Cerbung [ The Blue Diary Bab 4 ]
The Blue Diary
Bab 4
“The Blue Diary”
Nayla dan Nada sudah tiba di rumah Nayla. Mereka mendudukkan
raga mereka dengan deru napas yang terbuang lega mengudara.
“Mau minum apa ?” Tanya Nayla.
“Terserah aja sih.” Jawab Nada pula.
Ppprrrrrrrrrkkkkkkkkkkkkkkkkk…….
Dari dalam kamar Ibunya suara pecahan kaca terdengar
jelas. Sontak Nayla yang tadinya akan ke dapur langsung memutar arah ke kamar
Ibunya.
“Bu, kenapa gak manggil Nayla sih.” Ujar Nayla
sembari memperbaiki posisi Ibunya yang sekarang tengah berbaring di lantai,
suaranya sedikit besar.
“Ibu gak sengaja Nay, tangan Ibu bener-bener gak kuat
tadi.” Jelas Ibunya merintih.
Dari balik pintu, Nada Nampak menyaksikan kejadian
tadi, perlahan Ia pun mendekat.
“Assalamualaikum.” Ucapnya.
“Waalaikumsalam.” Sahut Nayla dan Ibunya.
“Gue tinggal bentar yaa.” Ucap Nayla sembari membawa
pecahan gelas menuju dapur.
Nada memperhatikan Ibu Nayla dalam, sementara Ibu
Nayla memandangnya penuh Tanya. Nada pun mengedarkan pandangannya di sekeliling
kamar ini, dan tepat di hadapannya, puluhan bunga mawar tertata rapi di sana.
Bunga mawar yang setiap pagi Ia kirim ke rumah ini. Semua bahkan terawatt di
kamar ini, bunganya bermekaran.
“Kamu teman baru Nayla?” Ibu Nayla membuka
pembicaraan.
“Iyaa tante. Saya Nada.” Sahutnya sembari mengulurkan
tangan kanannya, yang disambut hangat oleh Ibu Nayla.
“Tante, sakit apa ?” Tanya Nada ragu.
“Yaa, namanya juga orang tua. Kalau tubuh udah gak
diperhatiin penyakit apapun bisa menyerang.” Jawabnya tersenyum.
“Ibu gue kena TBC.” Dari belakang Nayla menjawab pula
pertanyaan Nada dan disambut anggukan mengerti dari Nada.
“Bu, ini punya Ibu ?” dengan sigap Nayla menyodorkan
buku berwarna biru kepada Ibunya.
“Iya Nay. Kamu dapat dari mana ?” Tanyanya.
Sementara Nayla dan Nada diam membisu. Ada keraguan
untuk menjawab pertanyaan itu.
“Buku ini hilang sejak. . .” Omongan Ibunya terputus,
Ia melirik Nayla yang masih memperhatikannya.
“Sejak Ayah ninggalin rumah ini ?” dengan tegas Nayla
mencoba meneruskan kalimat Ibunya. di dalam hatinya sekarang ini masih
menceruat segelintir amarah. Amarah tentang semua fakta yang baru diketahuinya.
“Nay!” Seru Ibunya.
“Aku udah tau Bu. Ibu sama Ayah cerai sebelum usiaku
genap satu tahun. Ayah gak pernah ngunjungin kita karena dia udah punya
keluarga baru. Punya istri, punya anak.” Ketus Nayla.
“Nay.!” Sela Nada pula.
“Tante, Saya Nada, putri tiri Ayahnya Nayla.” Nada
mencoba menjelaskan dengan lembut.
Ibunya tidak berkutik, Ia melongo mendengar pengakuan
Nada.
“Bu… kenapa Ibu gak cerita sih ?” Nayla kembali
bersuara. Kali ini Ia duduk di samping Ibunya dan menggenggam tangan Ibunya.
“Maafkan Ibu Nay. Ibu sama sekali tidak bermaksud
menyembunyikannya dari kamu.” Rintih Ibunya.
Nayla terdiam sejenak dan menunduk. Membiarkan
amarahnya redam sejenak.
“Oiyaaa, Nada yang setiap pagi ngirim bunga ke rumah.
Pesan-pesan yang ada di bunga itu, katanya tulisan terakhir Ayah di notebooknya
sebelum beliau mengalami kecelakaan.” Lanjutnya.
Ibunya kembali melirik deretan bunga mawar di samping
tempat tidurnya. Ia tidak pernah menyangka, kalimat-kalimat itu ternyata dari
mantan suaminya.
“Itu belum selesai, masih ada tiga kalimat lagi.
Besok aku kirim semuanya.” Sahut Nada dengan sesungging senyuman.
“Gak usah sampai sekaligus juga, gak seru.” Celoteh
Nayla berusaha menenangkan suasana haru di kamar ini.
“Dimana Ibumu, Nad ?” Tanya Ibu Nayla.
“Di rumah Tante. Dia yang minta saya ngirim
pesan-pesan ini ke tante.” Jawabnya lagi.
“Sampaikan salam tante ya.”
“Iyaa Tante. Yaudah kalau gitu, aku pamit dulu ya,
udah sore nih.” Tambahnya.
“Iyaa.” Jawaab Nayla.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Nada pun berlalu, meninggalkan Nayla dan Ibunya di
kamar.
“Ibu istirahat Yaa.” Ujar Nayla.
Ibunya sudah berbaring, sejurus kemudian sudah menuju
alam mimpi. Nayla masih tertegun pada wajah lunglai Ibunya ini. Sangat Ia
sesalkan sempat merasa kesal akan Ibunya yang menyembunyikan semuanya darinya.
Matanya kembali tertuju pada sebuah buku biru. Buku
yang Ia berikan pada Ibunya tadi. Diambilnya buku itu,perlahan Ia membukanya.
Dengan hikmad, Ia membaca lembaran pertama.
12-02-1983
Tidak apa-apa… seseorang boleh jatuh
cinta bukan ? Jatuh cinta itu kodrat yang setiap manusia pasti pernah
merasakannya. Dan sekarang ?? sepertinya hal itu tengah aku alami. Entahlah,ini
perasaan suka atau hanya perasaan kagum semata.
**Flashback**
Feby tengah asyik membaca sebuah buku setebal 120
halaman. Dari kejauhan, Ia menyaksikan teman-temannya tengah bermain basket.
Hari ini jam olahraga, hanya saja dia sedang tidak enak badan. Di tengah
lapangan sana, ada seseorang yang selalu menarik perhatiannya. Sebut saja
Farel. Sahabat yang selalu bersamanya selama ini, sangat akrab memang, dan
perasaan suka itu tidak bisa Feby hindari. Sahabat jadi cinta ? Bisa jadi.
“Sendiri aja.” Ujar seseorang dari samping.
“Iyaaa nih.” Sahutnya simple.
“Feb, semalem aku bikin lagu. Kamu mau denger gak ?”
Tambah laki-laki itu.
“Gak usah sekarang deh. Besok aja.”
“Sekarang! Besok aku gak punya waktu.”
“Farel. Hari ini aku juga gak punya waktu.”
“Feby!” Seru Farel gereget.
“Yaudah deh. Emang sebagus apasih tuh lagu ??” Dengus
Feby menutup buku bacaannya.
“Sebagus penciptanya lah.” Jawab Farel terkekeh.
“Hehehehe, LUCU!” ketus Feby meledek.
Baginya, seperti itulah caranya meredam perasaannya,
yang tentunya tidak akan pernah terbalaskan. Sampai kapanpun, dia dan Farel
tidak menginginkan ada ikatan lebih di antara mereka selain persahabatan.
Kecuali, ketika takdir memang menghendaki mereka bersama kelak.
Jam istirahat sudah tiba. Feby dan beberapa
teman-temannya sedang berbincang-bincang
ria di halaman sekolah, kebetulan di sana memang ada beberapa bangku yang
sekarang ini mereka tempati. Tidak sedikit dendang tawa yang terlukis, seperti
remaja para umumnya, tentunya tidak ingin melewatkan waktu kebersamaan yang
ada.
Tiba-tiba saja, di tengah meriahnya canda tawa mereka
Farel datang menengahi.
“Husss, Husss….” Usir Farel pada teman-temannya.
“Apaan sih…” Sahut satu dari mereka yang turut
bergabung di acara nimbrung ini.
“Huuuuuuuuuuuusssssssssssssssshhhhhhhh….” Usir farel
semakin keras seraya menggerakkan kedua tangannya mengusir teman-temannya.
Dengusan-dengusan kesal pun terniang sepeninggal
teman-temannya, berikut pula Feby yang hendak meninggalkan tempatnya. Namun,
seketika lengannya ditarik oleh Farel.
“Weiiitssss… Mau kemana ?” Tanya Farel.
“Pergi lah, kamu kan ngusir kita.” Jawab Feby seraya
melepaskan tangannya dari pegangan Farel barusan.
“Bukan kamu, mereka doang. Kamu gimana sih. Udah ayo
duduk!” Paksa Farel.
Feby pun menurut mau sahabatnya ini. Sangat
kekanak-kanakan memang, tapi disitulah sisi bedanya Farel dengan teman-temannya
yang lain. Tingkah Farel yang selalu bisa buat dia ketawa. Cara berpikir Farel
pun cukup dewasa dan bijak. Menurutnya.
“Dengerin ya.”
Feby memperhatikan Farel baik-baik, sementara Farel
dengan lihai memetik senar gitar yang tadi dibawanya. Suara gitarnya pun
menggema di halaman sekolah ini disaksikan pula oleh beberapa murid yang lain
dari jauh. Feby hanya menyunggingkan
senyum bangga pada Farel yang kini bersuara nyaring dengan lagu yang
dinyanyikannya. Seperti penyanyi professional, bagi Feby suara Farel memang
menggelegar.
Angin gemulai menyentuh iringan syair indah yang
terucap dari bibir Farel, menggetarkan jiwa. Seperti seorang pujangga yang
sedang bersajak indah, meluluhkan hati para pemujanya. Senandung lagu yang tak ubahnya adalah isi hatinya, awan-awan
beriak ombak menari ria dalam hati dua insan ini. Jemari tak berkutik, terketuk
dalam bingkisan kotak, tertampung cerita dalam sebuah lagu. Semua tentang
kehidupan.
Deru angin dan cuaca mendung menemani keduanya,
berlagu dalam lisan, berselok dalam penglihatan, bergurau dalam pendengaran.
Setitik suara merdu itu mengalun indah menari seluas gambaran cerita yang
dilalui keduanya. Cerita cita dan cinta. Sendu mata yang tersenyum renyah,
umbaran garis horizontal yang bertengger sempurna.
Prokk proookkk prroookkk…
Feby memberikan tepukan tangan meriah usai Farel
membunyikan nada gitar terakhirnya.
“Waaahh,,, bagus bagus bagus!!” Ujar Feby.
“Aku bilang juga apa, lagunya bagus sebagus
penyanyinya lah.” Jawab Farel tersenyum.
Feby hanya mengerucutkan bibirnya meledek.
“Iyaa deh…” Jawabnya.
Keduanya masih asyik berbincang-bincang. Tidak peduli
bagaimana debaran jantung Feby sekarang ini, Ia masih terus bersikap
sebiasa-biasanya pada sahabatnya itu. Sementara Farel ? Apa Farel juga punya perasaan yang sama sepertinya
? Bisa dibilang sangat sulit ditebak. Farel sangat santun dan ramah. Siapapun
yang minta tolong, selalu ditolongnya, berteman pun gak pandang bulu. Sosok
yang memang apa adanya banget.
Sudah jam pulang. Bersama Farel, Feby berjalan menuju
sebuah pasar kota. Karena pada dasarnya dia ini memang suka baca dan hobby
nulis, dia selalu nabung buat beli buku-buku baru gitu. Tak ubahnya pula,
mereka take picture dimana-mana. Potret kebersamaan mereka emang udah diakui di
kampung ini. Hahahah.
Sementara Feby tengah berkutat dengan beberapa
buku-buku di pinggiran pasar ini, Farel berjalan ke salah satu penjual buku
yang tidak cukup jauh dari tempat Feby
berada.
Usai memilih dan memilah, sebuah buku mungil diseruputnya,
segera Ia kembali bersama Feby yang masih mencari buku yang dicarinya.
“Belum dapet ?” Tanya Farel setibanya di samping
Feby.
“Udah. Kamu dari mana ?” Tanya balik Feby usai
merogohkan buku yang dibelinya ke dalam tas.
“Di depan. Balik yuk!” Serunya.
Mereka pun berjalan dengan gontai meninggalkan
suasana pasar yang cukup ramai oleh pekikan-pekikan suara para penjual dan juga
pembeli yang pastinya tengah bertransaksi jual beli di dalam sini.
“Nih.” Farel membuka pembicaraan ditengah perjalanan
pulang mereka. Ada sebuah buku yang Ia
sodorkan pada Feby.
“Apaan nih ?” Tanya Feby menerima buku berwarna biru
itu.
“Isi hati kamu.” Canda Farel.
Feby terdiam. Isi hatinya ? Emangnya Farel tahu isi
hati Feby ?
“Maksudnya ?” Feby mencoba untuk sedikit membuang
perasaan kakunya pada Farel.
“Aduh, anak yang satu ini. Itu buku diary. Jadi,
kalau kamu lagi sedih atau seneng, tumpahin aja isi hati kamu di situ. kamu kan
jago nulis tuh, yaaa dibuatin cerita aja kisah hidup kamu.”Jelas Farel.
Hanya ada anggukan di seberang sana. Tidak ingin terlalu
berlarut-larut pada perasaannya yang
semakin kacau setiap mendapat hadiah dari Farel. Laki-laki itu teramat baik,
sangat baik dan begitu mudah menjelajahi perasaan Feby.
Mereka tiba di perempatan jalan. Rumah mereka hanya
searah sampai di perempatan ini. Feby harus meneruskan langkahnya ke arah
depan, sementara Farel berbelok ke arah kiri.
“Bye.” Ucap Farel.
“Bye.”
Sunggingan senyum terulas indah di bibir Farel. Dan
dengarlah bagaimana nada indah itu berlagu sendu dalam hati seorang Feby.
Sahabat ? dia harap segera bisa menghilangkan perasaannya ini. Kalau semakin Ia
jaga, maka akan semakin sakit dirinya nanti.
Ia sudah di rumahnya. Segera ditewaskannya dirinya
dalam pembaringannya. Ada hembusan napas berat disana, matanya memandang jauh
ke lagit-langit rumahnya.
Dia teringat pada buku yang diberikan Farel padanya,
segera dibukanya tas kecilnya itu. Buku diary berwarna biru langit dengan latar
hello kitty kini sudah ada di tangannya.
Jemarinya mulai lincah menari-nari di atas buku itu.
Tinta hitam kini terukir dalam buku kecilnya, ada segores cerita di sana.
Lembar demi lembar disapunya, dan benarlah isi hatinya sudah tumpah ruah di
dalam buku itu.
12-02-1983
Tidak apa-apa… seseorang boleh jatuh
cinta bukan ? Jatuh cinta itu kodrat yang setiap manusia pasti pernah
merasakannya. Dan sekarang ?? sepertinya hal itu tengah aku alami. Entahlah,ini
perasaan suka atau hanya perasaan kagum semata.
**Flashback end**
TBC--
see you di Bab 5 :)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Pages
Popular Posts
-
Puisi ini aku buat pada tanggal 28 Maret 2015, hari dimana aku ulang tahun, dan idola aku juga meninggal di hari sebelumnya. Olga Syahputra....
-
Annyeong!!!! Chapter VII sudah datang… Nungguin yaaa? –Enggak! L -- This is the next story of “My Mind”. Selamat membaca !!! Ti...
-
Nah, tema kali ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang sering banget kita lakukan. Tapi, tahu gak sih, kalau beberapa dari kebiasaan kita i...
-
Titel : Me + You = Love Author : Muthmainnah (@ienhainha) Cast : Alif matata, Nabila Althafunnisa (OC) Support cast : Ozy Adrians...
-
The Blue Diary Bab 5 “Fact” Buku diary itu masih terbuka dan tersimpan rapi di atas tangannya. Tapi sekarang, bada...
-
MEMBACA BASMALAH DI SETIAP MEMULAI AKTIVITAS Assalamu ’ alaikum Wr.Wb. Hallo teman-teman semua. Kali ini, aku nge-post lagi hal-h...
-
fAKTA DI BALIK BERSIN DAN MENGUAP Assalamu ’ alaikum wr. Wb. Kali ini, aku akan membahas sedikit tentang fakta dari bersin dan me...
-
JANGAN KULIAH KALAU TIDAK SUKSES (Furqon Kholid) A. Hukum-hukum kehidupan 1. Hukum kelembaman “sebuah benda ya...
-
Hayy readers… Ini FF pertamaku,maaf kalau banyak kekurangan, ini semata untuk menuangkan pikiranku … maybe bakalan garing, atau ban...
-
Chapter V datang menyambung cerita kemarin… Selamat membaca !!!! Title : My Mind Author : Muthmainn...
0 komentar:
Posting Komentar