FF My Mind [ Chapter 8 ]



Ngomong apa lagi yaaa di pembukanya??? Hahaha… udah gak tau mau ngoceh apaaa… langsung ke ceritanya aja yukkk !!!! This is . . .

Title           :  My Mind
          Author        : Muthmainnah
          Cast            : Kim Jong In (EXO), Kim Soo Jin (OC), Lee Hye Ri (OC), Soo Yoo Ra (OC), Kang Minhyuk (CNBlue)
          Genre                    : School life, family life, romance, friendship, sad (?)
          Length        :  Chaptered.

My Mind

Chapter VIII
Nyonya Kim terduduk lesu di dalam bilik kamarnya. Beberapa lukisan wajah nyata tergambar dalam cermin matanya. Sebuah foto keluarga yang menari dalam kenangannya. Suaminya, Kai, dan Soo Jin menciptakan seulas senyum dari sudut bibirnya.
___! Flashback !___
Kai sudah mantap bersama dengan beberapa koper besarnya. Sementara nyonya Kim dan Tuan Kim sudah memasang muka masam sejak dua hari yang lalu ketika Kai dan Soo Jin memutuskan untuk hijrah ke China lantaran Kai yang mendapat beasiswa untuk melanjutkan sekolah menengah atas di negeri tirai bambu itu.
“Kim Jong In, jangan memutuskan sesuatu yang hanya membuatmu semakin jauh dari kami. Kamu tahu, keputusanmu untuk tidak meneruskan perusahaan adalah kesalahan terbesar kamu?” Gertak Tuan Kim.
“Jong In-ah. Geumanhae. Kamu tidak usah menerima beasiswa itu, emh?” Pinta Ny. Kim.
“Eomma. Apa yang eomma khawatirkan? Di sana aku akan  hidup lebih baik, sebagai dancer.” Tutur Kai tersenyum.
Jong In-ah. Di sini pun kamu bisa tetap menjadi dancer, kenapa kamu harus menerima beasiswa itu? Kamu harus hidup di negeri orang.”
“Aniyo. Kalau aku di sini terus, aku tidak akan menjalani kehidupan yang aku inginkan. Aku hanya akan terpuruk bersama noona di sini.” Jawab Jong In.
“Mworagu? Terpuruk?” Ketus Tn. Kim pula, hingga tangan kanannya mengudara beberapa senti di hadapan wajah Kai.
“Appa!” Sergah Soo Jin menghentikan tangan Tn. Kim yang sudah siap menyatukan tamparannya pada pipi kanan Kai yang bahkan tidak menghindar sama sekkali.
“Eomma, Appa. Apa kalian tidak bisa memahami keinginanku? Sekalipun bukan sebagai dancer, yang jelas aku muak dengan dunia perusahaan, perbisnisan. Aku tidak suka itu. Apa kalian ingin aku mengerjakan sesuatu yang tidak sesuai dengan minatku? Perusahaan justru akan hancur kalau aku yang menanganinya.” Kai kemudian bersuara pelan, ketika Soo Jin melepas pegangannya dari tangan Tn. Kim yang sekarang hanya mendengus kesal.
“Kim Jong In. Neo paboya!!” Tambah Hye Ri dengan melempar bola basket kea rah Jong In yang melenceng beberapa senti dari samping Jong In.
“Mianhae!” Jawab Kai lemah.
“Di sana sekretaris appa akan mengawasimu. Kamu juga harus tetap belajar berbisnis di sana.”
“Mwo?”
“Appa, biarkan Kai. Aku sudah punya pengalaman berbisnis, aku yang akan melanjutkan perusahaan itu.” Ungkap Soo Jin.
“Appa awalnya percaya padamu SooJin, tapi wanita terlalu lemah untuk memimpin. Lupakan saja niatmu.” Lanjut Tuan Kim.
“Appa!!! Apa appa lupa? Aku harus meninggalkan kuliah kedokteranku hanya untuk fokus di dunia perbisnisan Ayah. Aku harus belajar ini dan itu dengan mengesampingkan segala keinginan dan hobbyku. Dan sekarang? Appa bilang wanita tidak pantas memimpin?  Jadi perbudakan Ayah selama ini terhadapku untuk apa?” Sontak wajah Soo Jin memerah. Amarah di dalam hatinya cukup besar, asap api amarahnya sudah mengudara dalam hatinya.
“Soo Jin-ah geumanhae!” Sergah Nyonya Kim pula.
“Eomma!!! Berhenti terus berada di pihak appa. Apa secuil pun keinginanmu untuk membela kami tidak ada?”
“KimSoo Jin!” Tegur Tuan Kim dengan suara lantang.
“Eomma. Appa. Hye Ri. Jinjja mianhaeyo. Kalian menyayangiku bukan? Kalian bisa melepasku untuk dunia yang aku sukai. Ini tidak buruk bukan? Aku hanya ingin memulai hal yang baru, belajar untuk kehidupanku selanjutnya, belajar untuk hidup dengan apa adanya, belajar untuk menari, belajar untuk apa yang terbaik untukku. aku tidak pergi untuk melupakan kalian.” Tutur Kai menengahi perdebatan yang tengah berlangsung.
Mereka hanya terdiam melihat Kai dan Soo Jin bersikeras untuk menerima beasiswa melanjutkan study di negeri tirai bambu itu. SooJin, semua berkat bantuannya, dia berhasil membawa Kai keluar dari kota ini.
“Mianhae!.” Lanjut Kai. Ada sepucuk pesan kecil yang Ia ulurkan pada HyeRi dan Appa eommanya.
Usai tenggelam dalam jenuh, Tuan Kim, Nyonya Kim, dan Hye Ri hanya mampu mengudarakan napas kecewanya pada Kai ketika Kai dan Soo Jin sudah menaiki taksi yang akan mengantar mereka menuju bandara.
“HyeRi-ssi, apa yang Kai katakan padamu di surat itu?” Nyonya Kim membuka suara ketika Ia menyadari laju taksi itu terlalu cepat hingga tak Nampak lagi tubuh taksi yang membawa dua anaknya itu.
‘HyeRi. Aku mungkin akan merindukan celotehmu di sana, siapa lagi yang akan mengomeliku disaat aku tidak berbalik kalau kamu panggil, siapa lagi yang akan mengunjungi danau itu selain kamu? Mianhae. Aku tidak akan lupa semuanya. Disana aku berdiri untuk sebuah mimpi yang sangat lama ingin kugapai. Tidak perlu khawatir, semua akan baik-baik saja saat aku memulai, menjalani dan mengakhiri semuanya, hingga aku kembali pada kamu dan orangtuaku.
Eomma! Appa! Jinjja cheosunhamnida!!! Kalian mungkin terlalu kejam dalam mendidik aku dan Soojin noona, geundae, aku akan merindukan saat-saat kalian memarahiku dengan segala kalimat yang mampu menyayat hatiku. Kalimat yang mungkin tak akan kudapat dari siapapun lagi di China. Aku akan kembali, untuk kalian. Untuk  senyum yang begitu mahal kudapat dari kalian. Aku dan semua akan baik-baik saja bukan?’
____! Flashback end !____
“Katanya kamu pergi tidak untuk melupakan kami Jong In-ah. Lalu kenapa kamu harus lupa segalanya?. Apa kamu tidak merindukan celotehan eomma dan appamu?” Gumam Nyonya Kim yang masih memandangi foto keluarga yang menyelinap dalam baris matanya yang kini mulai berkaca-kaca.
___!!!___
HyeRi dan Kai berjalan bersama redupnya sinar matahari siang ini. Masih ada sisa kecanggungan antara mereka setelah berurai cerita lama. Kai yang masih kikuk tetap mencerna cerita demi cerita dari HyeRi yang seringkali membuatnya nyengir kuda, atau bahkan tertawa terbahak-bahak. Adanya  sifatnya dulu yang Ia rasa geli untuk diceritakan bahkan Ia ketahui kembali.
Hura-hura hati mereka jalani, mengingat sudah sangat lama kebersamaan mereka terbuang. Kendati Kai yang masih amat sulit mengingat kenangan lalunya, HyeRi senantiasa menjadi penyetel ingatannya. Bahagia? Tentu. Keinginan Kai untuk kembali bertemu dengan Hye Ri,pemberi gantungan merpati itu sudah terwujud.
“Kai POV”
Terimakasih atas korekan yang terlupa olehku. Apakah aku seperti itu dulu? Tidak pernah mendengarkanmu saat aku menari? Mengacuhkanmu ketika aku sudah bersama music? Hahaha. Ini lucu, ternyata kecintaanku terhadap dance memang berbuih sejak awal.
Tapi, yang membuat hatiku miris, cerita tentang orangtuaku. Mereka, dengan keras menentangku dalam bidang yang ingin aku geluti dan memaksaku berbisnis meneruskan kejayaan perusahaan mereka. Dan pada saat itu, ternyata aku memberontak bahkan mengamuk sendiri dan hanya pada pelukan Soo Jin noona aku merasa tenang.
Noona?
Sekarang aku tahu kenapa noona tidak ingin aku mengingat siapa HyeRi, bagaimana eomma dan appa. Itu karena noona memang menyayangiku, dan aku sekarang mengerti maksud perkataan noona ‘HyeRi, eomma, appa, adalah orang-orang yang tidak menginginkanku berada di duniaku’. Gomapta noona. Mian, terus menyalahkanmu dan tidak berusaha memahami maksudmu yang mungkin memang sulit untuk kamu jelaskan padaku.
Hari ini, mungkin awal yang baru untuk aku. aku sudah bertemu dengan HyeRi, yang ternyata yeojachingu-ku yang selalu aku acuhkan saat menari. Yeojachingu bersama dengan orangtuaku yang tidak suka ketika aku menari.
Aku dan HyeRi memasuki sebuah toko pernak-pernik yang menjulang di antara bangunan-bangunan besar di pinggir jalan ini. Aku hanya tersenyum mengingat semua rangkaian kisah yang aku dengar darinya. Ini menyenangkan !!!!!!!
“Author POV”
Ada hal yang membuat keduanya terhenti. Di depan pintu masuk toko ketika mereka hendak keluar. Dua orang dengan seragam sekolah lengkap dengan lambang ‘Chang Senior High School’ menyelubungi penglihatan mereka. YooRa dan Minhyuk.
Dua yeoja dan dua namja itu berpaut dalam pandangan ‘kaget’ ?
“HyeRi!” Tegur Minhyuk dengan tatapan datarnya.
“Oppa, ternyata kamu di sini. Kamu tidak ke sekolah?” Yoo Ra menimpali.
“Kaja!” Seru Minhyuk seraya menarik pergelangan tangan Hye Ri yang sedari tadi hanya diam membisu dalam pandangannya.
Sementara Minhyuk dan HyeRi meninggalkan toko pernak-pernik itu, Kai masih terdiam sejenak, begitupun dengan YooRa, yang kini dalam hatinya ada gemuruh ombak yang menyapu hatinya. Pemandangan tadi? Sudah cukup membuatnya makan hati.
Kai sedikit kikuk, Yoo Ra kemudian mematikan pandangannya. Seketika, Ia berbalik meninggalkan Kai yang masih berdiri dalam kelongoan. Namun seketika pula, Ia mengikuti YooRa yang berjalan gontai meninggalkannya menyusuri trotoar. Tanpa peduli dengan panggilan Kai, YooRa tetap melanjutkan langkahnya dengan pelan namun pasti.
Gereget? Kai dengan sigap melampaui langkah YooRa yang hanya tertunduk dalam tiap langkahnya. Kai sudah berada di hadapan YooRa, membuat langkah YooRa berhenti seketika.
Masih tetap dalam keadaan tertunduk, tidak mengindahkan Kai yang sedari tadi menengok-nengok kea rah wajahnya yang tersembunyi dari balik poni semampainya.
“YooRa-ah, kenapa kamu pergi? Aku ingin cerita sesuatu padamu.” Teriak Kai dalam keheningan jalan besar kota Seoul dengan penuh semangat, lihat saja binar tawa yang bergaris indah di bibirnya.
Tanpa tahu dan mengerti, bagaimana saat ini YooRa menelan sakit hatinya, menahan remukan kertas hatinya yang mungkin sebentar lagi menjadi abu. Apapun alasan Kai jalan bersama HyeRi, bagi YooRa semua itu menyakitkan. Apa Kai tidak mampu membaca kata hati YooRa? Apa perasaan YooRa benar-benar hanya sebuah permainan bagi Kai? Dengan bangganya, Kai bersorak riang di tengah hati YooRa yang terparut akan pemandangan barusan.
 “YooRa-ah, apa kamu bisa berhenti sebentar, mengangkat wajahmu dan mendengar ceritaku? Emh?” Tutur Kai yang sama sekali tidak diindahkan oleh YooRa.
“HyeRi . . . Gadis si pemberi gantungan merpati itu. Apa kamu tidak ingin mendengarnya?” Tambah Kai.
Yoo Ra tercengang. Ia pun mengangkat wajahnya memberi tatapan pertanyaan bingung kepada Kai.
“Aku akan ceritakan semuanya. Kita ke kafe biasa ya?” Ajak Kai.
Masih sedikit canggung, YooRa tetap memberi anggukan dan berjalan di depan Kai. Kai mengumbarkan senyum indahnya dan menyamai langkahnya dengan YooRa, sementara YooRa, hanya mampu mengumbar senyum pahit disudut bibirnya.
____!!!____
Minhyuk melepas pegangannya pada HyeRi, tatapannya penuh amukan. HyeRi hanya tertunduk, mendengar segala ocehan Minhyuk.
“Bagus. Kamu tidak ke sekolah, dan jalan bareng Kai?”
“___”
“Tanpa hubungin aku? Kamu angggap aku apa? Batu?”
“____”
“Kamu suka sama Kai?”
Deg.
Pertanyaan yang membuatnya semakin gugup untuk berbicara. Pertanyaan macam apa itu?
“Pen! Kamu suka Kai?”
“Mianhae..”HyeRi mulai bersuara.
“Kai. . . dia . . .” Lanjutnya.
“___”
“Dia sahabat kecilku yang waktu itu aku ceritakan.”
“___”
“Si dancer. Sahabat kecil yang dunianya hanya dance. Dia. . . Kai.”
Ulas HyeRi serius. Minhyuk hanya melongo, terlihat dungu mendengar cerita HyeRi. Penjelasan yang pada akhirnya sedikit meredakan amarahnya lantaran HyeRi yang bolos tanpa memberitahunya lalu pergi dengan namja tan itu. Meskipun kini ada sepuing luka yang mulai tertanam dalam hatinya. Jika benih itu terus tersiram oleh luka dan luka lagi, entah tumbuh menjadi apakah luka yang mungkin akan tumbuh subur itu.
Perasaan yang mungkin lebih dari sekedar peduli akan teman. Benarkah ini? Minhyuk menyukai HyeRi?
____!!!____
Kai duduk santai di depan televisinya yang menyala tanpa suara, Ia hanya memandangi majalah-majalah yang Ia buka lembar demi lembarnya. Ada untaian senyuman di sudut bibirnya, matanya pun tersenyum, bukan karena kelucuan atau ketertarikannya pada lembaran majalah yang hanya dibukanya berkali-kali itu, melainkan karena ingatannya pada suasana kemarin. Hari yang cukup menyenangkan. Bertemu dengan HyeRi? Itu sudah menjadi keinginannya sejak lama, mengetahui siapa gadis pemberi gantungan merpati itu padanya. Ibaratnya manusia yang sepertinya terlahir kembali untuk jatuh cinta pada orang yang sama.
“Waeyeo?”
Teguran Kim Soo Jin meleburkan khayalannya, Ia hanya berbalik dengan melempar senyum semangatnya. Ada apa dengan namja ini?
“Kyaaaa, kamu baik-baik saja kan?” Tambah SooJin yang masih berdiri di samping Kai.
“____”
“Baiklah kalau kamu tidak ingin cerita.”
“Emh”
“Aaaa, kamu harus menemani noona ke supermarket hari ini, persediaan makanan kita habis. Eoh?”
“Eonje?”
“Now! Palli!” Seru Soo Jin seraya berbalik menuju kamarnya untuk bergegas. Begitupun dengan Kai yang dengan sigap pula meninggalkan tempat duduknya menuju kamarnya.
Tak berapa lama kemudian, kedua saudara itu menikmati perjalanan dengan semarak. Suasana hati keduanya Nampak lebih baik hari ini. Kali ini, mereka semakin terlihat seperti adik kakak yang saling bergurau satu sama lain. Tidak seperti hari-hari sebelumnya.
Ada kebingungan tersendiri di hati SooJin, melihat Kai yang sedari tadi amat gemar sekali tersenyum. Entah padanya atau pada siapapun yang dilihatnya di bus ini. Meski begitu, Soo Jin tidak ingin terlalu mengindahkan hal itu, karena Ia sudah bersyukur, dongsaengnya begitu semangat hari ini, terlepas dari masalah yang mungkin sedikit pelik yang sempat terjadi antara keduanya beberapa hari terakhir.
Mereka tiba di supermarket. Suasana yang tidak begitu ramai. Keduanya segera melayangkan langkah mereka memasuki supermarket, berbaur bersama beberapa pembeli yang sudah lebih dulu berada di depan jejeran rak di dalam supermarket ini.
Dengan fasih Kai dan Soo Jin memilih beberapa keperluan sehari-hari mereka. Tiba-tiba ponsel SooJin berdering dan memaksanya untuk keluar dari supermarket, menghindari kebisingan orang-orang di dalam sana, sementara Kai masih sibuk dengan beberapa buah kesukaannya di dalam.
Tak berapa lama setelah Soo Jin mengangkat telponnya, ketika Ia hendak kembali ke dalam supermarket menemani Kai, langkahnya terhenti. Sosok di hadapannya sekarang ini bukanlah orang asing, namun amat lama tidak Ia berjumpa dengan wanita paruh baya yang kini turut pula menatap dalam Soo Jin.
“Eomma!” Seru Soo Jin.

TBC—
Waahhh, semakin mendekati ending…. L Sad ending or happy ending yaaaa????
Hihihihi… See you di cahpater IX…!!!!

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Translate

About Me

Total Tayangan Halaman