FF ME + U = LOVE [CHAPTER 3]
Titel : Me + You = Love
Author : Muthmainnah (@ienhainha)
Cast : Alif matata, Nabila
Althafunnisa (OC)
Support cast : Ozy Adriansyah,Salsa
winxs, Chand Kelvin, others OC.
Genre : friendship, romance, sad
(maybe)
*0 0
0Me + You = Love00
0*
Hari
ini, esok dan selamanya
Aku
tetap merindukannya
Chapter
3
Sorai
tepuk tangan berdendang ria di salah satu mall di Jakarta, suara menggelegar
dari Alif Matata begitu membuat para pendengarnya bersorak histeris. Usai
manggung,Alif meladeni matatastory yang berkerumunan di lantai bawah mall ini.
foto bareng,dan tanda tangan telah menjadi pekerjaan baru Alif sejak satu tahun
yang lalu.
Menjadi
artis dan diidolakan oleh masyarakat menyimpan keasyikan tersendiri bagi Alif
yang memang masih terbilang baru di dunia music. Selain On air, Alif juga
menghibur penggemarnya dalam keadaan off air.
Satu
tahun sudah sejak Ia lulus dari SMA,sekarang Ia kuliah di Universitas Indonesia
seperti harapannya,Ia mengambil jurusan Filsafat.
Selama
itu,hati Alif masih terus melayang-layang di udara bersama kenangan-kenangan
yang indah dua tahun lalu,waktu dia masih duduk di bangku kelas dua
SMA,kenangan manis bersama seorang gadis tunarungu yang keberadaannya sekarang
tidak diketahui Alif.
*Alif
POV
Aku
duduk sendiri di taman kampus yang luas ini,mendengar bait-bait lagu lewat
ponsel milikku yang kupasangi earphone agar hanya aku yang mendengar nada-nada
indah itu. Di saat sendiri seperti ini,aku tidak bisa mengelak untuk tidak
mengingatnya.
____Flashback
ON____
“pak,dia
baru sekolah satu bulan disini.” Ocehku kala kudengar pernyataan konyol guru
killer itu.
“ini
juga bukan keputusan bapak,Lif. Siapa yang tau kalau ayahnya Nabila minta
Nabila sekolah di Jepang dan melakukan terapi disana. Bapak gak bisa berbuat
apa-apa.” Ujarnya yang membuatku semakin frustasi.
Kenyataan
bahwa Nabila harus memenuhi panggilan Ayahnya untuk melanjutkan study-nya di
Jepang sekaligus melakukan terapi disana. Aku baru saja membuat cerpenku
dengannya,kami sudah meenemukan tema yang pas,yang sesuai dengan kemampuan
kami,aku baru saja dekat dengannya, dan baru saja aku ingin mengungkapkan
sesuatu padanya.
“Bil,kamu
gak mungkin pergi kan ?” tanyaku miris ketika aku bertemu langsung dengan
Nabila di café tempat kami biasa menyusun cerpen kami. Dia hanya tertunduk tak
berbicara,aku tidak bisa melihat raut wajahnya.
“Bil,jawab
aku.” Ujarku lagi.
“aku
minta maaf,tapi aku harus menuruti mau ayahku. Disana atau disini sama
saja,yang penting aku bisa sekolah. Aku juga sangat merindukan ayahku.”
Jawabnya dengan berbicara terputus-putus dan bahasa isyaratnya yang bisa
kumengerti.
“tapi,Bil.”
Aku tidak tau bagaimana bicara padanya,rasa kesal,sedih,semua campur aduk
sekarang. Bagaimana mungkin kenyataan pahit ini harus aku dengar.
‘kita masih bisa komunikasian kok.’
Jawabnya lagi.
“konyol…
sumpah ini konyol. Ini baru satu bulan Bil.” Ketusku entah bagaimana,aku tidak
bisa mengontrol perasaanku saat ini.
Besok
sore dia akan ke bandara,segala surat-surat kepindahannya sudah diurus. Kalian
tau apa yang aku rasa sekarang ini ? perempuan yang membuatku begitu
bersemangat tiap ke sekolah, perempuan yang membuatku melihat hal baru tentang
dunia. Aku senang dengan semua kekonyolan-kekonyolanku dengannya, hari-hari
berdebat dengannya,aku suka itu. Tuhaaan, apa ini kenyataan yang harus aku
terima ?
Nabila,
dia belum tau isi hatiku. Iyaa,aku akhirnya menyadari rasa kagum itu yang
sekarang berkembang menjadi benih yang mungkin bisa disebut ‘CINTA’. Aku gak
tau pasti,tapi itu kesimpulanku. Cinta monyet ? tunggu, aku udah dewasa,aku
murid Tujuh belas tahun,dan bukan hal yang tabu lagi untuk merasakan perasaan
semacam ini.
Aku
terduduk lesu di sebuah taman kota,kupandang langit sore yang sudah merona
merah, malam sebentar lagi datang,aku masih terpaku pada keadaan hatiku yang
benar-benar kacau. Usai bertemu Nabila di café biasa,aku langsung melarikan
diri ke taman yang untungnya lengang dari pengunjung. Aku butuh waktu sendiri.
Sekali
lagi,ini bukan jiwa kekanak-kanakan. Aku memang gak rela Nabila ke Jepang,sumpah
demi apa kalau ini demi kebaikannya,disini segala sesuatunya bisa diatur,
terapi ? sekolah ? dia juga punya om yang bisa jaga dia.
Kulontarkan
semua sumpah serapahku. Ohh Tuhannn, tidak bisakah dia tetap disini ?
Aku
hanya bisa mendengus kesal bersama langit sore yang menyelimuti kehampaan ku.
______
Gadis tunarungu…
aku harap kamu ingat
hari ituuu.
Wajah gelisah karena
gerbang yang sudah tertutup, tidak berteriak karena ternyata tidak bisa.
Hijab yang menutupi
wajah innocentnya
Senyum yang seketika
mampu meneduhkanku.
Kubertanya padanya
Siapa kamu ?
Kuperkenalkan
diriku,tapi dia hanya tersenyum begitu saja.
Kujelaskan padanya
sesuatu yang entah dia butuhkan atau tidak.
Rasa takut di wajahnya
sangat menggangguku,rasanya ingin memberontak pada orang yang membully-nya.
Panasss…. Saat aku
lihat dia begitu tenang,senang,bahagia dengan seorang laki-laki. Kalutku
kembali muncul saat itu.
Ku antar dia hingga ke
rumahnya,dan dia meledekku dengan senyumnya, karena aku tau kalau omnya adalah
guru di sekolah kami. Aku suka senyum itu.
Aku miris
mendengar kisahnya, gadis tunarungu itu.
Aku ingin menjaganya
dari kesedihan, dari kesepian,ingin rasanya aku bersamanya menggenggam asa
bersamanya.
Bahkan kupertaruhkan
rasa Maluku untuk menjaganya dari gadis-gadis tengik yang selalu mengganggunya.
Berdebat dengannya
hingga dua minggu. Perbedaan keinginan yang akhirnya mencuatkan
perdebatan,namun itu adalah sesuatu yang aku suka.
Menjadi dekat dengannya
lewat perbedaan-perbedaan itu.
Semakin lama ku kenal
dia,semakin lama kulihat senyumnya, dan semakin lama ku mengerti isyaratnya.
Dan aku mengaguminya.
Gadis tunarungu itu.
Dia tiba-tiba
bersembunyi di persimpangan hatiku.
Sempat tak Nampak meski
aku sadar akan hadirnya.
Suatu hari dia
menampakkan dirinya di jalanku,
Tapi dia memiriskan
hatiku,
Menyayat semua harapan
yang ada di dalamnya.
Dia akan pergi ke
tempat yang katanya lebih baik untuknya.
Dia berhenti di
jalanku,dan menyadarkanku tentang sesuatu.
Rasa sakit ini, rasa
kesal ini, rasa rindu ini,
Aku mengartikan itu
semua sebagai ‘CINTA’
Gadis tunarungu itu,
aku mencintainya.
Bahkan dari kejauhan
dapat kurasakan getaran menyakitkan itu.
Getaran yang kusesali
adanya,
Getaran yang membuatku
sesakit ini.
Kata hati yang tidak
akan pernah dia dengar langsung dariku
Aku tutup
semuanya,karena dia menjaga dirinya dari status ‘PACARAN’
Kutunggu saat dimana
waktu menyatakan kami sudah dewasa dan langsung meminangnya.
Hey,
Gadis tunarungu.
Kau tau ? aku menyesal
membuat sinopsis cerpen ku yang pertama.
Bukankah ceritanya
semiris ini ?
Perempuan berhijab
meninggalkan laki-laki yang ternyata mengaguminya.
Entah bagaimana ending
kisah ini, apakah seperti yang kutulis dalam sinopsisku ? atau malah menjadi
sad ending seperti synopsis yang kamu buat.
Baiklah, aku mencoba
tegar sekarang. Baru mencoba, belum sepenuhnya TEGAR.
Kau tau ? aku bahkan
tidak pernah membayangkan ada jalan seperti ini antara kita.
aku akan merindukanmu.
Dulu,esok, dan mungkin
selamanya.
Alif..
Pengagummu..
*Author
POV
Di
balkon rumahnya yang mewah itu,Nabila memegang gemetar sepucuk surat yang
berlembar-lembar. Tak sadar, air mata sakitnya mulai membasahi
wajahnya,membentuk sungai kecil di kisaran pipinya. Rasa sakit berkecamuk
dahsyat dalam batinnya.
‘ini
bukan keinginanku Alif’. Lirihnya dalam hati.
Ia
terbawa ke masa-masa sejak awal Ia bertemu dengan Alif,Ia bernostalgia dengan
surat itu. Mengingat-ingatnya membuat Nabila tersenyum kecut, tertawa entah
bahagia atau tidak.
Disapunya
bening air mata yang sudah tumpah membasahi jilbabnya yang berwarna merah
hingga jelas sekali titik-titik basah bekas air matanya. Ia meringis kesakitan
membaca surat dari Alif matata.
Di
balkon ini, di tempat terindahnya,Ia merasa sakit. Tempat yang digunakannya
melepas gundah gulananya,malah menjadi saksi miris hatinya saat ini. di
lemparnya pandangannya ke depan,kerlap-kerlip lampu yang menyilaukan
penglihatannya. Napasnya yang sesak karena menangis belum steril, Ia masih
terisak dalam.
Sesakit
apa ? hanya dia dan Tuhan yang tau. Isakan tangis itu belum juga reda,pria
paruh baya yang hendak menegurnya masih berdiri di belakang keponakannya yang
menangis itu. Ia pun meraih Nabila dan memeluknya, mencoba meredakan tangisnya,
Nabila pun tak mengelak, tangisnya tambah menjadi-jadi,Ia pun tidak tau ada apa
dengan dirinya. Ia merasa sesakit ini, menerima kenyataan bahwa Ia harus
berpisah dari Alif.
Gemerlap
malam yang tidak semeriah malam-malam lalu sepertinya turut menangis,langit
indah di atas sana nampaknya menjatuhkan bintang-bintangnya di rumah Nabila
untuk memberi cahaya bahagia. Tapi sayangnya, malam itu Nabila tak
henti-hentinya terisak.
*Alif
POV
Kubuka
buku kecil yang penuh goresan tangan Nabila. Semua synopsis yang menjadi
rencana cerpennya tertulis di buku ini,membuatku senyum-senyum sendiri
membacanya. Dia memang dramatis, semua ending dibuatnya sad. Bodoh,dia lihatkan
sekarang, sad ending menjadi pemandangan hidupku sekarang.
Di
dalam buku ini juga sudah ada tulisan tangannya dan tulisan tanganku yang sudah
hampir menyelesaikan cerpen yang kami buat. Kubaca perlahan perkenalan tokoh di
awal,hingga ke penokohannya. Belum masuk puncak,aku pun mulai menulis di
lembaran selanjutnya di buku ini.
Besok,
adalah pertemuan terakhirku dengan Nabila. ‘terakhir’ ? kata yang tidak ingin
aku tau saat ini. dia memang ada di seberang, tapi itu terlalu jauh. Apa dia
tidak sedih ? atau dia senang ? suratku pasti sudah sampai,kuharap dia tau
bagaimana sakitnya aku sekarang ini.
Lagu
‘Jujur Aku Tak Sanggup by PASTO’ kembali mengalun indah di kamarku. Dengan
iringan lagu mellow itu,aku menggerakkan jemari-jemariku di atas sebuah buku
pada lembaran yang kosong. Entah kenapa, akhir-akhir ini aku lebih suka
menyendiri dengan lagu galau, dan sekarang, kalian tau apa yang terjadi ?
Aku
menangis.
Bukan
hal yang bisa aku hindari, aku memang menangis, mungkin karena aku terlalu
mendalami lagu itu, atau karena tulisan yang aku buat di kertas putih ini.
entah sudah berapa paragraph, air mataku terus saja berjatuhan,aku bahkan
terisak miris. Begitu menyayat hatiku memang.
Aku
bukannya cengeng. Tapi, bisakah kalian ada di posisiku ? aku tau, perasaan
seperti ini pasti kalian rasa juga.
Pertama
kalinya dalam hidupmu menemukan penyemangat. Pertama kalinya kamu teduh berada
di dekatnya. Pertama kalinya hati kamu bergetar. Dan bagaimana perasaanmu saat
dia akhirnya pergi menyimpan kenangan di hidup kamu. Apa kamu tidak sedih ?
atau aku memang yang terlalu childish dan
lebay. Entahlah,kalian pasti akan merasainya kelak.
_____
Biasan
cahaya matahari pagi menusuk jauh di mataku melewati celah-celah jendela
kamarku. Kusempatkan melirik jam yang berdiri di atas meja kecil samping tempat
tidurku. Meski berat mataku terbuka,kayaknya sedikit sembab gara-gara nangis
semalam ---Oh No,kayak cewek aja--.
Dengan
berjalan sempoyongan, aku sudah mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Aku
tidak akan membiarkan minggu pagi ini begitu saja, aku akan menemui
Nabila,bersama dengannya untuk beberapa jam terakhir bertemu dengannya.
______
Dengan
pakaian rapih,bersih,aku berjalan menuju rumah Nabila yang gak terlalu jauhlah
untuk aku tempuh. 15 menit kayaknya cukup.
Dia
sudah ada di depan rumahnya,kami berjalan bersama menuju tempat yang akan aku
kunjungi dengannya, tempat yang juga belum diketahui pasti oleh Nabila.
Heyy,mungkin
aneh, dia berhijab,tapi dengan bebas jalan berdua dengan seorang laki-laki. Aku
tau, pemikiran seperti itu bisa saja muncul di pikiran orang-orang yang melihat
kami, tapi kalian harus tau aku dan dia selama ini selalu berjarak hampir satu
meter, bersalaman dengannya pun gak pernah, dan sekarang bukan Cuma aku berdua
aja, tapi aku mengajak teman-teman yang lain di hari ini. hanya saja, karena
rumahku yang satu jurusan dengan rumahnya, jadi aku yang datang menjemputnya.
Kalian tau, dia sangat menjaga dirinya guys, please hapus negative-negative
thinking kalian. –jelas ????---
Sedari
tadi Nabila ngoceh mulu nanya mau kemana, siapa aja yang dateng,tapi aku tidak
menggubrisnya,aku hanya membiarkan dia penasaran dengan
pertanyaan-pertanyaannya.
Empat
puluh menit naik bis, akhirnya kita sampai. Belum sampai sih, tepatnya kita
udah sampai di jalan tempat lokasi. Setelah turun dari bis, aku dan Nabila
berjalan menyusuri jalan kecil yang dipenuhi aktivitas dagang pedagang kaki
lima di pinggiran jalan. Kulihat Nabila menghamburkan pandangannya di sekitar
jalan, dia pasti merasa asing dengan tempat ini, tempat yang lumayan jauh dari
jalan raya.
Pemandangan
nan hijau memanjakan mataku dan mata Nabila ketika kami berjalan sudah sedikit
jauh dari keramaian,sayup-sayup burung pun terdengar indah mengiringi langkah
kami.
Tadaaaa
. . . .
Kita
sampai.
Nabila
membelalakkan matanya, kagum ? kaget ? terharu ? aku kira seperti itulah yang
aku baca dari manik-manik kecilnya.
Danau
yang cukup luas, dikelilingi ilalang-ilalang dan rumput-rumput yang bergoyang
karena angin sepoi-sepoi,pohon rindang nan hijau menjadi pemandangan di tempat
ini. tempat yang ingin aku tunjukkan pada Nabila.
Nabila
bertambah kaget, ketika melihat dari kejauhan beberapa orang di dekat danau
melambai-lambaikan tangan padanya. Mereka adalah teman-temanku sekaligus
temannya juga.
Tapi,
tunggu. . .
Ozy
?
Dia
bahkan gak aku undang,ngapain dia disini ?
Tapi,
its okay. Untuk hari ini biarinlah aku berada satu atap sama dia.
Karpet
panjang dan lebar sudah tertata rapih di atas rerumputan di tepi danau,
beberapa makanan pun menghiasi karpet luas berwarna abu-abu dengan
goresan-goresan gambar kartun.
Kemeriahan
pun mewarnai pagi yang cerah ini, tiga gadis tengik yang sempat mengganggu
Nabila di sekolah turut bercanda ria disini, tak lupa Salsa, teman sebangku
Nabila, dan satu lagi, sosok setengah ganteng yang lebih tinggi dari aku,Ozy.
Aku
merasa miris dengan suasana ini, benarkah ini harus terjadi ? ditinggal orang
yang sekarang mengisi relung hatiku ? tidak bisakah lebih lama lagi ? hari ini
hanya menyisakan beberapa jam bersamanya. Aku gak sanggup kalau harus
memikirkan hal itu, tapi apa daya, pikiran ini muncul begitu saja.
Kenapa
harus ada perpisahan ? bertahanlah lebih lama lagi.
*Nabila
POV
Terimakasih
untuk hari ini teman-teman. Kalian tau bagaimana hari ini menjadi sejarah
terindah sebelum aku berangkat ? rasa gundah hatiku yang berkecamuk, terlebih
jika kuingat hal-hal indah ataupun menyedihkan selama aku satu sekolah dengan
kalian.
Mungkin
kalian tak mengerti bagaimana sedih dan hancurnya aku saat ini,jika bisa
memberontak , aku ingin, tapi tidak bisa. Ini keharusanku sebagai anak, patuh
pada apa yang orangtua hendaki. Mereka lebih tau yang terbaik untukku.
Aku
mencba berlalu dengan angan-angan sederhana tentang mereka, tapi bayang mereka
terlukis begitu saja dihamparan luasnya pikiranku.
Alif.
Laki-laki
itu,aku tidak tau bagaimana aku menerangkan perasaanku tentangnya. Tangisku
semalam benar-benar aneh, aku merasa begitu hancur membaca suratnya,membayangkan
bahwa aku akan pergi darinya. Aku bingung, sungguh aku bingung. Aku tidak
mengerti perasaanku sendiri.
Kupandangi
dalam wajah orang-orang yang bersamaku sekarang, di tempat terindah ini, di
tepi danau yang sejuk,dibawah rindangan pohon, kurasakan kasih sayang mereka
yang baru saja aku rasa. Aku pasti akan merindukan hari ini, tempat ini,
suasana ini.
Miris
hatiku tiap mereka memberi kekuatan-kekuatan agar tetap semangat walau tanpa
mereka, mereka pun mengabadikan kebersamaan terakhir ini, take picture bersama mereka, berdendang tawa bersama mereka.
Kurasakan terpaan angin sejuk di antara suasana ini, berharap angin lalu itu
membawa sebagian kehampaan hatiku agar hanya ada hari ini di dalamnya.
*Author
POV
“kamu
jangan lupain aku yaa Bil.” Peluk Salsa pada Nabila yang sejak tadi menahan air
matanya. Salsa larut dalam sedihnya, Ia masih memeluk erat teman sebangkunya
itu, air matanya menetes membasahi kisaran jilbab Nabila.
“emm,,
a . . u . .ba . .’al . .i’at . .a . .mu . .te . .us.” jawab Nabila mengelus
pundak temannya yang terisak sedih.
“akhirnya
aku ngerti yang kamu bilang Bil. Makasih yaa.” Salsa melepas pelukannya dan
tersenyum dipaksakan dari bibirya. Seakan mencoba tegar mendengar Nabila bilang
‘aku bakal ingat kamu terus’ barusan.
“Bil,
maafin aku yaa selama ini jailin kamu terus.” Ungkap Alisha yang ikut terharu.
Nabila
pun mengangguk dan memeluk Alisha dan dua dayang-dayang Alisha yang ternyata
nangis juga.
“aku
bakal kangen sama kamu Bil.” Ujar Ozy pula,yang dibalas senyum oleh Nabila.
Alif
masih terdiam, teman-temannya yang lain sudah memberi kata-kata perpisahan pada
Nabila dan tinggal dirinya yang melamun.
Salah,
dia tidak melamun, dia bingung kata-kata apa yang harus dia ucapkan dalam
kondisi hatinya yang sakit ini.
“emmm,,,
aaaa…. Emm,semangat yaa.” Alif akhirnya ngomong juga, meski sedikit
terbata-bata. Nabila pun mengangguk dan tersenyum simpul.
_____
Selepas
dari danau itu, Nabila dan Alif pulang naik bis lagi. Mereka bisu, sibuk dengan
khayalan masing-masing,seperti biasa, Nabila selalu duduk di dekat jendela agar
bisa mengedarkan pandangannya di luar sana, sementara Alif duduk di sampingnya
dengan memutar lagu dari mp3 playernya.
“ma..a..ih.”
sahut Nabila ketika mereka sudah sampai di depan rumah Nabila. Alif pun
mengangguk perlahan. Ia melempar senyum pada Nabila, senyum yang sangat jelas
aroma sakitnya.
“aku
bakal nyusul kamu nanti ke bandara,aku pulang dulu.” Pamit Alif dengan
melambaikan tangannya pada Nabila yang masih berdiri melihatnya berlalu dari
pandangan mata Nabila.
_______
*Alif
POV
Aku
menunggu pukul empat sore,sekarang baru jam dua, aku baru aja selesai shalat
dzuhur. Tadinya ketiduran pas sampai rumah, untungnya langsung bangun,hampir
aja kelewat waktu dzuhur.
Aku
kembali memandang seisi ruangan ini. Gitar.
Benda
itu tertangkap oleh lensa mataku, membuatku berjalan mengambilnya dan
memainkannya perlahan.
Kupetik
senarnya hingga bersenandung indah di kamarku.
…….
Hidupku
kan damaikan hatimu
Diriku
kan selalu menjagamu
Izinkan
ku selalu bersamamu
Kasihku
padamu..
………
Kunyanyikan
lagu itu,membuatku tersenyum kecut. Lagu ini membawaku pada nostalgia satu
bulan lalu di sekolah,bersama senyum Nabila, bersama wajah gemetarnya, bersama
cueknya, bersama tangisnya, bersama langkahnya, bersama isyaratnya, bersama
tawanya. Sungguh tak bisa kubayangkan bagaimana aku hari esok.
Kisah
sedih di hari minggu.
Demikianlah
title untuk hari ini.
15..50
Tanpa
sadar, bentar lagi jam empat. Aku bergegas keluar rumah, usai berpamitan dengan
mamahku aku langsung berlari menuju halte bis, sekarang ini Nabila pasti udah
ada di bandara. Dengan cekatan ku hamburkan badanku ke dalam bis, berharap aku
gak terlambat sampai di sana.
Sebentar
saja, aku sudah ada di pintu masuk bandara,ku edarkan pandanganku di
sekeliling. Luas, sangat luas,dimana aku harus menemuinya. Aku pun mencoba,
berlari kecil sambil menengok kesana-kemari agar bisa kutemukan dia,kunaiki
tangga,kuturuni tangga, kulewati persimpangan-persimpangan, dan akhirnya aku menemukannya.
Aku
berlari ke arahnya, dia sudah rapih dengan ransel dan kopernya, dia bersama Pak
Chand. Ku lepas senyum bahagia karena dia belum terbang.
“aku
pikir kalian udah terbang.” Ucapku dengan sedikit terengah-engah.
“15
menit lagi giliran pesawat kami. Kami pikir kamu gak bakal dateng.” Jawab Pak
Chand yang juga akan ikut bertolak ke Jepang.
“Bil,
ini.” aku memberikan sabuah buku padanya. Buku yang berisi goresan-goresan
tangannya dan juga goresan tanganku.
‘ini apa’ tanyanya.
“kemarin
malam,aku nyelesaiin cerpen kita,udah cukup 50 lembar kok.” Jawabku dengan
tersenyum padanya.
‘u
. .da . .se .’ .ai ?” tanyanya lagi yang diliputi wajah tak percaya.
“udah.
Kamu baca pas disana yaa. Jangan nangis kalau udah kamu baca, itu sad ending
loh.” Candaku yan diundang tawa kecilnya.
“emm..
ma..a..ih..” sahutnya. Aku pun mengangguk.
15
menit sudah aku menemani Nabila dan Pak Chand di airport ini. sekarang
pesawatnya akan terbang membawa mereka ke Jepang.
Sedih.
Melepasnya
pergi adalah sesuatu yang amat menyakitkan.
Bak
patung tak bisa apa-apa, aku berdiam diri di airport hingga bermenit-menit
lamanya, membiarkan kakiku ngilu dan kaku. Itu masih mending, daripada sakitnya
aku melepas Nabila.
Satu
bulan. Bukankah itu terlalu singkat ?
Sejak
hari itu, aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Dan cerpen yang kubuat,sudah
kuserahkan pada guruku, kalian tau guru sastraku bilang apa ?
‘ceritanya
bagus, tapi terlalu kekanak-kanakan dengan kematiannya.’
Nabila,Nabila,
aku juga udah bilang, penyakit itu sesuatu yang jadul dan kekanak-kanakan.
Karena kamu mau pergi aku putar balik cerpen yang sudah setengah jalan itu,
menjadi cerpen dengan synopsis awal kamu. Seorang wanita yang menderita kanker,
meninggal dan menyimpan luka bagi pria yang menyukainya. Entah,aku berpikir
ingin menyelesaikan tema yang kamu buat, aku yakin kamu bakal kaget liat
cerpennya. Berbeda 180 derajat dari kisah yang sudah kita buat. Tapi aku juga
yakin, kamu pasti seneng, alurnya sesuai yang kamu inginkan.
Masih
selalu ada bayang-bayang dirinya di tiap langkahku. Seminggu,dua minggu,
sebulan, satu tahun, dan dua tahun. Dia masih berpijak dalam pikiran luasku.
___Flashback
Off___
Aku
gak tau, apa Nabila tau sekarang aku bagaimana ? seminggu dia di Jepang,aku
msih sering dapat kabarnya, tapi seketika dia menghilang. Semua akunnya yang
biasa aku gunakan untuk komunikasian jarak jauh tidak pernah lagi ON,sampai
sekarang.
Memang
aneh,ini udah dua tahun lamanya, tapi aku masih belum lupa sama dia juga, malah
masih setia nunggu dia. Di antara semua matatastory yang ada, aku berharap
salah satu di antara mereka adalah Nabila. Berharap ada dia di tengah desakan
orang yang melihatku.
Aku
selalu terdiam dalam khayal bisuku, disela kesendirianku bersama asap-asap kota
yang menerkam wajahku yang semakin kusut saja.
‘Aku
merindukannya’
To
Be Continue
Berusaha supaya dapet feelnya,tapi belum yaa ???
maaf,maaf.. hihihi. Ini juga udah berusaha yang terbaik.
Comment kalian
berharga banget.
16.49
|
Label:
FANFICTION
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Pages
Popular Posts
-
Puisi ini aku buat pada tanggal 28 Maret 2015, hari dimana aku ulang tahun, dan idola aku juga meninggal di hari sebelumnya. Olga Syahputra....
-
Annyeong!!!! Chapter VII sudah datang… Nungguin yaaa? –Enggak! L -- This is the next story of “My Mind”. Selamat membaca !!! Ti...
-
Nah, tema kali ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang sering banget kita lakukan. Tapi, tahu gak sih, kalau beberapa dari kebiasaan kita i...
-
Titel : Me + You = Love Author : Muthmainnah (@ienhainha) Cast : Alif matata, Nabila Althafunnisa (OC) Support cast : Ozy Adrians...
-
The Blue Diary Bab 5 “Fact” Buku diary itu masih terbuka dan tersimpan rapi di atas tangannya. Tapi sekarang, bada...
-
MEMBACA BASMALAH DI SETIAP MEMULAI AKTIVITAS Assalamu ’ alaikum Wr.Wb. Hallo teman-teman semua. Kali ini, aku nge-post lagi hal-h...
-
fAKTA DI BALIK BERSIN DAN MENGUAP Assalamu ’ alaikum wr. Wb. Kali ini, aku akan membahas sedikit tentang fakta dari bersin dan me...
-
JANGAN KULIAH KALAU TIDAK SUKSES (Furqon Kholid) A. Hukum-hukum kehidupan 1. Hukum kelembaman “sebuah benda ya...
-
Hayy readers… Ini FF pertamaku,maaf kalau banyak kekurangan, ini semata untuk menuangkan pikiranku … maybe bakalan garing, atau ban...
-
Chapter V datang menyambung cerita kemarin… Selamat membaca !!!! Title : My Mind Author : Muthmainn...
0 komentar:
Posting Komentar