FF My Mind [ Chapter 9 ]
Chapter IX akhirnya udah nae
upload.ada cerita apa selanjutnya, di detik-detik terakhir perjuangan Kai
mengingat masa lalunya??? Ini diaaaa kelanjutan ceritanya. Check it out !!!
Title
:
My Mind
Author :
Muthmainnah
Cast :
Kim Jong In (EXO), Kim Soo Jin (OC), Lee Hye Ri (OC), Soo Yoo Ra (OC), Kang
Minhyuk (CNBlue)
Genre :
School life, family life, romance, friendship, sad (?)
Length :Chaptered.
Chapter
IX
Seketika membuat matanya
berair,linangan yang akhirnya mampu membentuk sungai kecildi garis pipinya. Ia
tertegun, gelimangan rindu dalam hati keduanya berpacu dalam uraian air mata,
dari Soo Jin dan Nyonya Kim.
“Soo
Jin-ah.Bogoshippeondae!”Serak Nyonya
Kim.
“____”
“Ini benar kamu?Kamu benar-benar
di Korea?Kapan kamu pulang?Kamu bersama Kai?”Lanjut Nyonya Kim tak sabar.
“Eomma!”
“Soo Jin-ah, pulanglah bersama eomma. Eoh?”
“Mianhae.Aku belum siap untuk
kembali ke kehidupan yang sudah lama aku kubur.”
“Soo Jin-ah. Apa kamu tau, Ayah
kamu meninggal dua tahun yang lalu?” Tanya Nyonya Kim dengan nada yang cukup
tinggi sebagai gertakan bagi Soo Jin.
“Mwo?”Soo Jin tertegun.Hatinya
kembali bergemuruh.Benarkah itu?
“Geurae.Kamu memang tidak peduli
pada kami.Kamu bahkan tidak peduli pada kehidupan eomma dan appa sepeninggal
kamu dan Kai.”Tambah Nyonya Kim terisak.
“Eomma!”
“Soo Jin-ah.Sampai kapan kamu
ingin seperti ini?Sampai kapan kamu ingin membawa Kai pada kehidupan yang kamu
buat?”
“Kehidupan yang aku buat?”
Suasana haru tiba-tiba berubah
menjadi sedikit genting.Perasaan rindu dan juga amarah bercampur aduk menjadi
adonan dalam hati mereka.
“Aku sama sekali tidak
merencanakan kehidupan yang seperti ini eomma.Semua terjadi karena Tuhan
melindungi aku dan Kai dari kejahatan orang tua kami.Ini bukan perencanaan
kehidupan olehku, tapi oleh Tuhan.”Jawab Soo Jin tegas.
“Noona.Kaja!”
Kai tiba-tiba muncul dari balik
pembicaraan mereka. Sontak Soo Jin menyeka air matanya dan berbalik kea rah
Kai, sementara Nyonya Kim dengan keterpakuan memandangi Kai penuh makna.
“Ahjumma, kenapa Anda menangis?
Uljimayo! Ini !”Seru Kai ketika matanya berpapasan dengan tatapan dalam Nyonya
Kim yang kian berurai air mata sejak Kai datang di tengah-tengah dia dan Soo
Jin. Kai seraya menyodorkan sebuah tisu yang memang baru dibelinya tadi.
Nyonya Kim tidak berkutik,
matanya kian sembab saja, bola matanya memerah, ada banyak kata yang tertahan
dalam benaknya. Sangat ingin Ia utarakan pada anak bungsunya ini.
“Noona, aku sudah membayar
semuanya.Kaja!”Seru Kai kembali.
“___”
Soo Jin diam membisu.Ia hanya
menganggukkan perlahan perkataan Kai, matanya sesekali melirik Nyonya Kim yang
masih menatap dua bersaudara ini dengan penuh kegetiran.
Keduanya pun berlalu meninggalkan
Nyonya Kim yang kini menahan sesak di dalam dadanya, berusaha mendapat oksigen
yang lebih saat ini.
Kim Jong In? Kim Soo Jin? Anak
yang selama ini dirindukannya.Anak yang selama ini selalu berpatri dalam
doa-doanya pada Tuhan-nya.Kedua anaknya yang ada tapi tiada di hadapannya.Semua
seperti palsu belaka, seperti fiksi yang sangat dramatis, seperti drama yang
tak kunjung usai konfliknya.Dimana dia sekarang? Adakah kan Ia temukan jalan
untuk kembali memeluk putra putrinya itu?
Sementara itu, Soo Jin dan Kai
sudah berada di sebuah bus untuk membawa mereka kembali ke istana mereka. Kai
masih dalam keadaan bersemangat hari ini, Ia masih mendapat sisa senyum sejak
Ia bertemu dengan HyeRi kemarin. Tapi,Soo Jin?
Dia tengah menyandarkan kepalanya
pada kaca jendela bus yang lembab berkabut.Suasana di luar memang sedikit
mendung.Ia dengan jenuh memandang kosong pada punggung kursi yang ada di
hadapannya. Matanya kembali berair.
Siapa yang tidak merindukannya?
Wanita yang sangat berjasa dalam hidupnya, wanita hebat yang senantiasa
merawatnya hingga tumbuh dewasa, wanita yang cara menyampaikan kasih sayang dan
cintanya berbeda dari orang lain. Nyonya Kim. Soo Jin merindukan wanita tua
itu.Dan Tuan Kim. Ayahnya pergi sebelum Ia sempat kembali, sebelum Ia sempat
berterima kasih dan meminta maaf. ini menyakitkan baginya.
“Noona, gwaenchana?”
Teguran Kai menyadarkannya.Ia
lekas memperbaiki posisinya hingga terlihat ke’tidak apa-apaannya’ di hadapan
Kai.
“Appo?” Tanya Kai. Ia pun
meletakkan punggung tangan kanannya pada dahi noonanya yang sedikit mengumbar
senyum itu.
“Aniyo.Gwaenchana, noona hanya
sedikit lelah.” Jawab Soo Jin.
Kai pun hanya mengangguk
mengerti, Ia kembali pada keseriusannya menikmati suasana di dalam bus ini,
membiarkan kakaknya yang perlahan
mengistirahatkan pandangannya.
“Soo Jin POV”
Rindu?
Tentu saja aku merindukannya. Tiga tahun tidak bertatap muka dengan wanita tua
itu. Tapi, aku tidak ingin kembali ke dunia yang sudah menenggelamkanku dan
juga Kai. Perasaan sakit yang Kai rasa dulu, juga aku rasa. Aku marah tiap
melihat mereka, bahkan saat mendengar suaranya pun hatiku seakan terbakar.
Mengingat, bagaimana mereka merenggut apa yang aku inginkan. Membuatku tunduk
pada tiap perintah mereka, hingga aku harus meninggalkan kuliah kedokteranku
yang sejak kecil aku cita-citakan. Tapi, mereka dengan sangat fasih mengacuhkan
keberadaanku yang sudah mereka perbudak sejak bertahun-tahun. Uang dan uang.
Aku
sakit setiap mereka tidak mengerti, aku lelah setiap mereka bertindak
seenaknya, aku tidak suka saat mereka tersenyum palsu untuk sekedar merayu.
Akuu benci dunia itu, aku ingin terus hidup di duniaku yang sekarang. Hanya
bersama Kai, itu sudah lebih dari cukup, tidak peduli pada kerinduan ini, aku
masih bisa mengubur perasaann yang datang tiba-tiba itu.Bahkan di saat aku
menangis, merengek untuk berhenti, mereka peduli apa? Sebuih kasihan pun tidak
ada. Aku tidak mengerti, apa yang ada di benak mereka.
Meninggalkan
mereka? Yaaa, sepertinya itu yang telah aku lakukan. Aku ingin pergi, tidak
ingin hidup di antara keterpaksaan dan ketidaksanggupan. Aku benar-benar lelah
untuk hal itu, dan pergi adalah yang terbaik bagiku. Mungkin, yang terbaik juga
untuk Kai. Kami berada di sisi yang sama, tapi kami ingin terlepas dari sisi
yang membekam kehidupan kami. Hidup aku dan Kai bukan di sana, bersama Ayah dan
Ibuku, tapi di sini, bersama pelangi yang menuntun pada warna warni kehidupan.
Kembali
?? Aku pun ingin kembali, tapi bukan sekarang. Aku ingin kembali saaat hatiku
benar-benar sudah rapuh saat tidak ada mereka di sisiku. Bukan kerinduan, tapi
ketidaksanggupan untuk jauh dari mereka. Suatu saat nanti, saat aku sebagai
anak sudah membuka hati dan mengerti bahwa merekaadalah orangtuaku.
Tapi,
lelaki tua itu. Dia pergi sebelum semua membaik, sebelum aku dan Kai kembali.
Kenapa? Memang aku cukup lelah untuk semua hal yang pernah terjadi di masa
lalu, tapi aku juga merindukan sosoknya. Appa? Kapan terakhir kali kamu
tersenyum padaku? Aku tidak ingat kapan itu. Tapi aku masih ingat, bagaimana
bentuk cuil senyummu saat aku bermain bersamamu di taman. Ahhh, senyum yang
terlintas di benakku hanya senyummu ketika aku masih kecil, saat aku masih tidak
tahu apa-apa tentang dunia ini. Senyum sempurna yang selalu mendamaikan jiwaku.
Kuharap, itu bukan senyum terakhir Ayah padaku. Kuharap, Ayah pun masih pernah
tersenyum indah nan megah di masa-masa aku dan Kai sudah mengerti apa itu
hidup, dan apa tujuan hidup kami. Aku merindukanmu, Ayah !!!!
____!!!____
“Author POV”
Kai berjalan santai menuju ruang
dance tempatnya melatih anak-anak Chang Senior High School. Beberapa hari lagi,
kompetisi yang sebenarnya akan segera dimulai, dan semua bertarung pada
keseriusan.
Namja tan itu dengan lihai
memberikan gerakan penutupnya, sementara Minhyuk masih melihat Kai dengan wajah
datarnya di kursi panjang di sudut ruangan.
Usai memberi pelatihan, Kai
melepas muridnya, membiarkan mereka mengaplikasikan semua gerakan yang sudah
Kai ajarkan.
Kai menghampiri Minhyuk seraya
menyeka peluhnya dengan handuk kecil yang melingkar di bahu kanannya.
“Gomawo.” Seru Kang Minhyuk.
“Waeyo?”
“Sudah menjadi pelatih yang baik
untuk mereka.”
“Aaaa… Cheommanyeo!”
“Ternyata kamu si jago dance yang
selalu HyeRi ceritakan itu. Benar-benar sebuah takdir.”
“HyeRi menceritakan semuanya?”
“Emh.Apa dia ingin aku panggang
kalau tidak meceritakan semuanya?” Kekeh Minhyuk.
“Kamu menyukainya?”
“Mwo?”
“Anieyo.”
“____”
“____”
“Sudahlah, tidak perlu
dibahas.Besok lusa kompetisinya.Didik teman-temanmu dengan baik.Tugasku sudah
selesai, bukan?” Tambah Kai.
Minhyuk hanya mengangguk.Keduanya
kembali memperhatikan latihan anak-anak didikan Kai itu yang kini sudah dengan
lincah mengaplikasikan gerakan yang dicontohkan Kai beberapa bulan ini.
_____!!!!____
Ny.
Kim terduduk lesuh di depan sebuah foto yang mengambang indah dengan senyum.
Ada sebuah buket bunga segar yang menghiasi rak penyimpanan foto itu.
“Yeobu. Aku bertemu Soo Jin dan Kai. Mereka sudah
tumbuh dewasa sekarang.” Ungkapnya.
“Tapi,
Soo Jin masih enggan untuk kembali.”
“Mungkin
dia masih sangat marah pada kita, yeobu. Mian, tidak bisa membujuk mereka untuk
kembali.”
Ny.
Kim terisak, Ia memandangi kosong pada foto Tn. Kim. Bayang-bayang kerinduan
menusuk jauh di dalam kalbunya.
_____!!!!!____
____!!! Hari H, Kompetisi Dance!!!___
Suasana cukup meriah.Gempita
panggung yang diatur sedemikian rupa untuk menambah kemegahan acara kali
ini.Beberapa penonton dan pendukung pun sudah mengambil posisi, sementara itu
para peserta sudah meramaikan ruang belakang panggung.Penuh ambisi dan
semangat, semua grup berlatih dengan maksimal di backstage.
Sebut saja Kai.Salah satu dari
peserta kompetisi yang kini tengah berlatih dengann grup perwakilan
sekolahnya.Ada baris semangat yang mengukir wajahnya.
“Kim Jong In!Faiting!”Seru
seorang namja yang menepuk pundaknya dan mengumbarkan senyum semangat di
hadapan Kai.
“Eoh!Neo yeogisso?”
“Emh.Geureom.”
Kang Minhyuk memberi ulasan’smiling
eyesnya’ di hadapan namja berkulit tan ini. Gemuruh semangat tentu menyerbu
keduanya.
Beberapa saat kemudian kompetisi
pun dimulai.Satu per satu peserta mewakili sekolah masing-masing tampil di
panggung megah ini.Di hadapan tiga juri professional, dan di hadapan para
pendukung yang bersorak memberi semangat.
Beberapa baris dari penjuru depan
penonton, seorang wanita tua tengah berjalan pelan menengok ke sisi panggung,
ada senyum sempurna yang tergambar di sudut bibirnya. Seorang namja yang kini
tengah menari di atas panggung megah itu mencuri perhatiannya.Sosok namja yang
begitu lihai beradu dengan irama musik.
“Chusunhamnida!”Seru seorang
yeoja seraya membungkukkan badannya di hadapan wanita tua ini.
“Ne. Gwaenchanayo.” Sahutnya.
Mata kedua yeoja ini kembali
beradu.Pertemuan yang diiringi takdir.
“Mwoanongoya?Yeogi?” Tanya Kim
Soo Jin, yeoja yang tidak sengaja menabrak Nyonya Kim ketika Ia berjalan di
antara deret penonton.
“Soo Jin-ah. Itu Kai.” Seru
Nyonya Kim tersenyum seraya membalikkan pandangannya ke arah panggung.
“Eomma!Wae yeogisseo?”
“Eonni!”
Seorang yeoja kini berada di
antara keduanya, membuat Soo Jin melongo bingung dan kaget.
“Hye Ri?”
“Ne. Saya Lee Hye Ri. Senang eonni masih mengingat
saya.Annyeonghasaeyo!”
“Hye Ri yang membawa eomma
kesini.” Sahut Nyonya Kim.
Sementara itu, Soo Jin
menyibakkan pandangan tak suka pada Hye Ri.
“Eonni!Geumanhae.Aku sudah tahu
semuanya.Saya mengerti, kenapa Soo Jin eonni melakukan ini. Geundae, keinginan
eonni untuk menunjukkan pada eomma, geurigu appa yang sekarang sedang melihat
kita di atas sana, bahwa Kai adalah penari yang hebat. Eonni sudah melakukan
itu, eonni merawat Kai dengan baik.Kai sudah menjadi penari hebat.Kenapa eonni
tidak membawa Kai pada keluarga yang sebenarnya.Apa eonni tidak kasihan,
melihat appa, tidak bisa menikmati akhir hidupnya dengan anak-anaknya? Apa
eonni juga tega, hal yang sama terjadi dengan Nyonya Kim?” Tutur Hye Ri.
“Geumanhae!Saya tidak meminta
pendapat kamu Lee Hye Ri.”Sergah Soo Jin dengan balutan amarah dalam binar
matanya.Ia pun segera meninggalkan Nyonya Kim dan Hye Ri, di antara himpitan
penonton.
Dua jam sudah berlalu, lelah dan
penat sudah menyelimuti seluruh peserta dan juga para pendukungnya. Namun,
semua akan terbayarkan dengan pengumuman pemenang sesaat lagi. Antusias
penonton menyambut pemenang sangat berambisi, masing-masing menyerbu dengan
sorakan nama sekolah mereka.
Dua orang MC bergantian memandu
acara di atas panggung.Dengan amat pandai membuat hati para pendukung berdebar
penuh harap.
Ada kekecewaan dan sorak
kemenangan yang mewarnai penutupan acara ini, mendengar pengumuman pemenang.SMA
Ghangju lagi-lagi memegang juara bertahan, juara 1, disusul SMA Chang pada
posisi kedua, dan SMA Gyeong di posisi ke-tiga.
Sorak-sorai
menghantam penjuru kota, SM memutuskan kemenangan dance untuk mereka latih
jatuh di tangan SMA Ghangju.
Debar bangga dan senang pun
semakin dirasa oleh Kang Minhyuk dan teman-temannya. Ini kali pertama mereka
masuk dalam posisi tiga besar pada kompetisi dance antar sekolah se-Korea
Selatan, terlebih kompetisi kali ini benar-benar kompetisi akbar
yang benar-benar menjadi antusias para warga Korea Selatan. Ucapan terimakasih mereka pada
Kai pun tak lepas.
“Selanjutnya, pengumuman dancer
terbaik”
“Wooooooooo”
“Pemenang
dancer kali ini, akan langsung mengikuti trainee di SM. Chukkhae. Siapa yaa?”
Riuh dan semangat menyambut
pemenang dancer terbaik tahun ini.
“Beri tepukan yang meriah untuk .
. .”
“___”
“Kim . . .”
“Jong In dari Ghangju Senior High
School…”
Teriakan histeris pun mewarnai
kemeriahan malam ini. Urat-urat bahagia terbesit indah dalam wajah Kai, Kim Soo
Jin, Soo Yoo Ra, Kang Minhyuk, dan juga wanita tua yang dengan jeli mengamati
wajah anak bungsunya itu.
Kai berjalan menaiki tangga
panggung yang dihiasi kerlap kerlip lampu, ada perasaan senang dan bingung
dalam hatinya saat ini.Kebanggaan, haru, semua campur aduk. Ini
adalah mimpinya, ini adalah dunia yag Ia cari.
“Kim Jong In, apa yang ingin kamu
sampaikan di kemenangan kamu hari ini? Hasaeyo!”
“Terimakasih.”
“____”
“Suatu
kebanggan yang benar-benar berarti. Hari ini dan seteusnya, aku akan berusaha
untu memberikan yang terbaik, dan berjuang bersama dengan dancer-dancer terbaik
dunia. Terimakasih, untuk SM Entertainment, kalian tahu, ini adalah hari
terbaik yang pernah ada. Menjadi bagian dari kalian adalah dunia terhebat bagi
saya. Harap terus latih saya untuk menyusuri dunia dance yang lebih baik. Mari
terus mencari bibit-bibit baru di negeri ini. Saranghaja.....” Papar Kai.
“geurigu, Terimakasih untuk Soo Jin noona,
yang selama ini sudah menjadi penyemangat disaat aku lengah dalam berlatih.
Terimakasih sudah menggertakku ketika aku begitu keras kepala mengabaikan
kata-kata noona.” Tambahnya.
Soo Jin tersenyum bangga melihat
Kai berdiri di depan sana, menerima piala kemenangan di atas panggung megah
itu. Sementara di sisi lain, ada Nyonya Kim yang tersenyum getir dengan wajah
sendu melihat Kai. Perasaan berkecamuk pun dirasainya, senang dan menyesal.Ia
pun beranjak, bergegas berbalik meninggalkan posisinya.
“Eomma!”Seru Kai yang seketika
membuat Nyonya Kim berhenti.
“Appa!” Lanjut Kai.
“Entah mereka dimana. Di Syurga?
Di Benua Amerika? Di Benua Asia? Atau .
. . Di sini?”
“___”
“akupun tidak pernah tahu dan
tidak pernah ingat bagaimana dan seperti apa kalian. Wajah atau senyum yang
mungkin akan begitu hangat untuk aku pandangi. Entah seperih apa waktu itu
kehidupanku, hingga Tuhan tidak mengizinkanku untuk mengingat mereka. Dua orang
yang tentunya amat berjasa dalam hidupku.Bagaimana binar wajah mereka? Seperti
apa kehangatan senyum mereka? Apa yang senantiasa mereka berikan kepadaku?
Membayangkannya pun itu sedikit susah. Sekarang dan dulu, adalah dua hal yang
amat berbeda.Kehidupan yang sangat getir untuk aku jalani.Esok, mungkin saat
ingatan ini kembali, aku berharap ingatan buruk tentang mereka hilang, hingga
aku hanya bisa merasa senang saat mereka ada.Terimakasih, semua karena do’a
do’a mereka aku memperoleh piala ini.”
“Eomma! Appa! Bogoshippeosseo!”
Lanjut Kai.
Suasana
haru tiba-tiba mencekam tiap inci hati makhluk-makhluk yang tengah menyaksikan
kemenangan Kai malam ini.Begitupun SooJin dan Nyonya Kim, yang kini berurai air
mata di tempat mereka masing-masing.Gemetar tangan mereka, Kai pun sedikit
berkaca-kaca namun itu masih tertahan dalam bola matanya.
TBC—
Kai . . . Percaya deh,
ada atau tidak ada eomma dan appamu di dekatmu saat ini, kasih sayang mereka
jauh lebih besar dari apa yang pernah kamu
bayangkan..
Hwaiting Kai …. Chukkhaeyo,jadidancer terbaik nih ye di FF gue. Hihihi.
Eottae chingudeul??? Wahhh, ending sudah di depan
mataaaa….
20.05
|
Label:
FANFICTION
|
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Diberdayakan oleh Blogger.
Followers
Pages
Popular Posts
-
Puisi ini aku buat pada tanggal 28 Maret 2015, hari dimana aku ulang tahun, dan idola aku juga meninggal di hari sebelumnya. Olga Syahputra....
-
Annyeong!!!! Chapter VII sudah datang… Nungguin yaaa? –Enggak! L -- This is the next story of “My Mind”. Selamat membaca !!! Ti...
-
Nah, tema kali ini adalah kebiasaan-kebiasaan yang sering banget kita lakukan. Tapi, tahu gak sih, kalau beberapa dari kebiasaan kita i...
-
Titel : Me + You = Love Author : Muthmainnah (@ienhainha) Cast : Alif matata, Nabila Althafunnisa (OC) Support cast : Ozy Adrians...
-
The Blue Diary Bab 5 “Fact” Buku diary itu masih terbuka dan tersimpan rapi di atas tangannya. Tapi sekarang, bada...
-
MEMBACA BASMALAH DI SETIAP MEMULAI AKTIVITAS Assalamu ’ alaikum Wr.Wb. Hallo teman-teman semua. Kali ini, aku nge-post lagi hal-h...
-
fAKTA DI BALIK BERSIN DAN MENGUAP Assalamu ’ alaikum wr. Wb. Kali ini, aku akan membahas sedikit tentang fakta dari bersin dan me...
-
JANGAN KULIAH KALAU TIDAK SUKSES (Furqon Kholid) A. Hukum-hukum kehidupan 1. Hukum kelembaman “sebuah benda ya...
-
Hayy readers… Ini FF pertamaku,maaf kalau banyak kekurangan, ini semata untuk menuangkan pikiranku … maybe bakalan garing, atau ban...
-
Chapter V datang menyambung cerita kemarin… Selamat membaca !!!! Title : My Mind Author : Muthmainn...
0 komentar:
Posting Komentar