FF ME + U = LOVE [CHAPTER 3]



Titel : Me + You = Love
Author : Muthmainnah (@ienhainha)
Cast : Alif matata, Nabila Althafunnisa (OC)
Support cast : Ozy Adriansyah,Salsa winxs, Chand Kelvin, others OC.
Genre : friendship, romance, sad (maybe)

*0 0 0Me + You = Love00 0*

Hari ini, esok dan selamanya
Aku tetap merindukannya


Chapter 3

Sorai tepuk tangan berdendang ria di salah satu mall di Jakarta, suara menggelegar dari Alif Matata begitu membuat para pendengarnya bersorak histeris. Usai manggung,Alif meladeni matatastory yang berkerumunan di lantai bawah mall ini. foto bareng,dan tanda tangan telah menjadi pekerjaan baru Alif sejak satu tahun yang lalu.

Menjadi artis dan diidolakan oleh masyarakat menyimpan keasyikan tersendiri bagi Alif yang memang masih terbilang baru di dunia music. Selain On air, Alif juga menghibur penggemarnya dalam keadaan off air.

Satu tahun sudah sejak Ia lulus dari SMA,sekarang Ia kuliah di Universitas Indonesia seperti harapannya,Ia mengambil jurusan Filsafat.

Selama itu,hati Alif masih terus melayang-layang di udara bersama kenangan-kenangan yang indah dua tahun lalu,waktu dia masih duduk di bangku kelas dua SMA,kenangan manis bersama seorang gadis tunarungu yang keberadaannya sekarang tidak diketahui Alif.

*Alif POV
Aku duduk sendiri di taman kampus yang luas ini,mendengar bait-bait lagu lewat ponsel milikku yang kupasangi earphone agar hanya aku yang mendengar nada-nada indah itu. Di saat sendiri seperti ini,aku tidak bisa mengelak untuk tidak mengingatnya.

____Flashback ON____

“pak,dia baru sekolah satu bulan disini.” Ocehku kala kudengar pernyataan konyol guru killer itu.
“ini juga bukan keputusan bapak,Lif. Siapa yang tau kalau ayahnya Nabila minta Nabila sekolah di Jepang dan melakukan terapi disana. Bapak gak bisa berbuat apa-apa.” Ujarnya yang membuatku semakin frustasi.
Kenyataan bahwa Nabila harus memenuhi panggilan Ayahnya untuk melanjutkan study-nya di Jepang sekaligus melakukan terapi disana. Aku baru saja membuat cerpenku dengannya,kami sudah meenemukan tema yang pas,yang sesuai dengan kemampuan kami,aku baru saja dekat dengannya, dan baru saja aku ingin mengungkapkan sesuatu padanya.

“Bil,kamu gak mungkin pergi kan ?” tanyaku miris ketika aku bertemu langsung dengan Nabila di café tempat kami biasa menyusun cerpen kami. Dia hanya tertunduk tak berbicara,aku tidak bisa melihat raut wajahnya.
“Bil,jawab aku.” Ujarku lagi.
“aku minta maaf,tapi aku harus menuruti mau ayahku. Disana atau disini sama saja,yang penting aku bisa sekolah. Aku juga sangat merindukan ayahku.” Jawabnya dengan berbicara terputus-putus dan bahasa isyaratnya yang bisa kumengerti.
“tapi,Bil.” Aku tidak tau bagaimana bicara padanya,rasa kesal,sedih,semua campur aduk sekarang. Bagaimana mungkin kenyataan pahit ini harus aku dengar.
kita masih bisa komunikasian kok.’ Jawabnya lagi.
“konyol… sumpah ini konyol. Ini baru satu bulan Bil.” Ketusku entah bagaimana,aku tidak bisa mengontrol perasaanku saat ini.

Besok sore dia akan ke bandara,segala surat-surat kepindahannya sudah diurus. Kalian tau apa yang aku rasa sekarang ini ? perempuan yang membuatku begitu bersemangat tiap ke sekolah, perempuan yang membuatku melihat hal baru tentang dunia. Aku senang dengan semua kekonyolan-kekonyolanku dengannya, hari-hari berdebat dengannya,aku suka itu. Tuhaaan, apa ini kenyataan yang harus aku terima ?

Nabila, dia belum tau isi hatiku. Iyaa,aku akhirnya menyadari rasa kagum itu yang sekarang berkembang menjadi benih yang mungkin bisa disebut ‘CINTA’. Aku gak tau pasti,tapi itu kesimpulanku. Cinta monyet ? tunggu, aku udah dewasa,aku murid Tujuh belas tahun,dan bukan hal yang tabu lagi untuk merasakan perasaan semacam ini.

Aku terduduk lesu di sebuah taman kota,kupandang langit sore yang sudah merona merah, malam sebentar lagi datang,aku masih terpaku pada keadaan hatiku yang benar-benar kacau. Usai bertemu Nabila di café biasa,aku langsung melarikan diri ke taman yang untungnya lengang dari pengunjung. Aku butuh waktu sendiri.

Sekali lagi,ini bukan jiwa kekanak-kanakan. Aku memang gak rela Nabila ke Jepang,sumpah demi apa kalau ini demi kebaikannya,disini segala sesuatunya bisa diatur, terapi ? sekolah ? dia juga punya om yang bisa jaga dia.

Kulontarkan semua sumpah serapahku. Ohh Tuhannn, tidak bisakah dia tetap disini ?
Aku hanya bisa mendengus kesal bersama langit sore yang menyelimuti kehampaan ku.

______

Gadis tunarungu…
aku harap kamu ingat hari ituuu.

Wajah gelisah karena gerbang yang sudah tertutup, tidak berteriak karena ternyata tidak bisa.
Hijab yang menutupi wajah innocentnya
Senyum yang seketika mampu meneduhkanku.
Kubertanya padanya
Siapa kamu ?
Kuperkenalkan diriku,tapi dia hanya tersenyum begitu saja.
Kujelaskan padanya sesuatu yang entah dia butuhkan atau tidak.

Rasa takut di wajahnya sangat menggangguku,rasanya ingin memberontak pada orang yang membully-nya.

Panasss…. Saat aku lihat dia begitu tenang,senang,bahagia dengan seorang laki-laki. Kalutku kembali muncul saat itu.

Ku antar dia hingga ke rumahnya,dan dia meledekku dengan senyumnya, karena aku tau kalau omnya adalah guru di sekolah kami. Aku suka senyum itu.

Aku miris mendengar  kisahnya, gadis tunarungu itu.
Aku ingin menjaganya dari kesedihan, dari kesepian,ingin rasanya aku bersamanya menggenggam asa bersamanya.

Bahkan kupertaruhkan rasa Maluku untuk menjaganya dari gadis-gadis tengik yang selalu mengganggunya.

Berdebat dengannya hingga dua minggu. Perbedaan keinginan yang akhirnya mencuatkan perdebatan,namun itu adalah sesuatu yang aku suka.
Menjadi dekat dengannya lewat perbedaan-perbedaan itu.
Semakin lama ku kenal dia,semakin lama kulihat senyumnya, dan semakin lama ku mengerti isyaratnya.
Dan aku mengaguminya.

Gadis tunarungu itu.
Dia tiba-tiba bersembunyi di persimpangan hatiku.
Sempat tak Nampak meski aku sadar akan hadirnya.

Suatu hari dia menampakkan dirinya di jalanku,
Tapi dia memiriskan hatiku,
Menyayat semua harapan yang ada di dalamnya.

Dia akan pergi ke tempat yang katanya lebih baik untuknya.
Dia berhenti di jalanku,dan menyadarkanku tentang sesuatu.
Rasa sakit ini, rasa kesal ini, rasa rindu ini,
Aku mengartikan itu semua sebagai ‘CINTA’
Gadis tunarungu itu, aku mencintainya.
Bahkan dari kejauhan dapat kurasakan getaran menyakitkan itu.
Getaran yang kusesali adanya,
Getaran yang membuatku sesakit ini.

Kata hati yang tidak akan pernah dia dengar langsung dariku
Aku tutup semuanya,karena dia menjaga dirinya dari status ‘PACARAN’
Kutunggu saat dimana waktu menyatakan kami sudah dewasa dan langsung meminangnya.

Hey,
Gadis tunarungu.
Kau tau ? aku menyesal membuat sinopsis cerpen ku yang pertama.
Bukankah ceritanya semiris ini ?
Perempuan berhijab meninggalkan laki-laki yang ternyata mengaguminya.
Entah bagaimana ending kisah ini, apakah seperti yang kutulis dalam sinopsisku ? atau malah menjadi sad ending seperti synopsis yang kamu buat.

Baiklah, aku mencoba tegar sekarang. Baru mencoba, belum sepenuhnya TEGAR.
Kau tau ? aku bahkan tidak pernah membayangkan ada jalan seperti ini antara kita.
aku akan merindukanmu.
Dulu,esok, dan mungkin selamanya.

Alif.. Pengagummu..

*Author POV

Di balkon rumahnya yang mewah itu,Nabila memegang gemetar sepucuk surat yang berlembar-lembar. Tak sadar, air mata sakitnya mulai membasahi wajahnya,membentuk sungai kecil di kisaran pipinya. Rasa sakit berkecamuk dahsyat dalam batinnya.

‘ini bukan keinginanku Alif’. Lirihnya dalam hati.
Ia terbawa ke masa-masa sejak awal Ia bertemu dengan Alif,Ia bernostalgia dengan surat itu. Mengingat-ingatnya membuat Nabila tersenyum kecut, tertawa entah bahagia atau tidak.

Disapunya bening air mata yang sudah tumpah membasahi jilbabnya yang berwarna merah hingga jelas sekali titik-titik basah bekas air matanya. Ia meringis kesakitan membaca surat dari Alif matata.

Di balkon ini, di tempat terindahnya,Ia merasa sakit. Tempat yang digunakannya melepas gundah gulananya,malah menjadi saksi miris hatinya saat ini. di lemparnya pandangannya ke depan,kerlap-kerlip lampu yang menyilaukan penglihatannya. Napasnya yang sesak karena menangis belum steril, Ia masih terisak dalam.

Sesakit apa ? hanya dia dan Tuhan yang tau. Isakan tangis itu belum juga reda,pria paruh baya yang hendak menegurnya masih berdiri di belakang keponakannya yang menangis itu. Ia pun meraih Nabila dan memeluknya, mencoba meredakan tangisnya, Nabila pun tak mengelak, tangisnya tambah menjadi-jadi,Ia pun tidak tau ada apa dengan dirinya. Ia merasa sesakit ini, menerima kenyataan bahwa Ia harus berpisah dari Alif.

Gemerlap malam yang tidak semeriah malam-malam lalu sepertinya turut menangis,langit indah di atas sana nampaknya menjatuhkan bintang-bintangnya di rumah Nabila untuk memberi cahaya bahagia. Tapi sayangnya, malam itu Nabila tak henti-hentinya terisak.

*Alif POV
Kubuka buku kecil yang penuh goresan tangan Nabila. Semua synopsis yang menjadi rencana cerpennya tertulis di buku ini,membuatku senyum-senyum sendiri membacanya. Dia memang dramatis, semua ending dibuatnya sad. Bodoh,dia lihatkan sekarang, sad ending menjadi pemandangan hidupku sekarang.

Di dalam buku ini juga sudah ada tulisan tangannya dan tulisan tanganku yang sudah hampir menyelesaikan cerpen yang kami buat. Kubaca perlahan perkenalan tokoh di awal,hingga ke penokohannya. Belum masuk puncak,aku pun mulai menulis di lembaran selanjutnya di buku ini.

Besok, adalah pertemuan terakhirku dengan Nabila. ‘terakhir’ ? kata yang tidak ingin aku tau saat ini. dia memang ada di seberang, tapi itu terlalu jauh. Apa dia tidak sedih ? atau dia senang ? suratku pasti sudah sampai,kuharap dia tau bagaimana sakitnya aku sekarang ini.

Lagu ‘Jujur Aku Tak Sanggup by PASTO’ kembali mengalun indah di kamarku. Dengan iringan lagu mellow itu,aku menggerakkan jemari-jemariku di atas sebuah buku pada lembaran yang kosong. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku lebih suka menyendiri dengan lagu galau, dan sekarang, kalian tau apa yang terjadi ?

Aku menangis.
Bukan hal yang bisa aku hindari, aku memang menangis, mungkin karena aku terlalu mendalami lagu itu, atau karena tulisan yang aku buat di kertas putih ini. entah sudah berapa paragraph, air mataku terus saja berjatuhan,aku bahkan terisak miris. Begitu menyayat hatiku memang.

Aku bukannya cengeng. Tapi, bisakah kalian ada di posisiku ? aku tau, perasaan seperti ini pasti kalian rasa juga.

Pertama kalinya dalam hidupmu menemukan penyemangat. Pertama kalinya kamu teduh berada di dekatnya. Pertama kalinya hati kamu bergetar. Dan bagaimana perasaanmu saat dia akhirnya pergi menyimpan kenangan di hidup kamu. Apa kamu tidak sedih ? atau aku memang yang terlalu childish dan lebay. Entahlah,kalian pasti akan merasainya kelak.

_____

Biasan cahaya matahari pagi menusuk jauh di mataku melewati celah-celah jendela kamarku. Kusempatkan melirik jam yang berdiri di atas meja kecil samping tempat tidurku. Meski berat mataku terbuka,kayaknya sedikit sembab gara-gara nangis semalam ---Oh No,kayak cewek aja--.

Dengan berjalan sempoyongan, aku sudah mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Aku tidak akan membiarkan minggu pagi ini begitu saja, aku akan menemui Nabila,bersama dengannya untuk beberapa jam terakhir bertemu dengannya.

______

Dengan pakaian rapih,bersih,aku berjalan menuju rumah Nabila yang gak terlalu jauhlah untuk aku tempuh. 15 menit kayaknya cukup.

Dia sudah ada di depan rumahnya,kami berjalan bersama menuju tempat yang akan aku kunjungi dengannya, tempat yang juga belum diketahui pasti oleh Nabila.

Heyy,mungkin aneh, dia berhijab,tapi dengan bebas jalan berdua dengan seorang laki-laki. Aku tau, pemikiran seperti itu bisa saja muncul di pikiran orang-orang yang melihat kami, tapi kalian harus tau aku dan dia selama ini selalu berjarak hampir satu meter, bersalaman dengannya pun gak pernah, dan sekarang bukan Cuma aku berdua aja, tapi aku mengajak teman-teman yang lain di hari ini. hanya saja, karena rumahku yang satu jurusan dengan rumahnya, jadi aku yang datang menjemputnya. Kalian tau, dia sangat menjaga dirinya guys, please hapus negative-negative thinking kalian.  –jelas ????---

Sedari tadi Nabila ngoceh mulu nanya mau kemana, siapa aja yang dateng,tapi aku tidak menggubrisnya,aku hanya membiarkan dia penasaran dengan pertanyaan-pertanyaannya.

Empat puluh menit naik bis, akhirnya kita sampai. Belum sampai sih, tepatnya kita udah sampai di jalan tempat lokasi. Setelah turun dari bis, aku dan Nabila berjalan menyusuri jalan kecil yang dipenuhi aktivitas dagang pedagang kaki lima di pinggiran jalan. Kulihat Nabila menghamburkan pandangannya di sekitar jalan, dia pasti merasa asing dengan tempat ini, tempat yang lumayan jauh dari jalan raya.

Pemandangan nan hijau memanjakan mataku dan mata Nabila ketika kami berjalan sudah sedikit jauh dari keramaian,sayup-sayup burung pun terdengar indah mengiringi langkah kami.
Tadaaaa . . . .
Kita sampai.

Nabila membelalakkan matanya, kagum ? kaget ? terharu ? aku kira seperti itulah yang aku baca dari manik-manik kecilnya.

Danau yang cukup luas, dikelilingi ilalang-ilalang dan rumput-rumput yang bergoyang karena angin sepoi-sepoi,pohon rindang nan hijau menjadi pemandangan di tempat ini. tempat yang ingin aku tunjukkan pada Nabila.

Nabila bertambah kaget, ketika melihat dari kejauhan beberapa orang di dekat danau melambai-lambaikan tangan padanya. Mereka adalah teman-temanku sekaligus temannya juga.

Tapi, tunggu. . .
Ozy ?
Dia bahkan gak aku undang,ngapain dia disini ?
Tapi, its okay. Untuk hari ini biarinlah aku berada satu atap sama dia.

Karpet panjang dan lebar sudah tertata rapih di atas rerumputan di tepi danau, beberapa makanan pun menghiasi karpet luas berwarna abu-abu dengan goresan-goresan gambar kartun.

Kemeriahan pun mewarnai pagi yang cerah ini, tiga gadis tengik yang sempat mengganggu Nabila di sekolah turut bercanda ria disini, tak lupa Salsa, teman sebangku Nabila, dan satu lagi, sosok setengah ganteng yang lebih tinggi dari aku,Ozy.

Aku merasa miris dengan suasana ini, benarkah ini harus terjadi ? ditinggal orang yang sekarang mengisi relung hatiku ? tidak bisakah lebih lama lagi ? hari ini hanya menyisakan beberapa jam bersamanya. Aku gak sanggup kalau harus memikirkan hal itu, tapi apa daya, pikiran ini muncul begitu saja.

Kenapa harus ada perpisahan ? bertahanlah lebih lama lagi.

*Nabila POV
Terimakasih untuk hari ini teman-teman. Kalian tau bagaimana hari ini menjadi sejarah terindah sebelum aku berangkat ? rasa gundah hatiku yang berkecamuk, terlebih jika kuingat hal-hal indah ataupun menyedihkan selama aku satu sekolah dengan kalian.

Mungkin kalian tak mengerti bagaimana sedih dan hancurnya aku saat ini,jika bisa memberontak , aku ingin, tapi tidak bisa. Ini keharusanku sebagai anak, patuh pada apa yang orangtua hendaki. Mereka lebih tau yang terbaik untukku.

Aku mencba berlalu dengan angan-angan sederhana tentang mereka, tapi bayang mereka terlukis begitu saja dihamparan luasnya pikiranku.

Alif.
Laki-laki itu,aku tidak tau bagaimana aku menerangkan perasaanku tentangnya. Tangisku semalam benar-benar aneh, aku merasa begitu hancur membaca suratnya,membayangkan bahwa aku akan pergi darinya. Aku bingung, sungguh aku bingung. Aku tidak mengerti perasaanku sendiri.

Kupandangi dalam wajah orang-orang yang bersamaku sekarang, di tempat terindah ini, di tepi danau yang sejuk,dibawah rindangan pohon, kurasakan kasih sayang mereka yang baru saja aku rasa. Aku pasti akan merindukan hari ini, tempat ini, suasana ini.

Miris hatiku tiap mereka memberi kekuatan-kekuatan agar tetap semangat walau tanpa mereka, mereka pun mengabadikan kebersamaan terakhir ini, take picture bersama mereka, berdendang tawa bersama mereka. Kurasakan terpaan angin sejuk di antara suasana ini, berharap angin lalu itu membawa sebagian kehampaan hatiku agar hanya ada hari ini di dalamnya.

*Author POV
“kamu jangan lupain aku yaa Bil.” Peluk Salsa pada Nabila yang sejak tadi menahan air matanya. Salsa larut dalam sedihnya, Ia masih memeluk erat teman sebangkunya itu, air matanya menetes membasahi kisaran jilbab Nabila.
“emm,, a . . u . .ba . .’al . .i’at . .a . .mu . .te . .us.” jawab Nabila mengelus pundak temannya yang terisak sedih.
“akhirnya aku ngerti yang kamu bilang Bil. Makasih yaa.” Salsa melepas pelukannya dan tersenyum dipaksakan dari bibirya. Seakan mencoba tegar mendengar Nabila bilang ‘aku bakal ingat kamu terus’ barusan.
“Bil, maafin aku yaa selama ini jailin kamu terus.” Ungkap Alisha yang ikut terharu.
Nabila pun mengangguk dan memeluk Alisha dan dua dayang-dayang Alisha yang ternyata nangis juga.
“aku bakal kangen sama kamu Bil.” Ujar Ozy pula,yang dibalas senyum oleh Nabila.

Alif masih terdiam, teman-temannya yang lain sudah memberi kata-kata perpisahan pada Nabila dan tinggal dirinya yang melamun.

Salah, dia tidak melamun, dia bingung kata-kata apa yang harus dia ucapkan dalam kondisi hatinya yang sakit ini.
“emmm,,, aaaa…. Emm,semangat yaa.” Alif akhirnya ngomong juga, meski sedikit terbata-bata. Nabila pun mengangguk dan tersenyum simpul.

_____

Selepas dari danau itu, Nabila dan Alif pulang naik bis lagi. Mereka bisu, sibuk dengan khayalan masing-masing,seperti biasa, Nabila selalu duduk di dekat jendela agar bisa mengedarkan pandangannya di luar sana, sementara Alif duduk di sampingnya dengan memutar lagu dari mp3 playernya.

“ma..a..ih.” sahut Nabila ketika mereka sudah sampai di depan rumah Nabila. Alif pun mengangguk perlahan. Ia melempar senyum pada Nabila, senyum yang sangat jelas aroma sakitnya.
“aku bakal nyusul kamu nanti ke bandara,aku pulang dulu.” Pamit Alif dengan melambaikan tangannya pada Nabila yang masih berdiri melihatnya berlalu dari pandangan mata Nabila.

_______

*Alif POV
Aku menunggu pukul empat sore,sekarang baru jam dua, aku baru aja selesai shalat dzuhur. Tadinya ketiduran pas sampai rumah, untungnya langsung bangun,hampir aja kelewat waktu dzuhur.

Aku kembali memandang seisi ruangan ini. Gitar.
Benda itu tertangkap oleh lensa mataku, membuatku berjalan mengambilnya dan memainkannya perlahan.

Kupetik senarnya hingga bersenandung indah di kamarku.

…….
Hidupku kan damaikan hatimu
Diriku kan selalu menjagamu
Izinkan ku selalu bersamamu
Kasihku padamu..
………

Kunyanyikan lagu itu,membuatku tersenyum kecut. Lagu ini membawaku pada nostalgia satu bulan lalu di sekolah,bersama senyum Nabila, bersama wajah gemetarnya, bersama cueknya, bersama tangisnya, bersama langkahnya, bersama isyaratnya, bersama tawanya. Sungguh tak bisa kubayangkan bagaimana aku hari esok.

Kisah sedih di hari minggu.
Demikianlah title untuk hari ini.

15..50
Tanpa sadar, bentar lagi jam empat. Aku bergegas keluar rumah, usai berpamitan dengan mamahku aku langsung berlari menuju halte bis, sekarang ini Nabila pasti udah ada di bandara. Dengan cekatan ku hamburkan badanku ke dalam bis, berharap aku gak terlambat sampai di sana.

