Cerbung [The Blue Diary Bab 8]



The Blue Diary

Bab 8
“Last message”
                Sudah sangat pagi, kebetulan hari ini hari libur. Nayla dengan santai mengerjakan semua pekerjaan rumahnya. Di sudut kamar ada pula Ibunya yang tengah berseri-seri, nampaknya lebih sehatdari sebelumnya.
                Tok tok tok tok tok tok….
                Nayla menyudahi aktivitasnya. Segera Ia berjalan ke arah pintu rumahnya.
                “Assalamualaikum.” Salam Nada yang kini tersenyum sumringah di hadapan Nayla.
                “Waalaikumsalam. Tumben gak naro bunganya diem-diem.”
                “Kan bunga terakhir…”
                “Yaudah masuk yuk.!” Seru Nayla.
                Keduanya pun memasuki rumah Nayla dengan gontai.
                “Lo udah baca semua isi diarynya?” Nada membuka pembicaraan.
                “Belom… tinggal satu halaman sih.”
                “Emmm…” Sahut Nada mengerti.
                “Gue mau ketemu nyokap Lo.”
                “Oh, yaudah ayo.”
                Kedunya pun masuk di singgasana sang Ibu.
                “Assalamualaikum tante.” Sapa Nada sembari meletakkan bunga mawar merah itu di sisi Ibu Nayla.
                “Waalaikumsalam.” Jawab Ibu Nayla.
                Bersamamu, berterimakasih padamu, dan meminta maaf padamu.’
                “Ini pesannya yang terakhir?” Ibu Nayla membuka pertanyaan.
                “Iyaaa Tante.”
                “Bu. Di diary ibu, ada tulisan Ayah di  halaman terakhirnya. Ibu mau denger?” Ujar Nayla.
                Ibunya pun hanya mengangguk. Diambilnya buku diary di kamarnya. Sejurus kemudian duduk di samping Ibunya menjadi pendongeng.
                Bodoh.
            Aku adalah orang terbodoh di dunia ini. Kekuasaan benar-benar sudah membutakan mata hatiku. Tidak seharusnya kukorbankan keluargaku demi uang. Aku khilaf Feb.Kekuasaan dan uang bagaimana bisa mencukupi kebahagiaanku ? Aku terhanyut akan pengorbananku akan perusahaanku, aku minta maaf. Benar katamu, padahal aku bisa mulai dari awal lagi. Aku menyesal!!!
Maafkan aku. Sampai saat ini, aku masih mencintaimu. Sangat ingin kembali padamu, tapi tidak  mungkin lagi. Aku sudah menikah dengan wanita pilihan Ayahku, wanita yang sangat  baik, dan aku menyakitinya dengan mencintaimu. Benar-benar laki-laki yang tidak bertanggung jawab. Bukankah kamu menyesal mengenalku ? Feby, Tasya, anakku Nayla dan Nada. Maafkan Ayah…
jika Tuhan sudah ingin mencabut nyawaku sekarang, itu akan lebih baik, dari pada aku semakin melukai hati kalian semua….
Sahabat-sahabat terbaik sepanjang masa. Bisakah aku menangis ? Aku benar-benar ingin menangis sekarang, entah siapa kan mendengarnya, tapi memang kuharap tidak ada…. Aku butuh ketenangan…. Aku pun sudah lelah. Biar saja ku akhiri semuanya, hatiku sudah bertumpuk amarah pada dirikusendiri. Jika memang waktu akan menghentikanku sekarang, maka itu akan lebih baik.kuharap Tuhan kan mengampuniku, telah menyakiti orang-orang yangaku sayang. Terluka pun batin ini, sesak jiwa ini, aku rasa waktunya untuk pergi.
Feby,,, jaga Nayla. Tasya, jaga Nada. Aku menyayangi kalian….
                Ibu Nayla berlinang air matamendengar pesan terakhir suaminya mantan suaminya. Kerinduan kembali memenuhi ruang jiwanya yang sudah sekian lama kosong.
                “Tante, pesan-pesan di bunga-bunga itu buat tante.” Nada membuka suara.
                Ibu Nayla memutar pandangannya ke arah bunga-bunga mawar itu. Dengan lihai, dibacanya satu persatu kalimat-kalimat itu.
                “Bersamamulah angin pilu  ini terbang. Kecut batin penuh penyesalan, berangan kembali pada sang penjaga hati. Berbuih tangis bermakna kasih, bersalah penuh sayatan. Berlalu bersama waktu yang tak tertahan, peduli apa daku dulu ? sosok pemilik rindu ini, memeluk luka yang tertanam oleh tangan ini. Lepaskan amarah dusta belaka, lisan tak terjaga berpenjara tangis. Bersamamu, bidadari syurgaku. Pelukan derita ini, bersatu pada kata yang tak mampu terlukiskan. Menyia-nyiakan semuanya adalah salahku. Bertengger pada ranting yang akan patah, melihat duri bak jurang. Semua salahku. Merindukanmu dari kejauhan. Seseorang yang lain pun mengerti, dan kupahami dia pun sakit. Karena aku, dan semua salahku. Meninggalkanmu, dan melukainya. Matahari dunia pun tak Nampak lagi, kesusahan hati mencengkramku. Berhembus napas tak sudi, iringan tangis dan doa. Bersamamu, berterimakasih padamu, dan meminta maaf padamu.” Bacanya lembut.
“Nay…” Tegur Ibunya parau.
                “Iyaa Bu?”
                “Ayah kamu sangat baik… karena kebaikannya Ibu menyukainya pertama kali…”
                “Emmm… Nay tau kok Bu.” Jawab Nayla memendam isakannya.
                “Nada, terimakasihsudahdatang menjadi saudari tiri Nay… Nay tidak akan sendiri lagi.”
                “Sama-sama tante…”
                “Nay, Nada,,, Ibu harap kalian saling menjaga, saling mencintai, saling menghormati.”
                “Bu.” Nay menyela terisak.
                “Maafin Ibu, membiarkan kamu bertanya-tanyatentang Ayahmu,Nak.” Tambahnya lagi.
                Tangannya semakin gemetar menggenggam tangan anaknya.
                “Kalau waktu Ibu sudah, datang….” Ia menarik napas beratnya,  mencoba membuat napasnya lebih baik.
                “Bu…” Nayla semakin terisak saja.
                “Ibu tidak akan melihat kamu menikah… Tidak melihat kamu memakai seragam Dokter.”
                “Ibu ngomong  apasih… Ibu pasti ngeliat Nay pake seragam dokter… Nay janji!”
                “Emmm,,, Ibu sudah melihatmu memakai pakaian putih bersih itu,dalammimpi Ibu, kamu dengan cermat memeriksa pasienmu… kamu sudah berhasil,Nay!” Paparnya.
                “Kamu pasti akan hidup  bahagia… Nay!!! Masa lalu tidak untuk kita lupakan atau sekedar kita kenang… Masa lalu adalah guru kita yang harus kita hormati…”
                Berkali-kali Nayla hanya mmapu menganggukkan kepalanya, air matanya sudah tumpah ruah.
                “Nay!”
                “Emm?”
                “Kamu sudah Shalat?”
                “Sudah Bu.”
                “Kita Shalat dhuha berjamaah yaaa….”
                Nay tak mampu membendung tangisnya,Ia kembali mengangguk…
                Bersama Ibu, dan Nada, usai mengambil air wudhu mereka Shalat Dhuha berjamaah…
                Suasana tenang dan damai menyelimuti mereka, sejuta doa terhampar dalam sujud mereka, ribuan asa terhampar luas dalam shalat mereka.
                Mereka sudah selesai. Nayla dengan segera menghampiri ibunya di kasur.
                “Ibu minum obat, Ya… Nay buatin makanan dulu buat Ibu.”
                “Bu?” Tambahnya lagi.
                “Ibu kenapa?”
                “Ibu mau minum obat kan?”     
                “Nad, Ibu gue kok gak gerak…..” Lanjutnya mulai terisak. Seperti orang bodoh yang lunglai.
                Deg.
                “Bu…..” Nay mengguncang tubuh Ibunya.
                Dingin. Kaku. Diam. Tidak ada respon dari Ibunya, matanyatak berkedip lagi, suhutubuh yang semakin membuatnya histeris…
                “Ibuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…………” Teriaknya tanpa henti.      
                “tan… tante banguuuunn……” Ujar Nada pula.
                “aaaaaaaaaaaaaaaaaa….. Ibuuu…. Gakkk… Ibuu,,,, banguuunnn… Nay mohon….” Rintih Nayla. Wajahnya memerah, matanya  sendu, berair sakit tumpah menyapu pipinya.
                Apa daya… Ibunya sudah berada di sisi Tuhan-Nya, meninggalakn kehidupan yang sudah dijalani selama bertahun-tahun. Kini tinggal jasad kaku Ibunya dalam pandangan matanya. Sosok Ibu yang setiap hari membuatnya bahagia, Ibu yang selalu mendengarkannya, Ibu yang selalu memberi pundaknya untuknya, Ibu yang rela sakit deminya, tiada lagi sosok itu.
                INNA LILLAAHI WA INNA ILAIHI RAAJI’UN.
                Tidaklah hidup itu panjang, semua sangat singkat. Waktu kan memakan segalanya, membiarkan segalanya berlalu tanpa henti, merenggut apa yang dicintai,memanggil siapa yang disayangi, membawa apa yang dirindukan.
                Ia tak mampu lagi berkutik. Ia tersungkur ke lantai, kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya yang seakan lumpuh. Matanya tak mengering dari air mata, seperti orang frustasi yang menangis, marah, dan tertawa… Rasa sakit yang menyelubungi batinnya. Hatinya lelah, mati rasa sudah. Ingin pula rasanya Ia pergi, berhenti berjelajah di dunia yang semakin hampa baginya.
**
                Nayla berdiri di samping pusara Ibunya. Matanya sangat bengkak. Ia menatap sendu pada tanah gembur dan nisan itu.
                “Nay kan belum jadi dokter Bu…” Ucapnya pelan.
                Diusapnya tanah kuburan Ibunya, berkali-kali Ia membuang napas beratnya, tumpukan beban dan sakit mungkin sudah terbawa bersama angin. Sebelum meninggalakn tepat yang  hening itu, sejenak Ia tundukkan kepalanya, menengadahkan kedua tangannya, memanjatkan doa pada Sang Ilahi.
                Ia berjalan gontai meninggalkan pemakaman umum itu. Di sebuah danau, dihempaskannya badannya yang masih seakan mati rasa. Setumpuk duka ditampungnya dalam palung hati yang semakin lemah.
                Di kolong langit ini, dia bercerita, dia menangis, dia tersenyum… Semua memang  indah untuk Ia tinggalkan. Yaaa,,, seperti kata Ibunya, masa lalu tidak sekedar untuk dikenang atau bahkan dibuang dan dilupakan. Tapi, untuk dipertahankan dalam hati, sebagai pelajaran untuk masa depan. Ia mencoba tegar, meski belum mampu, Ia mencoba memahami meski itu sulit. Lagi dan lagi, helaan napasnya yang membumbung di udara bersama sekian butir luka yang tengah Ia rasa.
                Sudah sangat lama, dan . . .
                Kini jas dokter itu sudah melekat di tubuhnya. Di tengah rerumputan hijau, dipadu langit senja yang cerah, jas dokter itu sangat indah dipakainya. Tidak pernah menyangka, keinginan Ibunya selama ini bisa Ia wujudkan. 10 tahun sudah sejak semua terjadi, sejak Ibunya dengan senyum manis meninggalkannya, sejak Ia mengerti kehidupankedua orangtuanya, sejak Ia mengenal keluarga barunya.
                Wanita semampai itu pun menghampirinya, duduk bersamanya di antara rerumputan yang tertiup angin gemulai ini, riakan air di danau pun terdengar berbisik..
Ia menyandarkan kepalanya pada bahu saudara tirinya itu, sandaran yang sempat hilang sejak Ibunya tiada, dan kini, saudara tirinya lah, tempatnya membagi kisah, tempatnya menyandarkan keluhnya, di bahu itu, Ia menangis.
                ‘seperti yang Ibu katakan, aku akan bahagia… dan aku bahagia dengan jas dokter ini, aku bahagia dengan masa depanku, aku bahagia dengan saudara dan ibu tiriku… Bu, terimakasih… kamu yang terbaik. Aku bersamamu.’ –Nayla—
                ‘Ayah… semua membaik sekarang… Kamu pasti bahagia,bukan? Tante Feby merawat Nayla dengan begitu baik. Mamahku yang menjagaku dengan penuh kasih sayang.  Ayah,,,  kami bersamamu.’ –Nada—
**The Blue Diary**
                ‘Berbahagialah… sesungguhnya waktu yang singkat adalah kebahagiaan.”–Feby—
            ‘Biarkan semua terjadi, suatu hari nanti, ketika masanya tiba, air mata itu akan menjadi uang. Uang yang berupa senyuman yang membawa pada satu rumah berupa kebahagiaan.’–Farel—
            ‘Terluka itu indah…….Semua mengajarkan kita bahwa kehidupan itu tidak untuk disia-siakan...’–Tasya—
            ‘Rahasia bukan rahasia,,, rahasia adalah kejutan. Ketika semua terkuak, maka tinggal kita pilih, sedih atau senangkah kita akhirnya. Hidup adalah pilihan, tapi di antara pilihan ada takdir.’–Nada--
            ‘Tidak peduli sesurut apa hati ini,,, semua akan kembali pasang pada waktunya, ada sahabat yang setia menemani, ada rumah yang siap melindungi, ada sandaran yang siap menenangkan. Karena mendung tak berarti hujan.’–Nayla—
**The Blue Diary**
**END**

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman