Cerbung [The Blue Diary Bab 7]



The Blue Diary

Bab 7
“What The hell ?”
                Nayla hanya senyum-senyum sendiri membaca diary Ibunya itu. Kembali, Ia membuka lembaran selanjutnya.
                20/03/1995
            Cuma Tuhan yang tau bagaimana perasaanku saat ini. Seneng,bahagia… gak karuan deh… dia, laki-laki itu, temen yang ninggalin aku selama 10 tahun, sahabat yang membuat aku jatuh cinta, ngelamar aku?… ohh… yang benar ajaaaa… bahkan gak ada proses pacaran sama sekali, dan dia dengan so sweetnya ngelamar  akuuu ???? kuharap ini bukan mimpi.
**Flashback**
                Nayla dan Farel tengah asyik bernyanyi di taman kota. Lagu yang sudah sangat lama tidak mereka nyanyikan bersama.
                “Diam-diam aku memperhatikannya….” Farel bersuara merdu usai lagu selesai mereka nyanyikan. Feby hanya memandangnya penuh Tanya.
                “Dari jauh, aku ingin dia dekat. Berkabut suka penuhi relungku. Percaya atau tidak,semua berawal dari persahabatan. Dari sisi bahagia dia ada, dari sisi duka dia terus ada. Beriring cerita selama enam tahun. Tertanam sudah perasaan itu, berharap dia pun kam membalasnya. Ahhh,,,, tiga tahun perasaanku bersembunyi di balik hati… Takut, di dalam hatinya tidak terukir namaku… Wanita itu,,,…” Ia terhenti sejenak. Dirogoh pula sesuatu dari dalam sakunya.
                “Sudikah kamu membalas perasaanku?” Lanjutnya. Matanya tepat menatap pada sosok di hadapannya ini.
                “Rel.” Sahut Feby.
                “Will you marry me?” Lanjut Farel tersenyum penuh harap.
                Diam sejenak. Perasaannya bercampur aduk. Penuh Tanya yang sama sekali tak bisa Ia utarakan.
                “Feb… Aku serius… Sejak SMA, aku nyimpen perasaan ini. Berusaha untuk ngubur perasaan ini dalam dalam, karena kita sahabat, dan kita gak pengen hubungan kita lebih dari sekedar sahabat. Tapi, aku harus gimana, perasaan itu sama sekali gak ilang selama 10 tahun gak ngeliat kamu.” Ulasnya.
                “Feb… will you marry me?” sekali lagi Farel mengajukan pertanyaan mematikan itu.
                Feby menarik napas panjang dan dihembuskannya. Perlahan mencoba untuk menjawab pertanyaan yang sudah membuat hatinya berdebar-debar ini.
                Ia mengangguk!
                Terulas senyum sumringah dan bahagia di bibir keduanya. Perasaan tak pernah menduga kejadian seperti ini akan terjadi antara mereka.
**
                09/05/1995
Hari H pun tiba.
                Feby tampil sangat cantik di hari ini. Begitu anggun dengan pakaian adat jawa yang sangat kasual nan indah. Begitupun Farel, dengan pakaian serba putih Ia terlihat begitu gagah dan dewasa.
                Keduanya begitu bahagia mengiring pernikahan yang tidak pernah mereka bayangkan ini. Tersenyum renyah di hadapan seluruh undangan.
**
                Satu tahun menikah, Feby pun mengandung. Dengan bahagia mereka menjalani hari-hari mereka dengan penuh semangat.
                17 Oktober 1997.
                Di sebuah rumah sakit di kawasan Jakarta Timur, Feby melahirkan anak pertamanya. Penuh suka cita dan perasaan tegang. Hari yang akan menjadi awal kehidupan baru mereka, menjadi seorang Ayah dan Ibu.
                “Kamu mau kasih nama siapa?” Tanya Farel pada Feby yang masih terbaring lemah.
                “Terserah kamu.”
                “Nayla Muazara Ulfa… Bagaimana menurutmu ?” Tanya Farel tersenyum semangat.
                “Bagus. Artinya apa?”
                “Anak perempuan yang baik hati dan murah hati.”
                Lengkap sudah  kebahagiaan mereka, dengan kehadiran Nayla malaikat kecil itu di tengah-tengah mereka.
**Flashback end**
                Pagi sudah kembali menyapa. Seperti biasa, aktivitas Nayla adalah nganterin sarapan pada Ibunya, beres-beres rumah, dan selanjutnya menerima buket bunga ke-25.
                Di depan pintu rumahnya sudah tersimpan bunga mawar merah yang masih sangat segar.
                Berhembus napas tak sudi, iringan tangis dan doa’
                Demikianlah isi pesan dari bunga ke-25 itu.
                Dibawanya bunga itu kembali ke kamar Ibunya. Usai berkutat dengan tugas-tugas paginya di rumah, segera Ia melayangkan kakinya menuju sekolahnya.
                Suasana sekolah yang sempat tidak Ia lihat dan rasakan kemarin membuatnya menarik bibirnya lebar-lebar, melihat aktivitas yang tentu masih seperti biasanya.
                Dari kejauhan , Sesil sudah menunggunya di muka kelas.
                “Selamat pagi!” Sapa Nayla tersenyum.
                “Pagiii!!! Kirain Lo bolos lagi!”
                “Enggaklah… Yuuukkk!” Seru Nayla merangkul Sesil masuk ke dalam kelas.
                Keduanya kembali tenggelam dalam dunia canda yangsempat terlewatkan kemarin. Persahabatan yang memang tidak main-main di antara mereka.
                “Gue udah  baca diary nyokap gue.” Ujar Nayla.
                “Ohya? Trus?”
                “Gue ngakak, juga sedih bacanya.”
                “Udah selesai?”
                “Belom sih, tinggal beberapa lembar lagi.”
                “Gue mau baca dong.”
                “Yaudah, tapi kita lanjutin aja yaa. Gak usah mulai dari awal.”
                “Gantung dong gue.”
                “Lagian, yang sebelum-sebelumnya Cuma tahap perkenalan doang. Belum masuk konfliknya.”
                “Yaa Kalliiiii… Drama dong! !” Ocehnya.
                Nayla mengocek sesuatu dari dalam tasnya. Buku biru kini di tangannya. Kembali Ia buka lembaran berikutnya.
                02/05/1998
            Uang ? Jabatan ? karena itu kamu ninggalin aku dan Nayla ? Rel!!! sesingkat itu pikiran kamu ? kita bahkan baru nikah dua tahun, belum cukup malah… kenapa kamu lakuin ini? Apa kamu gak bisa berpikir lebih dewasa lagi ? Kita bisa mulai semua dari awal, kamu udah hampir kepala tiga, dan pikiran kamu serendah itu ? Uang? Kita emang butuh uang, tapi yang bener aja.. kamu ngorbanin hubungan kita ?
**Flashback**
                Feby dan Farel Nampak tengah serius berbincang di ruang tamu.
                “Aku capek Feb.” Keluh Farel.
                “Kegiatan kamu padet banget sih. Gak usah banyak pikiran lah Rel.”
                “Ayahku bakalan nyabut hak kepemilikanku di restaurant!” Ucapnya sendu.
                “Apa? Kok bisa?”
                Diam sejenak. Farel berkali kali membuang napas yang penuh tumpukan beban itu.
                “Kita cerai!” lanjut Farel.
                “Apa?” Feby sontak kaget mendengar ucapan suaminya itu.
                “Perusahaan butuh pengurus yang berpendidikan.”
                “Rel!” tegur Feby. Sudah Nampak air matanya di sudut sana. Tak peduli tetesannya yang kini mulai membanjiri pipinya.
                “Aku akan kehilangan semua yang sudah aku perjuangkan selama enam tahun. Aku harus menceraikanmu, Feb.” Lanjut Farel enggan.
                “Kamu bisa mulai dari awal.”
                “Susah! Aku sudah tua, ketika aku harus kembali memulai, maka kapan akan kembali kucapai ? Maafkan aku Feb. Akuuu….. akuu, gak bisa pertahanin ini.”
                “Cuma karena posisi itu? Pekerjaan kamu itu,kamu ngelepas aku dan Nayla yang baru berumur enam bulan? Heh ?” Tanyanya terisak.
                “Maafin aku Feb…” Ucap Farel pula. Ada air mata yang berjatuhan di pipinya,sesekali disekanya.
                “Jahat kamu Rel. Cuma karena uang ? Jabatan ? …..” Teriak Feby.
                Segera Ia tinggalkan ruangan yang pengap akan keadaan itu. Diraihnya buku diary yang selama ini menemani keluh kesahnya.
                02/05/1998
                Uang ? Jabatan ? karena itu kamu ninggalin aku dan Nayla ? Rel!!! sesingkat itu pikiran kamu ? kita bahkan baru nikah dua tahun, belum cukup malah… kenapa kamu lakuin ini? Apa kamu gak bisa berpikir lebih dewasa lagi ? Kita bisa mulai semua dari awal, kamu udah hampir kepala tiga, dan pikiran kamu serendah itu ? Uang? Kita emang butuh uang, tapi yang bener aja.. kamu ngorbanin hubungan kita ?
                Feby hanya terisak, membawa Nayla dalam pangkuannya. Ditatapnya dalam buah hatinya ini. Masih sangat kecil, mungil, tak tahu apa-apa.
                “Nay!!! Ayah kamu baik kok… Dia …” Ucapannya terpotong dengan kehadiran Farel di tengah-tengahnya.
                “Aku akan kembali ke rumahku, besok aku kembali buat ngurus perceraian kita!”  Ucap Farel. Sangat jelas matanya yang masih sembab.
                “Kamu serius bakalan ngelakuin itu Rel ?”
                “Sayang, Ayah pergi dulu… Besok Ayah balik lagi. Yaaa?” Ujarnya mencium kening lembut Nayla kecil dalam gendongan Feby.
                “Baik!!! Tapi hak asuh di tangan aku!”  tegas Feby.
                “Asal kamu biarin aku ketemu terus sama Nayla.”
                “Gak akan! Silakan bawa barang-barang kamu pergi.” Teriak Feby.
                Pakaian-pakaian Farel Ia lemparkan ke lantai. Buku birunya tertutup pakaian-pakaian itu, tak sengaja Farel pun mengambil buku diary Feby ke dalam kopernya. Sejurus kemudian, Farel mengangkat kakinya dari rumah ini, ada perasaan enggan, tapi menurutnya iniyang terbaik.
**Flashback end**
                Nayla terdiam kaku. Permasalahan keluarganya yang membuatnya ingin berpekik hari ini juga di sini. Tapi hatinya hanya memilih diam, membiarkan air mata itu menyirami jiwanya yang layu tak berdaya.
                “Nay…” Lirih Sesil memeluk sahabatnya yang kini berurai air mata.
                Ditumpahkannya sedihnya dalam sandaran pundak sang sahabat. Air mata yang tak henti berlinang, terisak sakit yang mengiris. Sesil menepuk-nepuk pundak Nayla, berharap dapat mengurangi sedikit rasa sakit Nayla.
**
                Nayla berbaring di tempat tidurnya, membiarkan semua lelah lepas mengudara jauh. Lelah fisik dan hatinya. Cukup menutup matanya,membawa semuanya pergi. Membubarkan satu per satu menghilang dan menjadi puing kenangan.

--TBC--

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman