Cerbung [ The Blue Diary Bab 3 ]
The Blue Diary
Bab 3
“Flower sender”
Usai Shalat subuh, Nayla membuatkan sarapan untuk
Ibunya, sejurus kemudian Ia melangkah pelan menuju ruang tamu ketika mendengar
seseorang tengah datang. Dia yakin, di luar itu pasti orang yang membawa buket
bunga.
Dengan sedikit ragu, Nayla membuka pintu rumahnya.
Berhenti!
Suasana diam tak bersuara. Nayla melongo, Ia benar-benar
mendapati orang yang selalu menaruh bunga di depan pintu rumahnya. Sementara
orang yang kini dalam posisi menjongkok diam tak berkutik. Tanpa tau harus
berbuat apa, orang itu adalah gadis yang pernah memperhatikan Nayla dari balik
pohon waktu lalu.
“Siapa Lo?” Nayla membuka suara ketika gadis itu
berdiri sejurus dengannya.
Gadis itu masih terdiam, hanya menatap Nayla.
“Maaf, Anda siapa? Setiap pagi Anda yang memberi buket bunga ?” Tanya Nayla sedikit keras.
“Nay ?” Terdengar Ibunya memanggilnya dari dalam.
“Bu, Nayla keluar sebentar Ya.” Teriak Nayla. Matanya
masih menatap tajam pada gadis ini.
Nayla menarik tangan gadis itu, mereka duduk di
sebuah kursi panjang di pinggiran kompleks.
“Jawab gue, Lo siapa, dan niat Lo apa ?” Tanya Nayla
serius.
“Gue harus
pergi, Maaf.” Jawab Gadis itu.
“Pergi ? Lo siapa, dan niat Lo apa mengirim buket
bunga ke rumah gue ?”
Gadis itu kembali diam. Dan tak berapa lama kemudian,
Ia merogoh sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah buku. Buku diary ? sepertinya
begitu. Gadis itu menyodorkan buku berwarna biru itu kepada Nayla.
“Gue Nada. Faiha Nada Zalfa.” Gadis itu beranjak dari
duduknya dan berlalu meninggalkan Nayla yang wajahnya semakin ditambah
kebingungan.
Dengan gontai Nayla kembali ke rumahnya, Ia masih
menatap buku yang dipegangnya. Buku
siapa ini ? Apa hubungannya sama gue ? Atau, apa hubungannya dengan
gadis itu, maksudnya…. Nada.
Ia kembali ke dalam rumahnya, dan segera menemui
Ibunya yang Ia tinggal beberapa menit tadi.
“Kamu dari mana Nay ?” Tanya Ibunya ketika Nayla
sudah duduk di sampingnya.
“Ada urusan sebentar Bu.” Jawabnya simple.
“Siapa yang datang barusan ?”
“Bukan siapa-siapa Bu. Tadi aku Cuma keluar ambil
bunga ini.” Jawabnya berusaha untuk lebih santai.
‘Meninggalkanmu,
dan melukainya’
Begitulah pesan pada bunga ke-23 itu.
“Nayla, buku apa itu?” Tanya Ibunya.
“Aaa…. Aku juga gak ngerti Bu buku apa. Aku ke kamar
Ya Bu.”
Ibunya menatap penuh Tanya. Pada Nayla, dan juga pada
buku yang dibawa Nayla keluar kamar. Buku itu sepertinya familiar baginya.
Usai bergegas rapi, Nayla berpamitan ke sekolah pada
Ibunya.
Di depan gerbang, Sesil sudah melambai tangan
menyambut Nayla dari kejauhan.
“Yu.” Seru Nayla merangkul sahabatnya itu menuju
kelas.
“Gue udah tau pengirim bunga itu.” Nayla membuka
pembicaraan.
“Oh Ya ? Lo kenal dia ?”
“Enggak. Namanya aja baru gue denger. Nada.”
“Nada ?”
“Yappp…dia ngasih buku gitu ke gue, tapi gue gak tau
itu buku apaan.”
“Buku masa lalu keluarga Lo kali.”
“Yang bener aja, dia siapa punya buku masa lalu keluarga
gue.”
“Ye kan kali aja neng. Lo udah baca?”
“Belom.”
“Dibaca keles.”
Nayla hanya mengerucutkan bibirnya. Keduanya masih berjalan
gontai menuju kelas mereka.
Sangat beruntung hari ini, guru di sekolah mereka
tengah rapat dan memulangkan siswa lebih awal.
Kembali menyatu dengan kebisingan kendaraan di kota
ini, bukan hanya kendaraan, tapi juga suara-suara manusia yang bisa saja jadi lirik
lagu atau mungkin sebuah novel berhalaman ratusan. Benar-benar berisik.
“Nayla…”
Seseorang memanggilnya, meskipun sangat bising,tapi
Ia dengan jelas mendengar seseorang meneriaki namanya. Nayla memutar kepalanya,
berusaha mencari sumber suara, dan tepat di depan sebuah restaurant yang berjarak sekitar dua meter dari
hadapannya dia menemukan sosok yang memanggilnya itu.
Nada.
“Kenapa ?” Tanya Nayla ketus.
“Bisa bicara sebentar ?”
Nayla hanya diam
“sebentar aja kok. Lo mau tau siapa gue kan ?” Nada
berusaha membujuk.
Keduanya pun berjalan menuju taman kota. Taman ?
Yaah, sepertinya taman memang tempat yang baik untuk mengobrol, terlebih di
tengah hati yang sedang tidak baik.
Setibanya di taman, Nada menyodorkan selembar foto
pada Nayla. Nayla hanya terbelalak, Ia sangat ingat dan mengenali siapa yang
ada di foto ini. Itu Ayahnya, tapi tidak sendiri. Di foto itu ada Ayahnya,
seorang wanita,dan juga Nada.
“Lo siapa?” Tanya Nayla bergetar.
“Setelah cerai sama nyokap Lo, bokap Lo nikah sama
nyokap gue. Gue bukan anak kandung bokap Lo, tapi gue seneng di masa-masa kecil
gue, gue ngerasain kasih sayang seorang Ayah.” Ulasnya pada Nayla.
“Seneng ? Lo seneng dan gue menderita ? Lo dapet
kasih sayang dari bokap gue, dan gue enggak sama sekali.” Ketus Nayla.
Bukan itu saja yang membuat api dalam batinnya
menyala-nyala. Cerai ? Jadi Ibu dan Ayahnya cerai, dan Ibunya Cuma bilang pergi
sebentar ? Nikah lagi ? Benar-benar membuatnya frustasi. Dan ini jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya
selama ini.
“Yaaa,,, jujur gue beruntung. Tapi di sisi lain gue
sama nyokap juga ngerasain sakit.”
“Sakit ? Yang sakit gue, nyokap gue. Kita hidup berdua
selama 16 tahun tanpa seorang ayah, tanpa seorang suami yang menafkahi.” Nayla
semakin geram, wajahnya memerah. Ia beranjak dari tempat duduknya meninggalkan
Nada di kursi taman.
“Nyokap gue yang lebih sakit.” Teriak Nada, seketika
menghentikan langkah Nayla.
“Bokap Lo masih sering nyari tau tentang Lo dan
nyokap Lo, sementara nyokap gue udah resmi sebagai istrinya. Bokap Lo lebih
sering nyeritain keluarga lamanya ketimbang memikirkan hal-hal untuk keluarga
barunya, bokap Lo sangat sering ngebuka buku diary nyokap Lo terang-terangan di
hadapan nyokap gue. Pria jahat itu gak nganggap keberadaan nyokap gue,
laki-laki itu nyia-nyiain nyokap gue. Yaaahh, mungkin sisi baiknya hanya karena
dia ngertiin gue, peduli sama gue. Tapi nyokap gue ? Di awal mungkin dia dapat
kasih sayang dari bokap, tapi itu gak berlangsung lama. Lo pikir enak digituin
? Nyokap gue sabar ngadepin bokap yang entah sayang atau enggak sama dia.” Nada
mulai terisak, bahkan tak mampu lagi untuk bersuara.
--TBC--
see you di Bab 4.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Pages
Popular Posts
-
Puisi ini aku buat pada tanggal 28 Maret 2015, hari dimana aku ulang tahun, dan idola aku juga meninggal di hari sebelumnya. Olga Syahputra....
-
Annyeong!!!! Chapter VII sudah datang… Nungguin yaaa? –Enggak! L -- This is the next story of “My Mind”. Selamat membaca !!! Ti...
-
Nah, tema kali ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang sering banget kita lakukan. Tapi, tahu gak sih, kalau beberapa dari kebiasaan kita i...
-
Titel : Me + You = Love Author : Muthmainnah (@ienhainha) Cast : Alif matata, Nabila Althafunnisa (OC) Support cast : Ozy Adrians...
-
The Blue Diary Bab 5 “Fact” Buku diary itu masih terbuka dan tersimpan rapi di atas tangannya. Tapi sekarang, bada...
-
MEMBACA BASMALAH DI SETIAP MEMULAI AKTIVITAS Assalamu ’ alaikum Wr.Wb. Hallo teman-teman semua. Kali ini, aku nge-post lagi hal-h...
-
fAKTA DI BALIK BERSIN DAN MENGUAP Assalamu ’ alaikum wr. Wb. Kali ini, aku akan membahas sedikit tentang fakta dari bersin dan me...
-
JANGAN KULIAH KALAU TIDAK SUKSES (Furqon Kholid) A. Hukum-hukum kehidupan 1. Hukum kelembaman “sebuah benda ya...
-
Hayy readers… Ini FF pertamaku,maaf kalau banyak kekurangan, ini semata untuk menuangkan pikiranku … maybe bakalan garing, atau ban...
-
Chapter V datang menyambung cerita kemarin… Selamat membaca !!!! Title : My Mind Author : Muthmainn...
0 komentar:
Posting Komentar