Sebentar saja, aku sudah ada di pintu masuk bandara,ku edarkan pandanganku di sekeliling. Luas, sangat luas,dimana aku harus menemuinya. Aku pun mencoba, berlari kecil sambil menengok kesana-kemari agar bisa kutemukan dia,kunaiki tangga,kuturuni tangga, kulewati persimpangan-persimpangan, dan akhirnya aku menemukannya.

Aku berlari ke arahnya, dia sudah rapih dengan ransel dan kopernya, dia bersama Pak Chand. Ku lepas senyum bahagia karena dia belum terbang.

“aku pikir kalian udah terbang.” Ucapku dengan sedikit terengah-engah.
“15 menit lagi giliran pesawat kami. Kami pikir kamu gak bakal dateng.” Jawab Pak Chand yang juga akan ikut bertolak ke Jepang.
“Bil, ini.” aku memberikan sabuah buku padanya. Buku yang berisi goresan-goresan tangannya dan juga goresan tanganku.
ini apa’ tanyanya.
“kemarin malam,aku nyelesaiin cerpen kita,udah cukup 50 lembar kok.” Jawabku dengan tersenyum padanya.
‘u . .da . .se .’ .ai ?” tanyanya lagi yang diliputi wajah tak percaya.
“udah. Kamu baca pas disana yaa. Jangan nangis kalau udah kamu baca, itu sad ending loh.” Candaku yan diundang tawa kecilnya.
“emm.. ma..a..ih..” sahutnya. Aku pun mengangguk.

15 menit sudah aku menemani Nabila dan Pak Chand di airport ini. sekarang pesawatnya akan terbang membawa mereka ke Jepang.

Sedih.
Melepasnya pergi adalah sesuatu yang amat menyakitkan.
Bak patung tak bisa apa-apa, aku berdiam diri di airport hingga bermenit-menit lamanya, membiarkan kakiku ngilu dan kaku. Itu masih mending, daripada sakitnya aku melepas Nabila.

Satu bulan. Bukankah itu terlalu singkat ?
Sejak hari itu, aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Dan cerpen yang kubuat,sudah kuserahkan pada guruku, kalian tau guru sastraku bilang apa ?
‘ceritanya bagus, tapi terlalu kekanak-kanakan dengan kematiannya.’
Nabila,Nabila, aku juga udah bilang, penyakit itu sesuatu yang jadul dan kekanak-kanakan. Karena kamu mau pergi aku putar balik cerpen yang sudah setengah jalan itu, menjadi cerpen dengan synopsis awal kamu. Seorang wanita yang menderita kanker, meninggal dan menyimpan luka bagi pria yang menyukainya. Entah,aku berpikir ingin menyelesaikan tema yang kamu buat, aku yakin kamu bakal kaget liat cerpennya. Berbeda 180 derajat dari kisah yang sudah kita buat. Tapi aku juga yakin, kamu pasti seneng, alurnya sesuai yang kamu inginkan.

Masih selalu ada bayang-bayang dirinya di tiap langkahku. Seminggu,dua minggu, sebulan, satu tahun, dan dua tahun. Dia masih berpijak dalam pikiran luasku.

___Flashback Off___

Aku gak tau, apa Nabila tau sekarang aku bagaimana ? seminggu dia di Jepang,aku msih sering dapat kabarnya, tapi seketika dia menghilang. Semua akunnya yang biasa aku gunakan untuk komunikasian jarak jauh tidak pernah lagi ON,sampai sekarang.

Memang aneh,ini udah dua tahun lamanya, tapi aku masih belum lupa sama dia juga, malah masih setia nunggu dia. Di antara semua matatastory yang ada, aku berharap salah satu di antara mereka adalah Nabila. Berharap ada dia di tengah desakan orang yang melihatku.

Aku selalu terdiam dalam khayal bisuku, disela kesendirianku bersama asap-asap kota yang menerkam wajahku yang semakin kusut saja.

‘Aku merindukannya’

To Be Continue
Berusaha supaya dapet feelnya,tapi belum yaa ??? maaf,maaf.. hihihi. Ini juga udah berusaha yang terbaik.
Comment kalian berharga banget.

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman