku juga rada kaku nyapa kamu… Tapi, yaudahlah. 10 tahun udah berlalu, dan sekarang kita bisa temenan kayak dulu lagi.”
                “Aku sama sekali gak nyangka. Kirain kamu bakal netep selamanya di Jogja.”
                “Aku yang nerusin bisnis Ayah aku di Jakarta, sementara Ayahku ngelola yang di Jogja.”
                “Waaaahhh,,, udah jadi pebisnis aja kamu.”
                “Iyaaa lah… aku lebih baik dari Ayah aku.” Candanya.
                “Iyaa iyaaa…..”
                Wanita paruh baya itu menghampiri keduanya dengan dua porsi nasi goreng di tangannya.
                “Selamat menikmati.”
                “Makasih.” Sahut Farel.
                “Oiyaaa, kamu tinggal dimana sekarang?” Lanjut Farel.
                “Masih di rumah yang dulu. Kamu ?”
                “Aku juga…”
                Mereka kembali seperti 10 tahun yang lalu. Dekat, heboh, bikin suasana ramai. Kekakuan itu sudah hilang, mereka adalah Farel dan Feby 10 tahun yang lalu.
**Flashback end**

--TBC--

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman